Skip to content
Industri

Special Plan: Industri Baterai Kendaraan Listrik RI Mulai Fokus ke Sektor Daur Ulang

Anthony Rodriguez - wartanaya.com 2 mins read

trik RI Fokus pada Daur Ulang Special Plan - Dalam rangka mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik, Indonesia tengah mengadopsi Special Plan yang

Special Plan: Industri Baterai Kendaraan Listrik RI Mulai Fokus ke Sektor Daur Ulang

Industri Baterai Kendaraan Listrik RI Fokus pada Daur Ulang

Special Plan – Dalam rangka mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik, Indonesia tengah mengadopsi Special Plan yang menitikberatkan pada pengelolaan baterai bekas. Strategi ini bertujuan memastikan keberlanjutan penggunaan sumber daya mineral kritis, seperti litium, nikel, dan mangan, yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik. Special Plan yang diusung pemerintah mengintegrasikan aspek daur ulang ke dalam roadmap pembangunan ekosistem baterai nasional.

Prioritas Daur Ulang dalam Special Plan

Special Plan saat ini menekankan pengelolaan limbah setelah masa pakai baterai berakhir, karena ini menjadi tantangan besar yang harus diatasi seiring meningkatnya produksi dan konsumsi kendaraan listrik,” jelas Atong Soekirman, Asisten Deputi Pengembangan Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronika dan Aneka Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam acara Korea-Indonesia Economic Partnership Forum, Jakarta, Rabu (24/6).

Kebijakan daur ulang dalam Special Plan bertujuan meminimalkan dampak lingkungan dari limbah elektronik dan baterai bekas. Peningkatan produksi kendaraan listrik di Indonesia diperkirakan akan mencapai 103.000 unit pada 2025, dengan kebutuhan baterai yang meningkat seiring tumbuhnya industri otomotif berkelanjutan. Menurut Atong, Special Plan memastikan Indonesia tidak hanya menjadi produsen baterai, tetapi juga pusat pengolahan sumber daya secara berkelanjutan.

Peran Special Plan dalam Kebijakan Global

Strategi daur ulang dalam Special Plan sejalan dengan kebijakan global yang menitikberatkan pada ekonomi sirkular. Pemerintah Indonesia berharap program ini mampu menarik investasi dan teknologi dari negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Singapura. Kebijakan ini juga menjadi referensi bagi negara-negara berkembang dalam menghadapi kenaikan permintaan baterai global yang diperkirakan mencapai 3 ton pada 2030, dibandingkan 1 ton pada 2024.

Dalam Special Plan, pengelolaan limbah baterai dibagi menjadi dua tahap utama: pengumpulan dan pemrosesan. Sistem pengumpulan yang efisien menjadi kunci, karena baterai yang ditinggalkan di pasar bisa mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Pemrosesan daur ulang, di sisi lain, memerlukan teknologi canggih dan kerja sama antar sektor, termasuk industri otomotif, lingkungan, dan sumber daya alam.

Atong menambahkan bahwa Special Plan tidak hanya mengurangi risiko kehabisan sumber daya mineral, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk lokal. Dengan mengintegrasikan daur ulang ke dalam rantai pasok baterai, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku. Pemerintah juga menargetkan peningkatan ekspor produk daur ulang, seperti logam lithium yang diolah dari baterai bekas.

Salah satu inisiatif dalam Special Plan adalah kerja sama dengan Korea melalui forum ekonomi yang diadakan di Jakarta. Negara-negara mitra diharapkan memberikan teknologi dan standar pengelolaan limbah yang bisa diterapkan di Indonesia. Inisiatif ini diharapkan mendorong inovasi produk, seperti desain baterai yang ramah daur ulang, serta pengembangan sistem manajemen limbah berbasis digital.

Join the discussion