Skip to content
Energi

Harga Minyak Naik jadi US$ 95 per Barel Usai Houthi Serang Tanker di Laut Merah

Patricia Thomas - wartanaya.com 3 mins read

Harga Minyak Naik jadi US 95 per barel menjadi sorotan utama pasar energi global pada Kamis, 23 Juli. Kenaikan ini dipicu oleh serangan kelompok militan

Harga Minyak Naik jadi US$ 95 per Barel Usai Houthi Serang Tanker di Laut Merah

Harga Minyak Naik Jadi US$ 95 per Barel Pasca Serangan Houthi

Wartanaya.com – Harga Minyak Naik jadi US 95 per barel menjadi sorotan utama pasar energi global pada Kamis, 23 Juli. Kenaikan ini dipicu oleh serangan kelompok militan Houthi yang didukung Iran terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di perairan Laut Merah. Insiden ini langsung memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak mentah dunia.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah serangan tersebut. Para pelaku pasar kini khawatir akan potensi gangguan distribusi minyak dalam skala yang lebih luas. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk memantau perkembangan situasi dengan cermat.

Reaksi Pasar Terhadap Eskalasi Konflik

Data pasar menunjukkan pergerakan harga yang cukup dramatis. Pada pukul 08.01 waktu Singapura, minyak Brent naik 1,3 persen mencapai US$ 95,25 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sebesar 1 persen menjadi US$ 87,71 per barel.

Performa Brent sepanjang bulan ini mencatat lonjakan hampir 30 persen. Para analis pasar memproyeksikan harga minyak berpotensi menembus angka US$ 100 per barel di penghujung tahun. Proyeksi ini bergantung pada stabilitas situasi konflik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya membaik.

Konteks Regional dan Ancaman Jalur Pelayaran

Ketegangan di kawasan ini kembali memanas setelah pasukan Amerika Serikat melakukan serangan bertubi-tubi terhadap Iran selama 12 hari. Sebagai respons, Teheran membalas dengan menyerang Kuwait yang menjadi fokus utama aksi mereka. Eskalasi ini menambah kompleksitas situasi regional.

Di sisi lain, kelompok Houthi baru-baru ini menyampaikan ancaman akan memblokir jalur pelayaran Arab Saudi di Laut Merah. Rute laut ini sangat krusial bagi Arab Saudi karena memungkinkan negara tersebut menghindari Selat Hormuz. Melalui rute ini, Arab Saudi mengekspor jutaan barel minyak setiap harinya ke berbagai pasar internasional.

Houthi menjelaskan bahwa serangan menggunakan rudal dan drone terhadap kedua kapal tersebut dilakukan karena dianggap melanggar blokade yang mereka tetapkan. Kapal-kapal yang menjadi sasaran adalah Encelia dan Layla. Serangan ini menandai aksi pertama yang secara spesifik menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah.

Analisis Dampak Jangka Panjang

Situasi ini membuka front baru dalam konflik regional yang sebelumnya sudah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akibat meningkatnya kekerasan. Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga melakukan serangan terhadap kapal-kapal di jalur sempit tersebut.

Serangan di Laut Merah merupakan eskalasi serius dalam konflik. Apabila jalur tersebut terganggu, ketatnya pasokan di pasar minyak akan semakin memburuk.

— Daniel Hynes, Kepala Strategi Komoditas di ANZ Group Holdings Ltd.

Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova Pte menyatakan bahwa kelanjutan tren kenaikan harga minyak sangat bergantung pada perkembangan serangan di Laut Merah. Menurutnya, investor yang optimistis bisa menargetkan level US$ 100 per barel untuk Brent dalam kondisi seperti ini.

Situasi diperparah oleh sikap Amerika Serikat dan Iran yang sama-sama meredam harapan akan dimulainya perundingan damai. Hal ini meningkatkan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dan memperketat pasokan minyak global. Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengancam akan mengebom jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Ia juga kembali menegaskan ancaman terhadap Pickaxe Mountain, lokasi yang diduga menjadi fasilitas nuklir Iran.

Join the discussion