Katulampa Mengering: Tekanan di Hulu Ciliwung dan Ancaman Kuat El Nino
```html
Wartanaya.com – “`html
Kekeringan Bendung Katulampa: Lebih dari Sekadar Musim Kemarau
Mengeringnya Bendung Katulampa serta Sungai Ciliwung tidak semata-mata disebabkan oleh musim kering. Faktor utama lainnya adalah pesatnya pembangunan dan perubahan fungsi lahan di wilayah hulu daerah aliran sungai. Kondisi ini memperburuk risiko kekeringan di musim kemarau sekaligus meningkatkan potensi banjir saat musim hujan tiba.
Dyah Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitas Hutan Kementerian Kehutanan, menyoroti bahwa wilayah hulu DAS Ciliwung menghadapi tekanan signifikan dari pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
“Kebutuhan udara untuk rumah tangga, usaha, pariwisata, pertanian, fasilitas umum, dan kegiatan komersial terus memberi tekanan terhadap air permukaan maupun air tanah,” kata Dyah kepada Katadata, dikutip pada Sabtu (25/7).
Kondisi Hidrologis yang Memprihatinkan
Katulampa berfungsi sebagai bentung sekaligus stasiun pemantauan tinggi muka air yang merepresentasikan kondisi aliran Sungai Ciliwung di Kecamatan Katulampa, Kota Bogor. Aliran air ini bermula dari Bogor, melintasi Depok, dan berakhir di pesisir Jakarta Utara.
Berdasarkan informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, tinggi muka air Bendung Katulampa dalam dua hari terakhir hanya tercatat antara 12 hingga 30 cm, mendekati level asat. Bahkan, sebelumnya pernah mencapai angka nol sentimeter. Penyusutan volume air kali ini dikategorikan sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Angka ini mengindikasikan tekanan hidrologis pada hulu DAS Ciliwung, tetapi belum cukup bila digunakan sendirian untuk menyimpulkan kondisi seluruh DAS,” ujar Dyah.
Dampak El Niño yang Semakin Kuat
Kondini ini diperparah oleh kombinasi musim kemarau dengan fenomena iklim El Niño. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan kekeringan akan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dalam waktu dekat.
Indikator iklim menunjukkan Indeks Nino 3.4 telah menyentuh angka +2,26, sementara nilai Southern Oscillation Index (SOI) berada di -30,2. Kedua parameter ini menjadi pertanda bahwa El Niño akan terus berkembang hingga mencapai kategori kuat pada tahun ini. Fenomena tersebut menekan pembentukan awan hujan dan memperkuat kecenderungan penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Data dari Stasiun Meteorologi Citeko di hulu Ciliwung mencatat curah hujan pada bulan Mei hanya sebesar 17,30 mm per bulan. Angka ini jauh menurun dibandingkan periode sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 200 mm per bulan.
Alih Fungsi Lahan Memperparah Krisis Air
Kekeringan bukan hanya masalah iklim semata. Pembangunan, perubahan fungsi lahan, dan aktivitas ekonomi di kawasan hulu DAS Ciliwung juga mengurangi kapasitas wilayah tersebut dalam menyerap dan menyimpan air. Hal ini membuat dampak musim kemarau menjadi lebih berat.
Dyah menerangkan bahwa hulu DAS Ciliwung didominasi oleh areal penggunaan lain sebesar 73,31 persen. Jika ditinjau berdasarkan jenis tutupan lahan, wilayah ini didominasi oleh lahan pertanian kering (31,24 persen) dan organisasi mikro (16,28 persen).
“Ketika pasokan alami menurun sedangkan kebutuhan tetap besar, pengambilan udara dapat semakin memperkecil aliran yang tersisa,” ucap dia.
Rusaknya Hutan Hulu dan Dampaknya
Analisis Forest Watch Indonesia (FWI) mengungkap kerusakan hutan di tiga hulu sungai utama, yaitu Ciliwung, Kali Bekasi, dan Cisadane, dengan total luas 2.300 hektare selama periode 2017-2023. Luas kerusakan ini setara dengan 850 kali lipat lahan Gedung Sate di Bandung.
Kehilangan hutan berarti hilangnya fungsi konservasi air dan tanah secara bersamaan. FWI juga mencatat perubahan signifikan dalam kondisi penutupan hutan dan lahan di Kawasan Puncak Bogor antara 2017-2024. Rusaknya hutan alam terjadi akibat alih fungsi yang terus berlangsung, sebagaimana dikutip dari laman resmi FWI.
Kerusakan ekosistem ini diyakini menjadi salah satu pemicu banjir di kawasan puncak hingga perkotaan Bekasi dan Jakarta pada tahun 2025.
Solusi Terpadu untuk Krisis Air
Ketika hulu DAS mengalami kerusakan, fungsinya sebagai “tabungan” air tidak lagi berjalan optimal. Saat kemarau, cadangan air yang dilepas ke sungai berkurang sehingga debitnya cepat menyusut. Sebaliknya, saat musim hujan, air tidak terserap dengan baik dan langsung mengalir ke sungai, sehingga meningkatkan risiko banjir di wilayah tengah hingga hilir.
Dyah menekankan bahwa pendistribusian air bersih saat kekeringan bukan solusi tunggal. Diperlukan pendekatan komprehensif meliputi pengendalian tata ruang, perlindungan mata air, rehabilitasi lahan kritis, pengelolaan tanah air, restorasi situ dan sepadan sungai, serta konservasi tanah dan air dari hulu hingga hilir.
“Dalam jangka pendek, masyarakat bisa melakukan langkah-langkah sederhana, seperti menghemat udara, menampung air hujan ketika hujan masih terjadi, tidak membuang sampah ke sungai atau saluran air, dan menjaga vegetasi sekitar mata air dan sepadan sungai.”
“`
