Skip to content
Makro

Rupiah Loyo ke 17.928 di Tengah Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Patricia Miller - wartanaya.com 3 mins read

Pasar valuta asing mencatat pergerakan rupiah yang relatif stabil pada sesi perdagangan pagi hari ini. Mata uang domestik tercatat menguat tipis sebesar 0,03

Rupiah Loyo ke 17.928 di Tengah Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Rupiah Bergerak Lembut ke Rp 17.928 Sambil Menanti Sinyal The Fed

Wartanaya.com – Pasar valuta asing mencatat pergerakan rupiah yang relatif stabil pada sesi perdagangan pagi hari ini. Mata uang domestik tercatat menguat tipis sebesar 0,03 persen, menyentuh level Rp 17.928 per satu dolar Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta meningkatnya proyeksi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve.

Berdasarkan data Bloomberg, perdagangan dibuka dengan rupiah berada di posisi Rp 17.930 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan marginal sebesar 0,06 persen atau setara dengan 10 poin. Namun, pantauan Katadata pada pukul 09.15 WIB menunjukkan tren penguatan kembali, di mana rupiah bergerak lebih rendah ke Rp 17.928.

Sebelumnya, penutupan perdagangan mencatatkan rupiah di level Rp 17.923 per dolar AS. Perbandingan ini menunjukkan penguatan sebesar 0,06 persen dibandingkan posisi Rp 17.933 pada hari sebelumnya.

Faktor Geopolitik dan Minyak Dunia

Lukman Leong, analis Doo Financial Futures, mengidentifikasi potensi pelemahan rupiah yang dapat terjadi akibat kenaikan harga minyak global. Hal ini dipicu oleh informasi terbaru bahwa Iran berencana menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel.

“Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring harga minyak yang rebound oleh memanasnya geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan apabila Iran akan melarang kapal AS dan Israel melalui Selat Hormuz. Namun pelemahan diperkirakan terbatas, dengan investor menantikan data cadangan devisa Indonesia siang ini,” ujar Lukman kepada Katadata.

Menurut Lukman, pergerakan rupiah diproyeksikan berada dalam kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS ke depan.

Ekspektasi Kebijakan Moneter The Fed

Fikri C. Permana, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, juga melihat tren depresiasi rupiah yang kemungkinan masih berlanjut hingga menyentuh level Rp 17.950 per dolar AS. Ia menyoroti beberapa faktor yang mendukung penguatan dolar AS, termasuk meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan sikap hati-hati terhadap inflasi.

Ketidakpastian terkait prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi beban bagi pasar. Meskipun sempat muncul indikasi positif, Presiden AS Donald Trump dikabarkan masih akan memantau perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Di sisi lain, kesepakatan antara Iran dan Oman dinilai membuka peluang normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pasar masih menunggu implementasi nyata dari kesepakatan tersebut sehingga dampak positifnya terhadap sentimen global masih terbatas.

Selain itu, potensi kuatnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis malam hari menjadi perhatian tambahan. Jika angka tersebut melampaui perkiraan, peluang pengetatan kebijakan moneter The Fed diperkirakan semakin besar dan berpotensi memperkuat dolar AS.

Dari perspektif domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari arus keluar modal asing. Fikri mencatat bahwa aksi jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia dalam dua hari terakhir masih memberikan beban pada sentimen aset dalam negeri.

Frequently Asked Questions

What is Rupiah Loyo ke 17 928 di Tengah?

Rupiah Loyo ke 17 928 di Tengah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Rupiah Loyo ke 17 928 di Tengah matter?

Rupiah Loyo ke 17 928 di Tengah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion