Sebelum Mundur, Kepala BGN Nanik S Deyang Sempat Curhat Soal Teror hingga Stres
Sebelum Mundur Kepala BGN Nanik S Deyang mengumumkan pengunduran dirinya, ia telah lama merasakan tekanan berat dalam menjalankan tugas. Pengangkatan Nanik ke
Sebelum Mundur, Kepala BGN Nanik S Deyang Keluhkan Beban Jabatan
Wartanaya.com – Sebelum Mundur Kepala BGN Nanik S Deyang mengumumkan pengunduran dirinya, ia telah lama merasakan tekanan berat dalam menjalankan tugas. Pengangkatan Nanik ke posisi Kepala Badan Gizi Nasional terjadi pada 2 Juni 2026, menggantikan Dadan Hindayana yang ditunjuk sebagai tersangka dalam kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis. Jabatan tersebut diembannya selama lebih dari satu bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur.
Keputusan ini disampaikan melalui unggahan resmi di media sosial. Nanik menjelaskan bahwa ia akan melakukan perjalanan ke luar negeri pada hari Rabu, 22 Juli, untuk menjalani pengobatan jantung. Sebelumnya, ia telah membagikan keluh kesahnya melalui akun Facebook pada dini hari Selasa, 21 Juli, yang kemudian menjadi viral.
Kondisi Kesehatan yang Memburuk
Nanik menyebutkan bahwa kondisi fisiknya mengalami penurunan signifikan dalam kurun waktu sembilan hari terakhir. Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama satu minggu penuh. Dari hasil pemeriksaan dokter, terdeteksi adanya sumbatan pada arteri jantung yang tidak hanya disebabkan oleh kolesterol tinggi, tetapi juga dipicu oleh tingkat stres yang sangat berat.
“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak presiden untuk melakukan pengobatan di Luar Negeri untuk jantung saya,” ujar Nanik dalam pernyataan resminya.
Stres yang dialaminya bukan hanya berasal dari beban kerja, tetapi juga dari tekanan publik. Nanik mengakui bahwa ia memimpin lembaga yang banyak mendapat kritik dari masyarakat. Ia merasa hancur secara emosional karena harus menghadapi berbagai pandangan negatif terhadap program yang dipimpinnya.
Teror dan Ketakutan akan Tanggung Jawab
Menurut Nanik, ia sebenarnya tidak keberatan menyelesaikan berbagai permasalahan dalam program Makan Bergizi Gratis. Namun, ia mengakui adanya ketakutan dan trauma karena program tersebut melibatkan anggaran yang sangat besar. Ia khawatir anggaran yang dikelola tidak tersalurkan dengan baik dan berpotensi disalahgunakan.
“Itu seperti berdiri di tebing jurang yang curam, meleng sedikit bisa terjerembab dan mati,” tulis Nanik menggambarkan perasaannya.
Ketakutan akan pertanggungjawaban penggunaan uang negara membuat Nanik menjadi sangat hati-hati. Ia bahkan tidak mau menandatangani dokumen terkait MBG sendirian. Dua wakil kepala BGN juga harus memberikan persetujuan terlebih dahulu sebelum setiap dokumen ditandatangani.
Nanik juga mengungkapkan bahwa ia kerap menerima teror terkait jabatannya. Untuk menjaga kesehatan mentalnya, ia kini telah membuang nomor telepon yang biasa digunakan. Ia merasa setiap kebijakan yang diambilnya selalu ditanyakan berulang-ulang oleh berbagai pihak.
Masa Depan dan Rencana Pemulihan
Nanik memohon doa dari masyarakat dan teman-teman agar proses pengobatan dan pemulihan yang dijalani dapat berjalan lancar. Ia juga berharap dapat kembali berkontribusi bagi bangsa setelah kondisinya membaik.
“Bila Anda berselimut madu, maka jangan dikira Anda akan punya hidup yang manis, di situ Anda akan diserang dari berbagai penjuru angin yang ingin menikmati madu yang Anda pegang. Pilihannya? Kayaknya angkat bendera putih,” tulis Nanik di akhir curahan hatinya.
Satu hari setelah unggahan curhat tersebut, Nanik mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi. Ia telah menyampaikan pamit kepada Presiden Prabowo Subianto. Sebagai tindak lanjut, presiden diperkirakan akan membentuk dewan pengawas untuk memastikan program berjalan dengan baik.
Dalam struktur baru tersebut, Nanik diminta untuk menjadi ketua dewan pengawas. Sebagai pendukung Prabowo selama lebih dari 14 tahun, Nanik menyatakan akan tetap berjuang bersama presiden yang dinilai sangat keras berupaya memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia. Ia meyakini program MBG merupakan intervensi gizi penting bagi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi emas dan menjaga kesehatan mereka.
