Skip to content
Keuangan

Key Discussion: Rupiah Ditutup Melemah Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75%

Richard Wilson 3 mins read

Key Discussion: – Pada perdagangan Kamis (18/6), nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meskipun Bank

Key Discussion: Rupiah Ditutup Melemah Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75%

Rupiah Melemah Meski BI Naikkan Suku Bunga

Key Discussion – Pada perdagangan Kamis (18/6), nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meskipun Bank Indonesia (BI) telah melakukan kenaikan suku bunga acuan ke 5,75%. Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.794 per dolar AS, turun 32 poin dari Rp 17.764 pada hari sebelumnya. Bahkan, penurunan ini sempat mencapai 60 poin selama sesi perdagangan, menunjukkan ketidakstabilan yang berkelanjutan.

Pelaku Pasar dan Tunggu Keputusan MSCI

Key Discussion – Analisis oleh Ibrahim Assuaibi, ahli ekonomi dan pasar keuangan, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah terjadi karena tekanan dari pelaku pasar yang masih bersikap hati-hati. Mereka menunggu keputusan kritis dari MSCI, lembaga penilaian global yang berdampak signifikan pada aliran dana ke pasar keuangan Indonesia.

“Investor cenderung memperhatikan dinamika MSCI karena penilaian indeks emerging market dapat memengaruhi kredibilitas pasar lokal. Dengan membatasi penambahan konstituen saham Indonesia, MSCI menimbulkan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan yang masih menjadi perdebatan,” kata Ibrahim Assuaibi, Kamis (18/6).

Key Discussion – Sebelumnya, MSCI membatasi penambahan konstituen saham Indonesia akibat ketakutan terhadap struktur kepemilikan dan transparansi free float. Kebijakan ini menyebabkan aliran dana ke pasar lokal terhambat, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis. BI, yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50% pada RDG Mingguan 9 Juni 2026, kembali menaikkan bunga sebesar 25 basis poin dalam RDG 18-19 Juni 2026, mencapai 5,75%.

Langkah BI dan Kebijakan Moneter yang Ketat

Key Discussion – Dalam upaya mengatasi inflasi dan memperkuat nilai tukar rupiah, BI mengambil langkah moneter yang lebih ketat. Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga meningkatkan Deposit Facility ke 4,75% dan Lending Facility ke 6,50%. Kebijakan ini bertujuan untuk menopang stabilitas harga di tengah tekanan inflasi yang diperkirakan mencapai 2,5±1% pada 2026-2027.

Key Discussion – Kenaikan suku bunga ini adalah kelanjutan dari kebijakan BI sebelumnya, yang telah mengangkat bunga sebanyak 75 basis poin dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Dengan angka bunga yang kini mencapai 5,75%, BI mencerminkan komitmen untuk menekan inflasi, meskipun penguatan rupiah terhadap dolar AS belum terlihat jelas. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan ekonomi.

Key Discussion – Sentimen eksternal tetap menjadi penghalang utama bagi penguatan rupiah. Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa dolar AS masih mendominasi karena kebijakan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga di rentang 3,50%-3,75% dan sinyal pengetatan moneter lanjutan di akhir tahun. Dengan delapan dari 19 pejabat The Fed menyatakan akan ada peningkatan suku bunga minimal satu kali pada 2026, investor cenderung lebih memilih aset berisiko rendah.

Key Discussion – Kebijakan BI dalam menaikkan suku bunga diharapkan mampu menarik dana asing dan memperkuat daya beli rupiah. Namun, efeknya belum terasa secara signifikan, terutama di tengah ketidakpastian global. Ibrahim menambahkan bahwa keputusan MSCI dan dinamika pasar keuangan internasional tetap menjadi faktor penentu utama dalam pergerakan rupiah. Dengan adanya pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menekankan komitmen mengatasi inflasi, dolar AS diperkirakan akan tetap menjadi mata uang utama yang diminati.

Join the discussion