Skip to content
Bursa

New Policy: Menilik Prospek Emiten Konglomerat BIPI–OASA, BNBR, TPIA di Proyek WtE Danantara

Richard Jackson - wartanaya.com 4 mins read

an BNBR New Policy - Dalam konteks New Policy yang mulai diterapkan pemerintah, proyek waste-to-energy (WTE) yang dikelola oleh Danantara Indonesia menjadi

New Policy: Menilik Prospek Emiten Konglomerat BIPI–OASA, BNBR, TPIA di Proyek WtE Danantara

New Policy Membuka Peluang Bisnis WTE untuk BIPI, OASA, dan BNBR

New Policy – Dalam konteks New Policy yang mulai diterapkan pemerintah, proyek waste-to-energy (WTE) yang dikelola oleh Danantara Indonesia menjadi fokus utama bagi sejumlah emiten konglomerat. Proyek ini tidak hanya menawarkan peluang pertumbuhan keuangan, tetapi juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong ekonomi sirkular dan transisi energi terbarukan. BIPI, OASA, BNBR, dan TPIA, yang terlibat dalam proyek WTE Danantara, menjadi perusahaan yang layak dipantau karena pengaruh New Policy terhadap industri energi dan lingkungan.

Keterlibatan Grup Bakrie dan Konsorsium Lainnya

Grup Bakrie, melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan anak perusahaan Bakrie Power, telah meraih kontrak WTE di Surabaya sebagai bagian dari New Policy yang mengutamakan pengelolaan sampah menjadi energi. Sementara itu, konsorsium Bumi Biru Indonesia, yang terdiri dari PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), turut berpartisipasi dalam proyek WTE di Lampung. Ini menunjukkan peran strategis emiten konglomerat dalam memenuhi target pemerintah terkait pengurangan limbah dan pembangunan infrastruktur hijau.

Prajogo Pangestu, melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga memperluas keberadaannya dalam sektor WTE dengan memasukkan entitas baru PT Chandra Waste Energy. Perusahaan-perusahaan ini memanfaatkan New Policy sebagai peluang untuk memperkuat portofolio bisnis dan meningkatkan kapasitas produksi tenaga listrik dari sampah. Dengan adanya kebijakan baru ini, keterlibatan mereka di sektor energi terbarukan semakin diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Analisis Kinerja Emisi dan Faktor Pendukung

Analisis terhadap BIPI, OASA, BNBR, dan TPIA menunjukkan bahwa kebijakan New Policy memberikan dampak positif pada nilai saham mereka. Abida Massi Armand dari BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa emiten yang terlibat dalam WTE Danantara memiliki potensi peningkatan kinerja karena ketergantungan pada pendapatan berulang dari tipping fee dan listrik yang dijual ke PLN. Meski OASA mengalami penurunan nilai saham setelah kenaikan signifikan, kebijakan baru ini dianggap sebagai faktor kunci yang dapat memperbaikinya.

“New Policy memberikan peluang besar untuk meningkatkan nilai investasi dan mengurangi risiko lingkungan dalam sektor energi,” ujar Abida kepada Katadata.co.id, Jumat (17/7).

TPIA, yang baru memasuki WTE, perlu memperkuat strategi finansial untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh kebijakan ini. BNBR, melalui Bakrie Power, juga diharapkan bisa meningkatkan visibilitas di sektor energi hijau. BIPI dan OASA, yang lebih terlibat secara langsung dalam proyek WTE, kemungkinan besar akan menjadi pionir dalam penerapan New Policy.

Peran Kebijakan dalam Transisi Energi

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menegaskan bahwa New Policy menjadi penggerak utama bagi industri WTE. Dengan kebijakan yang menekankan penggunaan teknologi daur ulang, proyek seperti WTE Danantara diharapkan mampu memberikan nilai tambah jangka panjang. Nafan menjelaskan bahwa pendapatan dari tipping fee dan penjualan listrik kepada PLN akan menjadi sumber pendapatan utama setelah proyek beroperasi secara komersial.

“New Policy mempercepat adopsi teknologi WTE sebagai bagian dari strategi nasional transisi energi, sehingga emiten yang terlibat akan mendapat manfaat dari peningkatan permintaan,” ucap Nafan kepada Katadata.co.id, Jumat (17/7).

Dengan adanya kebijakan ini, industri energi terbarukan diharapkan bisa berkembang pesat. Nafan menyoroti bahwa keberhasilan proyek WTE tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemitraan yang kuat antara pemerintah dan emiten. Proyek Danantara, sebagai contoh, menunjukkan bahwa New Policy mampu menghasilkan skema kerja sama yang efektif.

Potensi Pertumbuhan dan Risiko yang Tidak Terhindarkan

Analisis menyebutkan bahwa kebijakan New Policy akan mendorong pertumbuhan sektor WTE, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya sampah melimpah. BIPI dan OASA, sebagai emiten yang fokus pada WTE, akan menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari diversifikasi di bidang energi hijau. Sementara TPIA dan BNBR, meski masih dalam tahap awal, memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis mereka dengan memanfaatkan kebijakan baru ini.

“New Policy berpotensi mempercepat pertumbuhan industri WTE, sehingga emiten yang terlibat bisa memperoleh keuntungan sebelum proses komersialisasi memuncak,” tambah Nafan.

Di sisi lain, risiko seperti fluktuasi harga bahan baku, ketergantungan pada pemerintah daerah, dan perubahan kebijakan jangka panjang masih menjadi tantangan. Namun, dengan dukungan dari New Policy dan pertumbuhan permintaan energi terbarukan, emiten konglomerat ini diperkirakan mampu mengatasi hambatan tersebut.

Secara keseluruhan, New Policy memberikan momentum yang kuat bagi proyek WTE Danantara. BIPI, OASA, BNBR, dan TPIA akan menjadi perusahaan yang layak dipertimbangkan dalam investasi jangka panjang, terutama karena kebijakan ini menjamin adanya pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan dan ekonomi daerah yang lebih stabil. Dengan memperkuat kehadiran mereka di sektor energi hijau, emiten konglomerat ini berpotensi menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi sirkular di Indonesia.

Join the discussion