Skip to content
Keuangan

Rupiah Menguat ke Rp 17.748, Pasar Cermati Ketegangan Selat Hormuz

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 3 mins read

Pergerakan mata uang rupiah pada sesi perdagangan terakhir menunjukkan penguatan sebesar 92 poin, berakhir di posisi Rp 17.748 per dolar AS. Sebelumnya, kurs

Rupiah Menguat ke Rp 17.748, Pasar Cermati Ketegangan Selat Hormuz

Rupiah Naik ke Rp 17.748, Investor Waspadai Eskalasi di Selat Hormuz

Wartanaya.com – Pergerakan mata uang rupiah pada sesi perdagangan terakhir menunjukkan penguatan sebesar 92 poin, berakhir di posisi Rp 17.748 per dolar AS. Sebelumnya, kurs ditutup di angka Rp 17.840 per dolar AS. Di balik pergerakan tersebut, pelaku pasar menaruh perhatian besar pada dinamika geopolitik Timur Tengah, terutama soal kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.

Sentimen Global dan Ancaman di Jalur Perairan Strategis

Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menilai bahwa fluktuasi rupiah tidak terlepas dari ketegangan geopolitik yang masih membayangi kawasan. Ketidakpastian terkait status Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menggerakkan sentimen pasar.

“Pasar bersiap menghadapi potensi kebuntuan berkepanjangan di jalur perairan strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan yang ketat terhadap Iran.”

Trump belum menjelaskan secara spesifik bentuk pembatasan yang dimaksud. Meski demikian, ia menyerukan agar negara-negara sekutu turut ambil bagian dan memberikan peringatan kepada pihak mana pun agar tidak menjalin transaksi bisnis dengan Iran.

Dampak nyata dari situasi ini sudah terlihat pada sektor pelayaran. Aktivitas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan. Mayoritas pemilik kapal memilih menghindari jalur vital tersebut karena belum ada kepastian kapan jalur akan dibuka kembali setelah sempat ditutup akibat konflik yang melibatkan Iran.

Langkah Kebijakan di Amerika Serikat

Di sisi lain, sentimen terhadap dolar AS turut dipengaruhi oleh keputusan Departemen Keuangan Negeri Paman Sam yang memperluas program pembelian kembali (buyback) surat berharga pemerintah berjangka panjang. Langkah ini bertujuan menopang likuiditas obligasi pemerintah sekaligus menekan biaya pinjaman jangka panjang yang tengah berada di titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Berikut pengumuman tersebut, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun merosot lebih dari 5 basis poin (bps), sementara yield tenor 30 tahun turun mendekati 9 bps.

Arah Kebijakan Moneter The Fed

Rupiah juga masih berada di bawah bayang-bayang kebijakan moneter The Federal Reserve. Risalah rapat The Fed bulan Juli mengungkap bahwa sejumlah pembuat kebijakan masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan.

Pada pertemuan Juli, The Fed mempertahankan target suku bunga dana federal di kisaran 3,5%–3,75%. Sebagian pejabat dengan pandangan berbeda menilai diperlukan langkah lebih agresif untuk mendorong inflasi kembali ke target.

Faktor Domestik: Pemangkasan Kuota BBM dan Asumsi Harga Minyak

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pasar menyambut positif rencana pemerintah memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi secara drastis pada 2027. Pemerintah dilaporkan berencana memangkas kuota tersebut hingga 58,5%. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian subsidi energi dan berpotensi memengaruhi masyarakat pengguna BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.

Secara paralel, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$75 per barel dalam kerangka ekonomi makro 2027. Angka ini berada di bawah harga minyak dunia yang saat ini berkisar US$83 per barel.

“Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi.”

Kewaspadaan Menjelang Rilis Data Transaksi Berjalan

Investor juga masih bersikap hati-hati menjelang publikasi data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026 yang dijadwalkan rilis pekan ini. Ibrahim menegaskan bahwa perhatian pasar tertuju pada potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, mengingat pada kuartal I defisit sempat melebar ke level terbesar sejak 2019.

Kinerja transaksi berjalan sendiri turut terpengaruh oleh pelemahan aktivitas perdagangan yang dipicu gejolak geopolitik Timur Tengah, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Frequently Asked Questions

What is Rupiah Menguat ke Rp 17 748 Pasar?

Rupiah Menguat ke Rp 17 748 Pasar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Rupiah Menguat ke Rp 17 748 Pasar matter?

Rupiah Menguat ke Rp 17 748 Pasar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion