Kontroversi Breeding Monyet Ekor Panjang untuk Laboratorium Luar Negeri
Negara kita rencanakan untuk kembali mengirimkan 1.929 ekor makaka atau monyet ekor panjang ke luar negeri guna keperluan riset ilmiah. Langkah ini diambil
Indonesia Kembali Siapkan Ekspor Monyet Ekor Panjang Pasca Tiga Tahun
Wartanaya.com – Negara kita rencanakan untuk kembali mengirimkan 1.929 ekor makaka atau monyet ekor panjang ke luar negeri guna keperluan riset ilmiah. Langkah ini diambil setelah masa “puasa” selama tiga tahun lamanya. Seluruh primata yang akan diekspor berasal dari berbagai pusat penangkaran yang tersebar di wilayah Indonesia.
Fasilitas penangkaran saat ini telah tersedia di beberapa lokasi strategis, termasuk kawasan Mesuji di Lampung serta Pulau Tinjil di Banten. Kedua tempat tersebut menjadi basis utama pengembangbiakan monyet ekor panjang sebelum dikirim ke tujuan akhir.
Kuota Ekspor dan Regulasi Internasional
Berdasarkan data dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), Indonesia resmi mengajukan kuota ekspor sebanyak 1.929 ekor monyet ekor panjang. Kategori ini termasuk dalam Appendix II yang berarti perdagangannya perlu diatur ketat demi menjaga kelangsungan populasi di habitat alami. Pengajuan resmi tersebut telah disampaikan pada tanggal 19 Juni 2026.
Sebelumnya, ekspor terakhir tercatat pada tahun 2022 dengan jumlah 1.680 ekor. Pada tahun 2021, angka ekspor bahkan mencapai 2.070 ekor. Tren ekspor ini juga telah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, menunjukkan konsistensi permintaan pasar internasional.
Appendix II CITES mengatur spesies yang perdagangannya harus diawasi agar tidak mengancam keberlangsungan populasi di alam liar. Namun, status konservasi monyet ekor panjang menurut IUCN Red List menunjukkan bahwa spesies ini kini tergolong endangered atau terancam punah.
Kritik dari Organisasi Perlindungan Satwa
Rencana ekspor ini mendapat tanggapan negatif dari berbagai organisasi perlindungan satwa. Femke den Haas, pendiri Jakarta Animal Aid Network, menilai langkah pemerintah sebagai kemunduran signifikan dalam upaya perlindungan primata.
“Saat komunitas global berupaya memperkuat perlindungan untuk monyet ekor panjang, melemahkan perlindungan untuk salah satu spesies asli Indonesia yang paling dieksploitasi merupakan keputusan yang sangat mengkhawatirkan,” kata Femke dalam keterangan resmi, Jumat (7/8).
Para kelompok perlindungan satwa khawatir bahwa perdagangan monyet ekor panjang untuk laboratorium dapat mendorong penangkapan satwa liar secara besar-besaran. Selain itu, kesejahteraan hewan juga menjadi perhatian utama mengingat kondisi penangkaran yang belum sepenuhnya ideal.
Konflik Manusia dan Satwa di Mesuji
Lady Freethinker menyoroti fasilitas yang dinamakan “instalasi karantina hewan” di Mesuji. Fasilitas ini memiliki kapasitas menampung 4.000 ekor monyet dan dikelola oleh PT Biomedika Nusantara Indah. Salah satu tujuan pembangunan fasilitas tersebut adalah meredam konflik antara manusia dan monyet melalui pemanfaatan satwa untuk penelitian kesehatan internasional.
Organisasi ini juga mengklaim adanya praktik pembelian monyet liar dari masyarakat lokal dengan harga sekitar Rp200 ribu per ekor. Hal ini menjadi catatan penting karena menunjukkan bahwa tidak semua monyet yang masuk ke fasilitas berasal dari hasil budidaya murni.
“Konflik antara manusia dan monyet ekor panjang tidak boleh dijadikan alasan untuk menangkap satwa demi perdagangan laboratorium internasional,” demikian dikutip dari laman resmi Lady Freethinker.
Menurut organisasi tersebut, pemerintah seharusnya menyelesaikan akar penyebab konflik manusia dan satwa. Masalah utama meliputi hilangnya habitat akibat pembangunan infrastruktur, perluasan lahan pertanian, serta kebiasaan masyarakat yang memberi pakan kepada monyet secara rutin.
Lady Freethinker menilai bahwa penangkaran satwa saja tidak menyelesaikan persoalan tersebut. Sebaliknya, diperlukan langkah-langkah untuk hidup berdampingan secara manusiawi dan berbasis bukti ilmiah.
Desakan Penguatan Perlindungan Makaka
Tiga organisasi besar, yaitu Jakarta Animal Aid Network, Lady Freethinker, dan Action for Primates, bersama-sama mendesak Pemerintah Indonesia untuk memperkuat perlindungan terhadap makaka. Mereka menginginkan agar monyet tidak sembarangan ditangkap dan dipasok ke laboratorium di luar negeri tanpa pertimbangan matang.
Posisi Pemerintah dan Prospek Pasar
Saat peresmian instalasi budidaya monyet ekor panjang di Mesuji pada akhir Juli lalu, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengungkapkan bahwa tujuan utama ekspor adalah ke Amerika Serikat. Menurutnya, ekspor dilakukan secara terkontrol dengan berbagai rekomendasi resmi.
“Ada rekomendasi dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) terkait berapa ekor yang boleh dikeluarkan dan dikirim. Lalu, ada rekomendasi dari Kementerian Kehutanan untuk menentukan jenis yang boleh dikembangbiakkan,” kata dia seperti dikutip Antara.
Karding menekankan bahwa ekspor tidak melibatkan penangkapan liar dari hutan. “Tidak boleh ditangkap di hutan, tapi harus dibudidaya dengan standar tertentu,” ucapnya. Restu ekspor ini diberikan karena populasi monyet dinilai sudah terlalu banyak dan menjadi hama akibat konsumsi pakan yang cukup besar.
Monyet ekor panjang dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki struktur anatomi dan sel yang mirip dengan babi serta menyerupai manusia. Pasar Amerika Serikat tergolong kecil dengan kebutuhan sekitar 10.000 ekor per tahun. Sementara itu, pasar terbesar adalah Cina dengan kebutuhan dua kali lipat Amerika, yaitu 20.000 ekor per tahun.
Saat ini, proses negosiasi tengah berjalan untuk bisa masuk pasar Cina. “Harganya bisa sampai di atas Rp10 juta. Ini hanya boleh untuk penelitian dan ada kerj,” lanjut Karding.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kontroversi Breeding Monyet Ekor Panjang?
Kontroversi Breeding Monyet Ekor Panjang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kontroversi Breeding Monyet Ekor Panjang matter?
Kontroversi Breeding Monyet Ekor Panjang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
