Skip to content
Internasional

Topics Covered: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, AS Lancarkan Serangan Baru

Anthony Taylor - wartanaya.com 3 mins read

Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, AS Beri Respons Serangan Topics Covered - Pada hari Minggu (12/7), Teheran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz secara

Topics Covered: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, AS Lancarkan Serangan Baru

Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, AS Beri Respons Serangan

Topics Covered – Pada hari Minggu (12/7), Teheran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz secara sementara, sebagai respons atas serangan yang dilakukan oleh Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal yang melintasi perairan tersebut tanpa izin. Langkah ini menjadi bagian dari perang dagang dan ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat, yang semakin memanas setelah serangan terbaru terjadi. Dengan penutupan selat strategis ini, Iran mengancam aliran minyak dan gas dari Teluk Persia ke dunia luar, yang menjadi pintu utama ekspor energi negara itu.

Penutupan Selat Hormuz diumumkan sebagai reaksi atas serangan militer Iran terhadap kapal kontainer berbendera Siprus, M/V GFS Galaxy, yang sedang melintasi jalur laut. Dalam pernyataan resmi, IRGC menyebutkan kapal tersebut mengancam keamanan maritim karena mematikan sistem navigasinya saat berlayar. Akibatnya, kapal itu mengalami serangan yang menghentikan perjalanannya. Meski belum mengungkap identitas kapal, Iran menegaskan bahwa sejumlah kapal lain juga mencoba melewati jalur yang tidak diizinkan, serta mengabaikan peringatan untuk kembali ke rute yang ditetapkan.

“Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan tambahan dan hingga campur tangan Amerika Serikat di wilayah ini berakhir,” ujar IRGC, seperti dilaporkan Reuters pada hari Minggu (12/7).

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menegaskan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan atas instruksi Presiden Donald Trump sebagai bentuk pembalasan atas tindakan militer Teheran. Serangan tersebut terjadi setelah IRGC menyerang kapal kontainer yang dianggap melanggar perjanjian keamanan. Dalam pernyataan resmi, Centcom menyebutkan satu awak sipil kapal dilaporkan hilang, sementara kapal mengalami kebakaran dan kerusakan signifikan di ruang mesin, sehingga terpaksa berhenti berlayar.

Mekanisme Penutupan dan Kesiapan Iran

Penutupan Selat Hormuz menunjukkan kesiapan Iran untuk memperketat kontrol atas wilayah strategis tersebut. Dalam pernyataan resmi, pihak Iran mengungkapkan bahwa penutupan ini bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional dan memastikan kesetiaan negara kepada kebijakan ekonomi serta militer mereka. Sumber dalam Iran menyebutkan bahwa keputusan ini diambil setelah evaluasi kritis terhadap tindakan AS yang dianggap mengganggu kestabilan kawasan. Selain itu, Iran menegaskan bahwa mereka akan terus memantau aktivitas kapal asing di Selat Hormuz sebagai bentuk proteksi terhadap keamanan laut.

“Republik Islam Iran meminta kami melanjutkan pembicaraan. Kami setuju, tetapi Amerika Serikat telah memberi tahu mereka gencatan senjata telah berakhir,” tulis Trump di platform Truth Social.

Ketegangan antara Iran dan AS tidak hanya terfokus pada Selat Hormuz, tetapi juga memengaruhi hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua pihak. Dalam pernyataannya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Iran harus menanggung konsekuensi dari tindakannya, termasuk mengganggu pelayaran internasional. “Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus membayarnya,” tulis Hegseth di media sosial, menegaskan bahwa AS bersiap mengambil langkah lebih lanjut jika Iran tidak memenuhi syarat yang ditetapkan.

Respons Internasional dan Dampak Ekonomi

Penutupan Selat Hormuz juga menarik perhatian pihak internasional, terutama negara-negara yang bergantung pada aliran energi dari wilayah tersebut. Pernyataan dari Iran mengingatkan dunia akan kemungkinan gangguan perdagangan global, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak sekitar 20 persen dari pasokan global. Negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Eropa yang mengandalkan impor minyak dari Teluk Persia mulai waspada terhadap peningkatan biaya bahan bakar dan risiko keterlambatan pengiriman.

Sebagai bagian dari kebijakan ekonomi, Iran menuntut AS untuk menghentikan intervensi militer dan ekonomi di wilayah kawasan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berupaya menenangkan situasi dengan berdialog dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi, yang menjadi mediator dalam upaya meredakan konflik. Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran mengingatkan bahwa Oman berperan penting dalam memperkuat kerja sama antara Iran dan negara-negara lain untuk menjaga keamanan pelayaran.

Sementara itu, media Pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di sekitar wilayah pesisir dekat Selat Hormuz. Televisi pemerintah mencatat tiga ledakan di Bandar Abbas dan dua ledakan di Sirik. Kantor Berita Mehr menyebutkan ledakan juga terjadi di Pulau Qeshm, serta wilayah Provinsi Bushehr, Deir, Asalwiya, dan Kota Jask. Kebocoran bahan bakar atau senjata terkadang dianggap sebagai tindakan Iran untuk memperkuat posisi negara itu di tengah tekanan ekonomi dan militer dari AS.

Join the discussion