Main Agenda: Prabowo Bentuk Satgas Akademisi, Apa Bedanya dengan BRIN?
pa Bedanya dengan BRIN? Main Agenda - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Akademisi sebagai upaya mempercepat
Prabowo Bentuk Satgas Akademisi, Apa Bedanya dengan BRIN?
Main Agenda – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Akademisi sebagai upaya mempercepat pelaksanaan berbagai inisiatif prioritas nasional. Langkah ini bertujuan menyatukan tenaga ahli dari berbagai institusi pendidikan dan riset dalam satu platform kolaboratif.
Peran Satgas dalam Mendukung Program Pemerintah
Pembentukan Satgas Akademisi pertama kali diumumkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, pada 29 Juni lalu. Satgas akan menjadi tempat pertemuan para akademisi, peneliti dari universitas, serta anggota BRIN untuk menggarap isu-isu strategis sesuai kebutuhan negara.
“Tujuannya adalah percepatan. Sejumlah ahli dari perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga lain akan bekerja bersama dalam satu topik agar fokus riset tetap terarah,” ujar Brian di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (7/7).
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan bahwa kerja sama antara BRIN dan Kemendiktisaintek telah intensif berjalan. Salah satu hasilnya adalah penyusunan Peta Jalan Riset Indonesia 2026–2045, yang rencananya diluncurkan pada Agustus mendatang dalam rangka peringatan Hari Teknologi.
Arif menjelaskan bahwa peta jalan tersebut akan menjadi acuan utama untuk menentukan bidang riset yang menjadi prioritas nasional. Setelah arah penelitian ditetapkan, pemerintah akan membentuk tim-tim khusus yang mengawasi proyek strategis sesuai bidangnya.
Kolaborasi untuk Menghindari Tumpang Tindih
Menurut Arif, pembentukan Satgas tidak berarti BRIN mengurangi peran risetnya. Institusi tersebut tetap memiliki agenda penelitian mandiri, tetapi akan memperkuat kerja sama dengan akademisi untuk memastikan kegiatan riset berjalan lebih efektif.
“Kami tetap menjalankan riset nasional, tapi proyek strategis membutuhkan partisipasi ekstra dari perguruan tinggi agar lebih terfokus. Model ini juga untuk mencegah duplikasi usaha,” kata Arif.
Dalam praktiknya, Satgas akan menyatukan keahlian dari berbagai disiplin ilmu. Contohnya, untuk pengembangan satelit, tim akan terdiri dari peneliti antariksa dan akademisi yang relevan. Pendekatan serupa juga akan diterapkan dalam bidang seperti teknologi nuklir, pangan, kesehatan, serta industri lainnya.
Arif menekankan bahwa pendanaan Satgas akan bersumber dari Kemendiktisaintek dan BRIN secara bersamaan. Skema pendanaan telah disiapkan, sementara tim pelaksana akan dibentuk melalui kemitraan institusi.
Fokus Riset untuk Program Prioritas Nasional
Beberapa bidang yang menjadi prioritas pemerintah antara lain ketahanan pangan, energi, lingkungan, sumber daya air, perumahan, dan industri antariksa. Selain itu, penelitian di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), serta genomik akan diperkuat untuk mendukung pengembangan pangan.
Dengan model ini, pemerintah berharap mampu mengoptimalkan kerja riset dasar, terapan, hingga teknologi yang langsung bermanfaat bagi masyarakat. “Teknologi tepat guna harus segera diimplementasikan, tetapi pemerintah juga membutuhkan kemajuan teknologi untuk menjalankan proyek strategis,” tambah Arif.
