Skip to content
Bursa

Analis Ungkap Kekhawatiran Terbesar Pasar setelah BI Ditinggal Perry

Richard Wilson - wartanaya.com 3 mins read

Kedatangan masa pensiun Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia pada hari Senin, tanggal 27 Juli, memicu investor untuk lebih berhati-hati dalam

Analis Ungkap Kekhawatiran Terbesar Pasar setelah BI Ditinggal Perry

Reaksi Pasar atas Pergantian Pimpinan Bank Indonesia

Wartanaya.com – Kedatangan masa pensiun Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia pada hari Senin, tanggal 27 Juli, memicu investor untuk lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana mereka. Sementara posisi puncak tersebut kosong, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur.

Para pelaku pasar kini menunggu sosok baru yang diyakini mampu mempertahankan otonomi bank sentral. Ketidakpastian ekonomi global maupun domestik semakin meningkat, sehingga kepercayaan terhadap kepemimpinan baru menjadi sangat krusial.

Respons Awal: Sikap Waspada Investor

Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menjelaskan bahwa pasar merespons dengan sikap risk off. Penurunan IHSG saat pembukaan, pelemahan nilai rupiah, serta kehati-hatian yang meningkat menjadi indikator utama.

“Reaksi tersebut lebih didorong oleh ketidakpastian mengenai transisi kepemimpinan Bank Indonesia dibanding perubahan fundamental ekonomi,” ujar Elandry kepada Katadata.co.id, Senin (27/7).

Menurut Elandry, harapan pasar tertuju pada kandidat pengganti yang memiliki kredibilitas kuat. Independensi bank sentral serta kesinambungan kebijakan moneter menjadi dua hal yang harus dijaga agar kepercayaan investor tidak goyah di tengah ketidakpastian global.

Tantangan utama bagi gubernur berikutnya meliputi stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, serta koordinasi kebijakan dengan pemerintah tanpa mengorbankan independensi bank sentral.

Kekhawatiran Terhadap Saham Perbankan

Salah satu kekhawatiran investor adalah potensi koreksi pada saham-saham perbankan. Namun, Elandry meyakini bahwa sentimen negatif ini bersifat sementara. Ia menyarankan strategi wait and see hingga kejelasan arah kebijakan BI tercapai.

Sejauh fundamental perbankan tetap kuat, penurunan harga saham lebih tepat dilihat sebagai peluang akumulasi bertahap daripada pertanda perubahan tren fundamental.

Prospek Thomas Djiwandono sebagai Calon Gubernur

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menilai pasar akan sangat memperhatikan siapa yang akhirnya terpilih sebagai gubernur BI definitif. Kekhawatiran bisa meningkat jika Thomas Djiwandono, Deputi Gubernur BI, ditunjuk menggantikan Perry.

Thomas baru saja menjabat sebagai deputi gubernur sejak Februari 2026, setelah sebelumnya menjadi wakil menteri keuangan. Liza menjelaskan bahwa kenaikan cepat ke posisi tertinggi dalam waktu singkat mungkin sulit diterima sebagai proses suksesi normal.

“Thomas baru masuk ke Dewan Gubernur BI beberapa bulan lalu. Jadi, apabila dalam waktu yang sangat singkat ia langsung naik jadi gubernur BI, menurut saya pasar akan sulit melihatnya hanya sebagai proses suksesi yang normal,” kata Liza.

Secara hukum, penunjukan Thomas dimungkinkan selama diusulkan presiden dan disetujui DPR. Namun, legalitas saja belum cukup untuk membangun kepercayaan pasar. Liza menyoroti hubungan keluarga Thomas dengan presiden, pengalaman singkatnya di bank sentral, serta potensi mengesampingkan Destry Damayanti sebagai faktor yang dapat mengubah persepsi hubungan pemerintah-BI dari koordinasi menjadi kontrol politik.

Kondisi ini berpotensi memicu fiscal dominance, di mana kebijakan moneter lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fiskal pemerintah. Contoh konkretnya termasuk menekan biaya utang negara, menjaga likuiditas program pemerintah, atau mendukung agenda pertumbuhan ekonomi.

“Jadi, bagi saya, persoalannya bukan sekadar apakah Thomas kompeten atau tidak. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah gubernur BI berikutnya cukup independen untuk mengatakan ‘tidak’ kepada Presiden ketika kepentingan stabilitas moneter bertentangan dengan agenda pertumbuhan atau kebutuhan fiskal pemerintah,” ujar Liza.

Liza menambahkan bahwa jika Thomas benar-benar ditunjuk, pemerintah perlu membuktikan bahwa independensi BI tetap terjaga. Tanpa komunikasi yang efektif, pasar bisa merespons negatif melalui pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil SBN, peningkatan risk premium, serta persepsi bahwa kebijakan suku bunga dan stabilisasi rupiah lebih dipengaruhi pertimbangan politik daripada moneter.

Pukulan bagi Kredibilitas Kebijakan Moneter

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menilai pengunduran diri Perry merupakan pukulan bagi kredibilitas kebijakan moneter. Hal ini mengingat masa jabatan Perry seharusnya berakhir pada Mei 2028.

Bhima menduga bahwa ketidakpastian ini akan mempengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek. Ia menekankan pentingnya kejelasan mengenai profil dan kualifikasi calon pengganti Perry untuk menenangkan pasar.

Join the discussion