Skip to content
Ekonomi Sirkular

Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare dalam 4 Dekade

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 3 mins read

Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare dalam kurun waktu empat dekade terakhir. Berdasarkan data terbaru dari Global Mangrove Watch (GMW), Indonesia

Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare dalam 4 Dekade

Indonesia Catat Penyusutan Mangrove Terbesar Dunia Selama Empat Dekade

Wartanaya.com – Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare dalam kurun waktu empat dekade terakhir. Berdasarkan data terbaru dari Global Mangrove Watch (GMW), Indonesia mengalami penurunan luas hutan bakau yang lebih signifikan dibandingkan pertambahannya antara tahun 1985 hingga 2025. Kondisi ini menempatkan negara kita sebagai pemimpin global dalam hal kehilangan mangrove secara keseluruhan.

Meskipun tren penambahan area mangrove belakangan ini melebihi kehilangan tahunan, akumulasi penurunan sejak 1985 masih tercatat sebesar 2.043 kilometer persegi atau setara 204,3 ribu hektare. Penambahan terkini belum cukup untuk menutupi defisit yang terbentuk, khususnya pada periode akhir 1990-an hingga awal 2000-an ketika banyak kawasan mangrove dikonversi untuk keperluan perikanan dan pemukiman.

Kerugian Mangrove di Negara Lain

Penyusutan tidak hanya terjadi di Indonesia. Data menunjukkan Myanmar kehilangan 145,7 ribu hektare, Malaysia 38,9 ribu hektare, Nigeria 31,2 ribu hektare, serta Kuba 27,2 ribu hektare sejak tahun 1985. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masalah degradasi mangrove merupakan tantangan global yang memerlukan perhatian serius.

Padahal, Wetlands International menekankan bahwa ekosistem mangrove memiliki fungsi vital bagi kehidupan. Kawasan ini mendukung ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat pesisir, melindungi pemukiman dari badai serta kenaikan permukaan laut, dan menyerap karbon empat kali lipat lebih banyak dibanding hutan darat. Selain itu, mangrove menjadi rumah bagi berbagai spesies hayati yang unik.

“Melindungi kawasan mangrove yang tersisa sangat penting bagi manusia, alam, dan iklim,” demikian dikutip dari laman Wetlands International, pada Senin (27/7).

Luas Mangrove Global dan Indonesia

Data GMW per 2025 mencatat luas mangrove dunia mencapai 14,7 juta hektare. Angka ini menunjukkan peningkatan bersih sebesar 47,7 ribu hektare dibandingkan tahun 1985. Negara-negara seperti Australia, India, Filipina, Pakistan, dan Senegal mencatatkan kenaikan terbesar dalam hal perluasan kawasan mangrove mereka.

Di Indonesia, luas mangrove tercatat 3,14 juta hektare. Angka ini diperoleh setelah penambahan 57,5 ribu hektare dan pengurangan 28 ribu hektare. Namun, Peta Mangrove Nasional 2025 mencatat angka yang sedikit berbeda, yakni 3,45 juta hektare. Perbedaan ini mencerminkan kompleksitas dalam pemantauan dan pengukuran kawasan mangrove di seluruh nusantara.

Pertumbuhan luas mangrove dapat disebabkan oleh pertumbuhan alami, program penanaman di wilayah baru, serta upaya restorasi. Meskipun demikian, tidak semua proyek penanaman skala besar berhasil mencapai targetnya. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan, termasuk pemilihan lokasi yang tepat dan keterlibatan masyarakat lokal.

Wetlands International juga menyoroti fenomena menarik. Pertumbuhan mangrove di area sungai dan delta sering kali dipicu oleh kerusakan di hulu, seperti pertambangan dan deforestasi. Aktivitas tersebut mengubah aliran air dan sedimen hingga mengendap di muara dan membentuk kawasan mangrove baru secara alami.

Aksi Penanaman dan Rencana Jangka Panjang

Dalam peringatan Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama masyarakat dan kementerian/lembaga lain melaksanakan penanaman serentak. Lebih dari satu juta bibit mangrove ditanam di 162 titik tersebar di 37 provinsi dengan cakupan area sekitar 364,11 hektare. Kegiatan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare.

“Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati,” kata Jumhur, dikutip dari keterangan resmi.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan bahwa mangrove memiliki peran strategis yang tidak dapat digantikan infrastruktur buatan manusia. Peran ini mencakup perlindungan pantai, penyimpanan karbon, dan dukungan terhadap biodiversitas laut.

KLH telah menetapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional 2026-2055 sebagai pedoman pengelolaan jangka panjang. Di tingkat lokal, program Desa Mandiri Peduli Mangrove mendorong perubahan perilaku masyarakat dari eksploitasi menuju pengelolaan lestari.

“Seperti ekowisata dan produk berbasis mangrove yang menciptakan lapangan kerja hijau,” ujar Jumhur.

Join the discussion