Skip to content
Bursa

Topics Covered: BEI Revisi Kriteria HSC, Total 51 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi

Anthony Taylor - wartanaya.com 3 mins read

r Kepemilikan Terkonsentrasi Topics Covered menjadi fokus utama dalam perubahan kriteria kepemilikan terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/ HSC)

Topics Covered: BEI Revisi Kriteria HSC, Total 51 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi

BEI Revisi Kriteria HSC, 51 Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi

Topics Covered menjadi fokus utama dalam perubahan kriteria kepemilikan terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/ HSC) yang diperkenalkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan ini mengubah metode penilaian saham-saham yang dianggap memiliki kepemilikan dominan di pasar modal, dengan menambahkan parameter baru yaitu rasio dampak harga (price impact ratio). Dengan Topics Covered ini, BEI berupaya memperkuat transparansi dan kualitas perdagangan di bursa, terutama untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Perubahan Metode Penilaian HSC

Penambahan rasio dampak harga merupakan langkah strategis untuk mengukur tingkat pengaruh harga saham terhadap volume transaksi. Parameter ini diterapkan pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar tinggi, karena saham-saham tersebut cenderung memiliki pergerakan harga yang lebih besar dibandingkan saham kecil. Dengan metode ini, BEI dapat lebih akurat mengidentifikasi saham yang memenuhi kriteria kepemilikan terkonsentrasi, yang sering kali mencerminkan dominasi satu pihak dalam pengendalian harga.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar, tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” jelas Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).

Penjelasan Rasio Dampak Harga dan Velocity

Rasio dampak harga dihitung dengan membandingkan fluktuasi harga saham terhadap volume transaksi, atau velocity. Velocity sendiri mengacu pada perbandingan rata-rata volume perdagangan dengan jumlah saham yang diperdagangkan secara umum (free float). Semakin kecil volume transaksi suatu saham, semakin rendah velocity-nya, yang berarti perubahan harga lebih signifikan terhadap pasar. Konsep ini membantu BEI mengukur dampak yang dihasilkan oleh kecilnya jumlah saham yang diperdagangkan, sehingga memperjelas kriteria HSC.

“Dengan penambahan parameter ini, BEI berupaya menciptakan sistem yang lebih komprehensif dalam menilai kepemilikan saham yang terkonsentrasi,” tambah Jeffrey.

Kriteria HSC dan Evaluasi Berkala

BEI akan mengevaluasi rasio dampak harga secara berkala setiap tiga bulan bagi seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Evaluasi ini selaras dengan siklus penilaian indeks utama, sehingga memastikan konsistensi dalam mengidentifikasi saham-saham yang perlu dipantau. Dengan Topics Covered ini, BEI berharap meminimalkan risiko penipuan atau manipulasi pasar, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap transparansi perdagangan.

“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey.

Pengawasan Berbasis Trigger Factor

Di sisi lain, kriteria pengawasan berbasis trigger factor tetap berlaku untuk seluruh saham, meskipun diterapkan secara insidental. Trigger factor merujuk pada indikator-indikator tertentu yang secara otomatis memicu tindakan tegas jika ditemukan tanda-tanda kepemilikan terkonsentrasi yang berpotensi mengganggu kestabilan pasar. Dengan Topics Covered ini, BEI memperkuat sistem pengawasan untuk menjaga keseimbangan antara regulasi dan fleksibilitas pasar.

“Dengan penambahan rasio dampak harga, BEI menyatakan akan segera mengumumkan 37 saham baru yang memenuhi kriteria HSC. Ini merupakan langkah awal dalam perbaikan sistem yang lebih terukur,” papar Jeffrey.

Impak Revisi Kriteria HSC

Revisi kriteria HSC tidak hanya mengubah metode penilaian, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap perusahaan yang terdaftar di BEI. Dengan Topics Covered ini, BEI mencoba memastikan bahwa saham-saham yang dianggap memiliki kepemilikan terkonsentrasi diperhatikan secara lebih intensif. Perubahan ini diperkirakan akan meningkatkan akuntabilitas perusahaan dalam mengelola saham, serta menurunkan risiko monopoli kepemilikan yang bisa mengganggu keseimbangan pasar.

“Peningkatan jumlah saham HSC menjadi 51 mencerminkan upaya BEI untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan efektif dalam pengawasan kepemilikan saham. Kami juga berencana mendiskusikan hal ini dengan perusahaan yang terdaftar untuk memperbaiki distribusi saham di pasar,” kata Jeffrey.

Join the discussion