Bayang-Bayang Karhutla Besar 2015: El Nino Datang, Hutan dan Lahan Terancam
Langit malam di Desa Sungai Pelang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tak lagi berwarna hitam. Cahaya oranye dari kobaran api memantul di balik kepulan
El Niño dan Musim Kemarau: Ancaman Karhutla Besar Mengintai Indonesia
Wartanaya.com – Langit malam di Desa Sungai Pelang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tak lagi berwarna hitam. Cahaya oranye dari kobaran api memantul di balik kepulan asap, menerangi cakrawala yang biasanya gelap. Di tepi jalan yang membelah kawasan perkebunan, beberapa warga berhenti. Mereka hanya bisa menyaksikan api melahap lahan dari kejauhan.
Suasana itu terekam dalam video amatir berdurasi tujuh detik yang direkam pada akhir Juli lalu. Asap pekat menggantung di udara dan membatasi jarak pandang. Dari balik kepulan asap, nyala api tampak membentang di area yang cukup luas. Bara beterbangan mengikuti embusan angin, sementara sorot lampu kendaraan dan senter sesekali menembus kabut asap.
Data Kebakaran Meningkat Drastis
Pemandangan seperti ini tidak hanya terjadi di Sungai Pelang. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali bermunculan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan lebih dari 107 ribu hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juni tahun ini. Luasan tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2019 maupun 2023, dua tahun yang juga diwarnai kebakaran hutan berskala besar.
Musim kemarau tahun ini bahkan diperkirakan belum mencapai puncaknya. Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Hingga akhir Juli, indeks Niño 3.4—indikator anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menjadi acuan utama kekuatan El Niño—telah mencapai 1,56 derajat Celsius, menandakan El Niño telah memasuki kategori kuat.
Pada saat yang sama, sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan cakupannya diperkirakan terus meluas dalam beberapa bulan ke depan.
“Dampak utamanya fokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” kata Ardhasena.
Bayangan 2015 yang Kembali Muncul
Kombinasi El Niño kuat dan musim kemarau yang memanjang membangkitkan ingatan pada salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Sebelas tahun lalu, Indonesia mengalami salah satu musim karhutla terburuk dalam sejarah modern. Lebih dari 2,6 juta hektare hutan dan lahan hangus terbakar, setara hampir empat kali luas Pulau Bali. Jutaan orang menghirup kabut asap selama berbulan-bulan. Ribuan sekolah terpaksa diliburkan, ratusan penerbangan dibatalkan, sementara kabut asap melintasi batas negara hingga menyelimuti Malaysia, Singapura, dan Thailand bagian selatan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla 2015 mencapai sekitar Rp221 triliun, setara 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat itu. Kebakaran gambut juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar yang memperburuk krisis iklim.
Faktor Cuaca Bukan Satu-Satunya Penyebab
Kini, sejumlah indikator menunjukkan pola yang mengingatkan pada 2015. El Niño kembali menguat bersamaan dengan musim kemarau. Namun, sejumlah peneliti dan organisasi lingkungan menilai ancaman tahun ini tidak semata karena faktor cuaca.
Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional Uli Arta Siagian menilai kebakaran tahun ini bahkan berpotensi melampaui karhutla pada 2015 maupun 2019. Sepanjang Juli saja, sebanyak 778 titik panas terdeteksi di Kalimantan.
“Kebakaran tahun ini bisa jadi jauh lebih besar ketimbang kebakaran pada 2015 dan 2019,” katanya.
Menurut WALHI, cuaca hanya menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran. Persoalan yang lebih mendasar adalah kondisi bentang alam yang semakin rentan akibat perubahan tata kelola lahan, terutama di kawasan hidrologi gambut.
Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat Indra Syahnanda mengatakan sekitar 7.000 dari 17 ribu hotspot yang terdeteksi di Kalimantan Barat tahun ini berada di kawasan gambut.
Dari sekitar 2,39 juta hektare kawasan hidrologi gambut di provinsi tersebut, terdapat 135 izin perkebunan sawit, 35 izin pemanfaatan hutan, dan 123 izin usaha pertambangan.
Menurut Indra, pembukaan kanal-kanal untuk kepentingan berbagai aktivitas tersebut membuat air yang semula tersimpan di dalam kubah gambut mengalir keluar. Akibatnya, gambut kehilangan kelembapannya dan jauh lebih mudah terbakar ketika musim kemarau datang. El Niño memang membuat musim menjadi lebih kering. Namun, bentang alam yang telah mengalami degradasi membuat api jauh lebih mudah menyebar.
Sementara itu, Manajer Komunikasi dan Kampanye Pantau Gambut Wahyu Agung Perdana menilai ancaman kebakaran masih berpotensi meningkat seiring dengan semakin luasnya wilayah yang memasuki musim kemarau dan semakin kuatnya fenomena El Niño.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bayang Bayang Karhutla Besar 2015?
Bayang Bayang Karhutla Besar 2015 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bayang Bayang Karhutla Besar 2015 matter?
Bayang Bayang Karhutla Besar 2015 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
