Mengapa GOTO Masih Bertahan di Indeks Utama BEI, meski Likuiditas Disorot MSCI?
Walaupun likuiditasnya menjadi perhatian lembaga indeks global, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil mempertahankan posisinya sebagai konstituen dalam
GOTO Tetap Berada di Indeks Utama BEI: Analisis Mendalam Setelah Sorotan MSCI
Wartanaya.com – Walaupun likuiditasnya menjadi perhatian lembaga indeks global, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil mempertahankan posisinya sebagai konstituen dalam berbagai indeks utama yang dikelola Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebelumnya, MSCI sempat menyoroti kondisi likuiditas saham tersebut yang dinilai kurang optimal.
Evaluasi Berkala dan Masa Berlaku Rebalancing
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis BEI pada hari Senin tanggal 27 Juli, saham GOTO tetap masuk dalam daftar anggota untuk indeks LQ45, IDX30, IDX80, serta Kompas100. Perubahan komposisi ini akan mulai berlaku efektif dari tanggal 3 Agustus hingga berakhir pada 30 Oktober tahun 2026.
Sejak 5 Mei 2026, saham GOTO tercatat berada pada level “gocap” dengan harga Rp 50 per lembar saham. Pada perdagangan hari Selasa (28/7), nilai kapitalisasi pasar perusahaan ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 117 triliun.
Penjelasan Irvan Sunandy tentang Metodologi Evaluasi
Irvan Sunandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, memberikan klarifikasi bahwa penilaian terhadap konstituen indeks tidak hanya bergantung pada kondisi likuiditas dalam jangka pendek. Bursa Efek Indonesia menerapkan periode pengamatan yang lebih luas, yaitu enam hingga dua belas bulan sebelum proses evaluasi dilakukan.
“Jadi kalau dia (GOTO) masih ada, berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang liquidity-nya masih kencang,” ujar Irvan saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (28/7).
Menurut penjelasan Irvan, pendekatan ini mirip dengan perhitungan rata-rata nilai transaksi harian yang menggunakan data year to date. Akibatnya, perubahan tidak terjadi secara instan hanya karena penurunan aktivitas perdagangan dalam beberapa bulan terakhir.
Irvan juga menegaskan bahwa hingga saat ini, BEI belum mengubah metodologi kuantitatif yang digunakan dalam evaluasi indeks.
Perbandingan dengan Langkah MSCI dan FTSE Russell
Keputusan BEI berbeda dengan tindakan MSCI yang sebelumnya membekukan seluruh penyesuaian terhadap saham GOTO dalam evaluasi indeks Mei 2026. MSCI menilai bahwa perdagangan saham GOTO yang bertahan di harga minimum Rp 50 berpotensi menimbulkan masalah dalam proses replikasi indeks karena rendahnya likuiditas.
Lembaga tersebut membekukan berbagai perubahan terkait GOTO, termasuk penyesuaian jumlah saham (number of shares/NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), constraint factor, serta penambahan maupun penghapusan saham dari indeks.
Kebijakan ini berlaku untuk MSCI Global Investable Market Indexes maupun indeks non-market capitalization weighted lainnya, seperti MSCI Factor, Sustainability & Climate, Thematic, dan Capped Indexes. Meskipun demikian, MSCI menyatakan masih dapat menyesuaikan constraint factor apabila diperlukan agar komposisi indeks tetap memenuhi batas konsentrasi sesuai metodologi yang berlaku.
Selain MSCI, FTSE Russell juga mengeluarkan GOTO dari indeks Mid Cap. Dalam evaluasi terbarunya, GOTO dikeluarkan bersama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA).
Perubahan Komposisi Indeks Utama BEI
Dalam evaluasi berkala yang diumumkan pada Senin (27/7), BEI mengumumkan sejumlah perubahan komposisi pada indeks-indeks utama:
Indeks LQ45: Bursa memasukkan PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), karena PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) telah didepak.
Indeks IDX30: BEI menambahkan emiten dari Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan mengeluarkan emiten pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Indeks IDX80: BEI memasukkan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan NCKL. Sebagai gantinya, bursa mendepak PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Indeks Kompas100: BEI menambahkan BFIN, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), LSIP, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), dan PT RMK Energy Tbk (RMKE).
Sebaliknya, bursa mengeluarkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), INTP, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), SIDO, serta PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
