Skip to content
Investasi Hijau

Dino Patti Djalal Sebut Sudah Waktunya Indonesia Pimpin Aksi Iklim Global

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 2 mins read

Dino Patti Djalal, pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menyatakan bahwa mundurnya negara-negara maju dari komitmen iklim global

Dino Patti Djalal Sebut Sudah Waktunya Indonesia Pimpin Aksi Iklim Global

Indonesia Siap Mengambil Alih Kepemimpinan Aksi Iklim Dunia

Wartanaya.com – Dino Patti Djalal, pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menyatakan bahwa mundurnya negara-negara maju dari komitmen iklim global menciptakan ruang bagi negara middle-power untuk memimpin. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mengisi kekosongan tersebut.

Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang hanya terjadi di tempat lain. Eropa saat ini menghadapi gelombang panas ekstrem, sementara Indonesia mengalami banjir bandang akhir tahun lalu. Fenomena El Nino dan potensi kebakaran hutan juga menambah urgensi tindakan segera.

Perlu ada sekelompok negara middle power terutama, termasuk Indonesia, yang mengambil alih kemudi. Bukan hanya Brasil misalnya, tapi Indonesia, Australia, Jerman, Kanada, yang punya kapasitas, kemauan, untuk menjaga hal-hal yang berbau kerja sama global, terutama perubahan iklim.

Ungkapan tersebut disampaikan Dino dalam Press Briefing Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta pada Rabu (29/7). Ia meyakini diplomasi iklim kini terbuka lebar bagi Indonesia untuk tampil lebih aktif di kancah internasional.

Waktu yang Semakin Sempit

Dino menekankan bahwa keterlambatan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dapat berakibat fatal. Target menjaga suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celsius memerlukan tindakan nyata segera.

Kalau kita mulai melek 2040-2045, itu enggak kekejar.

Prinsip Common but Differentiated Responsibility yang selama ini menjadi dasar kesepakatan iklim dinilai Dino sudah tidak relevan lagi. Prinsip tersebut menyatakan bahwa semua negara memiliki kewajiban melindungi bumi, namun dengan bobot berbeda sesuai kontribusi kerusakan lingkungan dan kemampuan ekonomi masing-masing.

Kalau kita terus begitu, akan ketinggalan semua.

Benturan Kepentingan Geopolitik

Kondisi geopolitik saat ini semakin memperumit aksi iklim. Banyak negara poluter yang juga merupakan kekuatan ekonomi tengah menghadapi kerentanan geopolitik. Akibatnya, dana dan kemampuan mereka dialihkan ke sektor pertahanan daripada aksi iklim.

Sementara itu, negara berkembang masih terus menuntut tanggung jawab lebih besar dari negara maju sekaligus poluter. Benturan kepentingan inilah yang menurut Dino membuka momentum bagi negara-negara berkekuatan menengah untuk mengambil alih kepemimpinan global dalam isu perubahan iklim.

Join the discussion