Proyek Gasifikasi Batu Bara ke Metanol BEC Beroperasi Penuh 2030
PT Bumi Etam Chemical (BEC) mengonfirmasi bahwa proyek hilirisasi batubara menjadi metanol akan mencapai fase operasi penuh pada tahun 2030. Sebelumnya
Proyek Konversi Batubara ke Metanol BEC Siap Beroperasi Penuh Tahun 2030
Wartanaya.com – PT Bumi Etam Chemical (BEC) mengonfirmasi bahwa proyek hilirisasi batubara menjadi metanol akan mencapai fase operasi penuh pada tahun 2030. Sebelumnya, fasilitas yang berlokasi di Kalimantan Timur ini dijadwalkan memulai proses uji coba atau komisioning pada tahun 2029.
Perusahaan patungan ini merupakan kolaborasi antara PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Istana Karang Laut (IKL), serta China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC). Rio Supin, selaku Presiden Direktur BEC, menyampaikan bahwa target produksi komersial mencapai dua juta ton metanol per tahun.
“Di Tahun 2030 (harapannya) proyek ini secara komersial bisa memproduksi (metanol) 2 juta ton per tahun,” ujar Rio Supin saat menghadiri acara penandatanganan FEED dan EPCC di Jakarta, Rabu (29/7).
Sejarah dan Regulasi Proyek
Pengembangan fasilitas coal-to-methanol oleh BEC sejalan dengan kewajiban peningkatan nilai tambah batubara yang diemban Arutmin dan KPC. Inisiatif ini juga mendukung kebijakan hilirisasi nasional dengan mengubah batubara menjadi metanol sebagai bahan baku berbagai sektor industri seperti petrokimia, energi, manufaktur, serta industri turunannya.
Rio Supin menjelaskan bahwa proyek ini telah melalui perjalanan panjang. Upaya awal sebenarnya dimulai dua dekade silam ketika KPC mulai mencari lokasi dan menyusun rencana pengembangan hilirisasi batubara. Rencana tersebut terus berlanjut hingga akhirnya KPC dan Arutmin memutuskan membentuk unit usaha baru pada tahun 2023 untuk menjalankan proyek di Indonesia.
Pendirian BEC sesuai dengan Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 dan PP 96 tahun 2021. Kedua aturan tersebut memungkinkan perusahaan dengan kewajiban hilirisasi untuk bekerja sama dengan syarat pemegang saham harus menjaga kepemilikan langsung sebesar 25%.
Pada tahun 2023, PT Bumi Etam Chemical juga ditetapkan oleh Menko Perekonomian sebagai salah satu proyek strategis nasional berdasarkan Permenko Perekonomian nomor 8 tahun 2023.
Detail Teknis dan Investasi
Setelah pendirian BEC, pengembangan proyek terus berlanjut. Rio Supin menyebutkan bahwa BEC saat ini telah memiliki izin dan memenuhi kebutuhan dasar. Proyek yang diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari US$ 2,3 miliar atau setara Rp 41,5 triliun (dengan kurs Rp 18.056 per dolar AS) akan dibangun di Batuta Chemical Industrial Park.
“Sebenarnya dari 2020 telah kami mulai (proyeknya) tetapi sempat vakum, dan di 2025 lalu kami lakukan kembali pematangan lahan. Lokasi proyek berada di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, dekat dengan pelabuhan PT KPC,” ujarnya.
Ketika beroperasi penuh, proyek ini akan memproduksi dua juta ton metanol per tahun pada tahap pertama. Namun, pada kapasitas maksimal, KPC dan Arutmin menargetkan produksi hingga 3,6 juta ton metanol per tahun.
Proyek ini juga menghasilkan produk samping berupa sulfuric acid. Rencananya, fasilitas tersebut akan menggunakan batubara kalori rendah dengan kandungan 3.300 kcal/kg GAR.
Kontrak dan Target Pasar
Hari ini, BEC telah menandatangani kontrak untuk tahap perencanaan dan desain teknis awal (FEED) serta kontrak untuk tahap pengadaan, pembangunan, dan pengoperasian awal (EPCC).
“Setelah penandatanganan EPCC dan FEED ini, kami masih harus melalui langkah panjang. Kami akan menuju tahap rekayasa semoga tidak lama lagi akan memasuki tahap groundbreaking proyek fisik di masa yang akan datang,” ucapnya.
Rio Supin menyatakan bahwa produk metanol dari proyek gasifikasi batubara akan dipasarkan untuk kebutuhan domestik. Hal ini bertujuan untuk mensubstitusi impor metanol yang saat ini mendominasi kebutuhan dalam negeri.
“Jadi target utama kami memang dari awal untuk mengganti impor, tujuan utamanya pasar domestik,” kata Rio.
Berdasarkan data BPS, kebutuhan metanol Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 1,3 juta ton atau 68%-nya dipenuhi melalui impor.
Rio Supin menambahkan bahwa berdasarkan data kebutuhan, impor, dan hasil studi yang dilakukan, perusahaan memutuskan untuk melakukan hilirisasi batubara menjadi metanol.
“Pada 2025, kita menghabiskan devisa sekitar US$ 400 juta per tahun untuk impor metanol. Nilai impor ini setara Rp 7,1 triliun,” ujarnya.
Rio Supin juga menyebutkan bahwa kondisi geopolitik dan perang Timur Tengah yang berlangsung tahun ini menyebabkan harga metanol naik secara signifikan. Dengan situasi tersebut, diperkirakan jumlah devisa Indonesia yang keluar untuk impor metanol akan semakin besar.
