Skip to content
E Commerce

Key Issue: Internet Sudah Masuk Daerah, Kenapa E-Commerce Masih Menumpuk di Jawa?

Anthony Rodriguez - wartanaya.com 3 mins read

Key Issue: E-Commerce Masih Terpusat di Jawa Meski Internet Sudah Merata Key Issue ini menggambarkan paradoks yang terjadi dalam dunia ekonomi digital di

Key Issue: Internet Sudah Masuk Daerah, Kenapa E-Commerce Masih Menumpuk di Jawa?

Key Issue: E-Commerce Masih Terpusat di Jawa Meski Internet Sudah Merata

Key Issue ini menggambarkan paradoks yang terjadi dalam dunia ekonomi digital di Indonesia. Meskipun jaringan internet telah menjangkau hampir semua daerah, e-commerce masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Riset NEXT Indonesia Center, yang menganalisis data Susenas Maret 2025, menunjukkan bahwa meski akses internet membaik, penyebaran ekonomi digital belum merata. Faktor-faktor seperti SDM, logistik, dan daya beli tetap menjadi penentu utama keberhasilan e-commerce di daerah-daerah tertentu.

Perbedaan Akses dan Aktivitas dalam E-Commerce

Key Issue pertama terletak pada perbedaan antara keberadaan internet dan penggunaannya secara produktif. Banyak wilayah di luar Jawa memiliki infrastruktur internet yang memadai, tetapi aktivitas e-commerce masih jauh tertinggal. Riset menunjukkan bahwa hanya sekitar 9,7 juta orang di luar Jawa yang menjadi penjual daring, sementara jumlah pembeli online mencapai 36,98% di wilayah seperti Kota Yogyakarta. Kesenjangan ini mencerminkan bahwa akses internet saja belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

Menurut Rezky Reza Pratama, Key Issue ini juga berkaitan dengan pengelolaan logistik dan stabilitas jaringan. “Meski internet bisa diakses di mana saja, keberhasilan berjualan daring bergantung pada pengiriman barang yang cepat, sinyal yang stabil, serta kesadaran masyarakat akan digitalisasi,” kata dia. Daerah seperti Kabupaten Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya, meski memiliki cakupan desa terlayani BTS di atas 88%, masih mengalami rasio penjual daring di bawah 2,5%. Hal ini menegaskan bahwa akses teknologi hanyalah salah satu aspek dalam perluasan ekonomi digital.

Faktor Penyebab E-Commerce Masih Terpusat

Key Issue kedua adalah konsentrasi e-commerce di Jawa yang selaras dengan dinamika ekonomi nasional. Nailul Huda dari Celios mengatakan bahwa transaksi daring di Indonesia cenderung mengikuti lokasi aktivitas ekonomi. Daerah dengan populasi besar, daya beli tinggi, infrastruktur internet baik, dan logistik yang mendukung biasanya menjadi pusat transaksi. Contoh nyata adalah Kota Depok, Jakarta Selatan, dan Tangerang Selatan, yang menjadi daerah dengan tingkat transaksi daring terbesar karena ketersediaan layanan pengiriman dan akses pasar yang lebih luas.

Key Issue ini juga mencakup keterbatasan SDM lokal. Di daerah-daerah terpencil, masyarakat masih memerlukan pelatihan untuk menguasai teknologi digital dan memahami proses berjualan daring. Lembaga penelitian menekankan bahwa literasi digital harus dipadukan dengan pendidikan praktis mengenai bisnis online. “UMKM perlu meningkatkan kualitas produk, manajemen stok, dan desain kemasan,” tambah Huda. Teknologi seperti AI juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, tetapi keberhasilannya bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap inovasi digital.

Sebaliknya, daerah seperti Sleman dan Salatiga, yang terletak di Jawa, memiliki keunggulan kompetitif dalam hal SDM dan infrastruktur. Mereka mampu mengembangkan ekosistem e-commerce yang lebih matang karena ketersediaan koneksi internet yang stabil dan keberadaan platform pendukung. Key Issue ini menyoroti bahwa pemerataan ekonomi digital memerlukan integrasi yang lebih kuat antara teknologi, logistik, dan ekonomi lokal.

Langkah Strategis untuk Pemerataan E-Commerce

Key Issue ketiga adalah perlunya langkah strategis untuk mengatasi ketimpangan akses e-commerce. Pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama dalam meningkatkan layanan logistik hingga ke daerah terpencil. Kebutuhan utama adalah membangun pusat distribusi yang efisien dan memperluas jaringan pengiriman. Selain itu, penguatan daya beli masyarakat juga menjadi kunci. Program stimulus ekonomi atau subsidi pembelian barang daring bisa membantu memperluas pasar di daerah dengan daya beli rendah.

Key Issue ini juga menekankan pentingnya pendidikan digital yang terstruktur. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama dengan lembaga swadaya, perlu mengembangkan kurikulum yang memasukkan pelatihan e-commerce ke dalam sistem pendidikan. Dengan demikian, generasi muda akan lebih siap menghadapi tantangan dan peluang di era digital. “Key Issue ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang perubahan mindset masyarakat,” ujar Pratama. Pemerataan e-commerce memerlukan kesadaran dan keterampilan yang sama untuk memperkuat ekonomi lokal di seluruh Indonesia.

Kebutuhan utama lainnya adalah kolaborasi antar-pihak. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu berperan aktif dalam membangun ekosistem yang seimbang. Dengan Key Issue ini, ekonomi digital bisa menjadi alat untuk mengurangi kesenjangan regional. Jika faktor-faktor pendukung seperti SDM, logistik, dan daya beli ditingkatkan, e-commerce di daerah-daerah lain bisa berkembang lebih pesat, membawa manfaat yang lebih merata bagi masyarakat Indonesia.

Join the discussion