Skip to content
Bursa

Important News: Anomali Free Float Saham MPRO dan SRAJ Milik Konglomerat Dato Sri Tahir

Patricia Miller - wartanaya.com 3 mins read

Important News: Anomali Free Float Saham MPRO dan SRAJ Konglomerat Dato Sri Tahir Important News - Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan revisi metode

Important News: Anomali Free Float Saham MPRO dan SRAJ Milik Konglomerat Dato Sri Tahir

Important News: Anomali Free Float Saham MPRO dan SRAJ Konglomerat Dato Sri Tahir

Important News – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan revisi metode penilaian kepemilikan saham, yang mengungkapkan anomali pada free float saham milik konglomerat Dato Sri Tahir. Perubahan ini memperkenalkan parameter price impact ratio sebagai penentu kriteria baru untuk mengidentifikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Anomali muncul karena beberapa saham seperti MPRO dan SRAJ masih memenuhi ambang batas free float minimum meski dominasi kepemilikan oleh pengendali utama sangat signifikan.

Dalam perubahan terbaru, BEI memperkenalkan price impact ratio sebagai alat analisis lebih mendalam. Metode ini mengukur dampak perubahan harga terhadap volume transaksi saham, terutama untuk emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Pentingnya Important News ini terletak pada pergeseran paradigma pengawasan pasar, di mana free float menjadi indikator yang lebih tepat dalam menilai likuiditas dan risiko konsentrasi kepemilikan. Dengan price impact ratio, BEI dapat membedakan saham yang berpotensi mengalami tekanan jual struktural.

Beberapa saham yang dikendalikan Dato Sri Tahir, termasuk MPRO dan SRAJ, menjadi contoh dari fenomena ini. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) memiliki kepemilikan terpusat mencapai 99,99%, sementara PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mencapai 97,21%. Meski angka tersebut menunjukkan dominasi pengendali, free float masing-masing saham mencapai 15,11% dan 16%, yang masih memenuhi standar BEI. Anomali ini menimbulkan pertanyaan tentang ketepatan metode penilaian sebelumnya, yang terlalu bergantung pada persentase kepemilikan langsung.

Peringatan Risiko untuk Investor

Important News ini mendapat perhatian dari para financial educator yang mengingatkan investor untuk waspada terhadap risiko yang muncul dari konsentrasi kepemilikan. Hendry Wijaya, Manager Financial Educator dari Sucor Sekuritas, menjelaskan bahwa saham High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi mengalami fluktuasi harga yang tidak stabil. Hal ini disebabkan oleh likuiditas yang lebih rendah, karena volume transaksi terbatas dan free float yang kecil.

“Ketiga, resiko tekanan jual struktural bila MSCI/FTSE menyesuaikan bobot, dapat muncul tekanan jual dari passive fund. Investor yang masuk belakangan berisiko menghadapi tekanan tersebut,”

Hendry menambahkan bahwa saham HSC cenderung lebih rentan terhadap perubahan eksternal, seperti kebijakan indeks atau isu pasar. Important News ini juga menyoroti bahwa transparansi struktur kepemilikan menjadi kunci dalam pengambilan keputusan investasi. Dengan adanya perubahan metode, investor diminta lebih kritis dalam menganalisis volatilitas harga dan pengaruh kepemilikan terpusat.

Penyaringan HSC Berdasarkan Price Impact Ratio

Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI, menjelaskan bahwa price impact ratio menjadi parameter utama dalam screening HSC. Metode ini mengukur hubungan antara perubahan harga saham dan volume transaksi, yang dapat menunjukkan dampak kuat dari kepemilikan terpusat. Dengan cara ini, BEI memastikan bahwa saham yang masuk kategori HSC benar-benar memiliki risiko signifikan terhadap likuiditas pasar.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,”

Proses penyaringan dilakukan setiap tiga bulan, mengikuti siklus pemutakhiran indeks utama. Important News ini menunjukkan komitmen BEI dalam memperbaiki sistem pengawasan kepemilikan saham. Sebelumnya, BEI hanya mengandalkan trigger factor, namun metode baru ini memberikan pengukuran yang lebih sistematis dan objektif.

Perubahan ini tidak hanya memengaruhi emiten yang dikendalikan Dato Sri Tahir, tetapi juga memengaruhi kebijakan investasi secara keseluruhan. Dengan adanya price impact ratio, investor dapat lebih memahami dinamika pasar dan memilih aset yang sesuai dengan profil risiko. Pentingnya Important News ini terletak pada dampak jangka panjang terhadap stabilitas pasar saham Indonesia.

Analisis terhadap MPRO dan SRAJ menunjukkan bahwa mereka memenuhi kriteria HSC berdasarkan metode lama, tetapi tidak lagi memenuhi parameter baru. Hal ini berdampak pada klasifikasi saham yang masuk dalam daftar HSC, yang sebelumnya terdiri dari 37 saham. Setelah perubahan, total saham HSC meningkat menjadi 51, dengan MPRO dan SRAJ menjadi dua saham yang dipindahkan dari kategori tersebut.

Join the discussion