Rumor Akuisisi Bango Milik UNVR Berembus, Entitas Grup Djarum Beri Penjelasan
Isu pembelian merek kecap Bango yang menjadi milik PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) oleh Grup Djarum ramai diperbincangkan para investor baru-baru ini
Grup Djarum Tolak Isu Akuisisi Bango dari UNVR
Wartanaya.com – Isu pembelian merek kecap Bango yang menjadi milik PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) oleh Grup Djarum ramai diperbincangkan para investor baru-baru ini. Situasi ini terjadi bersamaan dengan langkah divestasi sektor makanan dan minuman yang sedang dijalankan oleh Unilever Indonesia.
Menanggapi informasi yang beredar luas, pihak manajemen Savoria Group—entitas Grup Djarum yang dikabarkan terlibat dalam rencana tersebut—mengeluarkan pernyataan penolakan. Savoria Group menegaskan bahwa mereka tidak sedang mempertimbangkan ekspansi melalui akuisisi, termasuk pengambilalihan merek Bango.
“Jadi kabar mengenai rencana akuisisi Bango adalah tidak benar,” jelas manajemen Savoria Grup saat dihubungi Katadata.co.id pada Selasa (21/7).
Pihak Savoria Group juga telah mengirimkan konfirmasi resmi kepada tim komunikasi Unilever Indonesia. Namun, hingga artikel ini diterbitkan, belum ada tanggapan yang diterima dari Unilever Indonesia.
Konteks Akuisisi Sebelumnya
Sebelumnya, PT Savoria Kreasi Rasa telah resmi mengambil alih unit bisnis teh SariWangi milik Unilever Indonesia dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,5 triliun. Langkah ini merupakan wujud komitmen jangka panjang Savoria Group untuk memperkuat industri teh nasional serta mendorong pertumbuhan merek-merek legendaris Indonesia.
Dengan selesainya proses akuisisi tersebut, SariWangi kini menjadi bagian dari portofolio merek utama Savoria Group. Merek-merek lain dalam grup ini antara lain Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, HydroPlus, FOX’S Candy, dan 5Days Croissant.
Kinerja Keuangan UNVR
Melihat performa terbaru, perusahaan FMCG tersebut mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,14 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 73% year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,23 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, penjualan bersih Unilever Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 2,8% year on year menjadi Rp 8,44 triliun. Sebagai perbandingan, periode yang sama tahun lalu mencatatkan penjualan sebesar Rp 8,21 triliun. Secara lebih rinci, penjualan domestik mencapai Rp 5,82 triliun sementara ekspor sebesar Rp 222,68 miliar. Untuk segmen makanan dan minuman di dalam negeri, nilainya mencapai Rp 2,39 triliun.
Transaksi Global Unilever dengan McCormick
Pada 31 Maret 2026, Unilever PLC mengumumkan penandatanganan perjanjian kombinasi bisnis untuk segmen usaha Makanan bersama McCormick & Company, Inc (McCormick). Transaksi besar ini diperkirakan akan rampung sekitar pertengahan tahun 2027.
Unilever Indonesia menyatakan bahwa perusahaan masih melakukan evaluasi terhadap dampak transaksi terhadap laporan keuangan. Sementara itu, Unilever Global sebelumnya telah menggabungkan bisnis makanannya dengan McCormick & Company dan kini mulai fokus pada bisnis kecantikan. Penggabungan ini menyatukan dua bisnis yang dinilai memiliki kesamaan serta memiliki kinerja dengan pertumbuhan pendapatan yang solid.
Chief Executive Officer Unilever, Fernando Fernandez, menjelaskan bahwa Unilever akan memisahkan bisnis makanannya. Langkah strategis ini akan mengubah posisi perusahaan menjadi pemain murni di segmen home and personal care (HPC). Setelah proses spin-off, Unilever diproyeksikan mencatatkan pendapatan sekitar €39 miliar atau setara Rp 663 triliun berdasarkan tahun fiskal 2025.
“Dan kemampuan luar biasa McCormick, kami membangun bisnis yang fokus dan berkualitas tinggi dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dan potensi penciptaan nilai,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (9/4).
Dalam transaksi ini, Unilever bersama para pemegang sahamnya akan memperoleh sekitar 65% kepemilikan di entitas gabungan melalui saham McCormick & Company. Nilai kepemilikan tersebut setara dengan sekitar US$ 29,1 miliar, mengacu pada harga rata-rata tertimbang saham McCormick selama satu bulan terakhir di level US$ 57,84.
Unilever juga akan menerima dana tunai sebesar US$ 15,7 miliar yang akan digunakan untuk menutup biaya pemisahan dan pajak satu kali. Dana tersebut juga diharapkan menurunkan tingkat utang hingga sekitar 2,0 kali rasio utang bersih terhadap EBITDA.
Selain itu, dana ini juga akan mendukung program pembelian kembali saham senilai €6 miliar yang direncanakan berlangsung pada periode 2026–2029. Unilever menjelaskan bahwa transaksi ini mencerminkan valuasi enterprise sebesar US$ 44,8 miliar untuk bisnis Unilever Foods.
Nilai tersebut setara dengan rasio EV terhadap penjualan sebesar 3,6 kali dan EV terhadap EBITDA sebesar 13,8 kali. Valuasi ini dinilai sejalan dengan kelipatan perdagangan Unilever saat ini dan mencerminkan valuasi menarik di sektor industri makanan global.
