Skip to content
Teknologi

105 Milidetik Bikin Curiga: Jejak Bot di Balik Video Demo Lama yang Viral Lagi

Richard Wilson - wartanaya.com 4 mins read

105 Milidetik Bikin Curiga - Momentum 17 Agustus membawa kembali video demonstrasi lama ke permukaan media sosial dengan gelombang viral yang tak terduga

105 Milidetik Bikin Curiga: Jejak Bot di Balik Video Demo Lama yang Viral Lagi

105 Milidetik Bikin Curiga: Jejak Bot di Balik Video Demo Viral

Wartanaya.com – 105 Milidetik Bikin Curiga – Momentum 17 Agustus membawa kembali video demonstrasi lama ke permukaan media sosial dengan gelombang viral yang tak terduga. Namun, pola penyebarannya memicu kecurigaan kuat bahwa proses tersebut tidak sepenuhnya organik. Dua lembaga riset terkemuka, yaitu Monash University dan Drone Emprit, mengidentifikasi tanda-tanda koordinasi dalam penyebaran konten ini, termasuk kemungkinan besar penggunaan bot otomatis.

Kecepatan Retweet yang Mencurigakan

Salah satu temuan paling signifikan berasal dari analisis Monash University terhadap periode 26 Juli hingga 1 Agustus. Dari total 34.935 unggahan yang dipantau di platform X, sebanyak 99,46% merupakan retweet. Yang lebih menarik, tercatat sembilan retweet berbeda dilakukan hanya dalam selang waktu sekitar 105 milidetik.

Kecepatan tersebut dinilai hampir mustahil dicapai secara manual. Alfons Tanujaya, Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom, menjelaskan bahwa rata-rata manusia membutuhkan 150 milidetik untuk satu kali klik atau sentuhan layar. Dengan demikian, aktivitas sembilan retweet dalam 105 milidetik menunjukkan adanya mekanisme otomatisasi.

Kalau sembilan retweet dilakukan dalam 105 milidetik berarti rata-rata sekitar 12 milidetik per retweet. Itu bahkan lebih cepat dari refresh rate layar. Belum selesai refresh sudah melakukan retweet.

Menurut Alfons, aktivitas secepat itu paling mungkin dilakukan oleh bot. Meskipun bot tetap dikendalikan manusia, adanya upaya semacam ini mengindikasikan adanya kepentingan tertentu yang ingin dicapai melalui percepatan penyebaran narasi.

Pola Seed-and-Amplify

Konsentrasi penyebaran konten juga menjadi indikator penting. Monash University mencatat bahwa satu unggahan dari akun @dieddfish menyumbang 13.446 retweet atau 38,7% dari seluruh retweet yang teramati. Sementara itu, sepuluh unggahan teratas menghasilkan 88,5% dari total aktivitas retweet.

Struktur ini disebut sebagai pola seed-and-amplify. Dalam mekanisme ini, sejumlah kecil akun menjadi sumber narasi awal, lalu ribuan akun lain memperkuatnya melalui retweet. Pola ini berbeda dengan viral organik yang biasanya memiliki distribusi lebih merata.

Kalau satu akun menyumbang 13.446 retweet dan hanya 10 unggahan menguasai mayoritas interaksi, ini merupakan ciri khas seed-and-amplify. Bukan viral organik. Kalau organik seharusnya sumbernya jauh lebih banyak dan independent.

Pola serupa juga mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme bulk retweet yang bertujuan meningkatkan engagement percakapan secara signifikan dalam waktu singkat.

Konfirmasi dari Drone Emprit

Temuan Monash University sejalan dengan analisis Drone Emprit mengenai percakapan terkait potensi demonstrasi dan kerusuhan pada periode 17 Juli hingga 3 Agustus. Drone Emprit menemukan adanya inauthentic coordinated behavior atau ICB yang menjadi ciri khas aktivitas bot terkoordinasi.

Pola ini terlihat dari penyebaran narasi dengan pesan, gambar, dan video yang sangat mirip di berbagai platform media sosial. Konten-konten dengan kesamaan skenario dan narasi menunjukkan bahwa konten tidak semata-mata muncul secara spontan, tetapi sengaja diperbanyak untuk memperluas jangkauan isu.

Drone Emprit juga mengidentifikasi sejumlah akun dengan aktivitas tidak lazim. Akun-akun ini mencakup akun baru, akun lama yang kembali aktif, hingga akun yang diduga terindikasi bot atau mengunggah konten serupa dalam waktu berdekatan. Penyebaran narasi tidak hanya berlangsung melalui unggahan utama, melainkan juga diperkuat melalui repost, komentar, dan konten serupa yang saling menguatkan di berbagai platform.

Konteks Demonstrasi Agustus

Salah satu karakteristik percakapan menjelang demonstrasi Agustus adalah munculnya kembali dokumentasi, video, dan pernyataan lama yang dibingkai seolah-olah merupakan peristiwa terbaru. Fenomena ini memperkuat kecurigaan akan adanya kampanye terkoordinasi.

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi sebelumnya juga mengakui adanya video demo lama yang kembali diunggah dengan konteks berbeda. Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan ini dan mengambil langkah yang diperlukan jika ditemukan pelanggaran.

Analisis mendalam terhadap pola penyebaran ini memberikan gambaran jelas bahwa 105 Milidetik Bikin Curiga bukan sekadar kebetulan statistik, melainkan tanda nyata adanya aktivitas bot yang terorganisir. Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi konten viral yang muncul tiba-tiba di media sosial.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Analisis Bot

Apa itu 105 Milidetik Bikin Curiga? Ini adalah istilah yang merujuk pada temuan sembilan retweet dilakukan dalam selang waktu 105 milidetik, jauh lebih cepat dari kemampuan manusia rata-rata.

Bagaimana cara membedakan viral organik dan tidak organik? Viral organik memiliki distribusi sumber yang lebih merata, sementara viral tidak organik cenderung didominasi oleh sejumlah kecil akun dengan pola retweet cepat.

Apakah semua akun bot otomatis? Tidak. Bot tetap bisa dikendalikan manusia, namun aktivitas otomatisasi seperti retweet cepat menunjukkan adanya mekanisme yang dipercepat.

Bagaimana dampak aktivitas bot terhadap percakapan publik? Aktivitas bot dapat memanipulasi persepsi publik dengan menciptakan ilusi dukungan atau penolakan yang lebih besar dari kenyataan.

Join the discussion