Komdigi Siapkan Spektrum 900 MHz dan Kaji Frekuensi 3,5 GHz
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mempersiapkan proses pelelangan pita frekuensi 900 MHz. Inisiatif ini menyusul selesainya pemerintah dalam
Komdigi Siapkan Lelang 900 MHz dan Evaluasi Frekuensi 3,5 GHz
Wartanaya.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mempersiapkan proses pelelangan pita frekuensi 900 MHz. Inisiatif ini menyusul selesainya pemerintah dalam menyelesaikan seleksi spektrum tahun 2026 yang mencakup band 700 MHz dan 2,6 GHz.
Meutya menyampaikan bahwa persiapan pemanfaatan frekuensi 900 MHz akan segera dimulai setelah proses lelang sebelumnya rampung. Ia berharap pelelangan dapat dimulai pada tahun yang sama, bersamaan dengan kajian terhadap band 3,5 GHz.
Insyaallah ke depan, persis ketika ini (lelang 700 Mhz dan 2,6 GHz) selesai, kita juga akan mempersiapkan proses pemanfaatan frekuensi di 900 MHz. Mudah-mudahan lelang dapat dimulai di tahun ini juga sambil kemudian melakukan kajian terhadap band 3,5 GHz.
Kajian Frekuensi 3,5 GHz untuk Koeksistensi Satelit
Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan jadwal pasti untuk pelelangan pita frekuensi 3,5 GHz. Komdigi masih melakukan kajian mendalam mengenai peruntukan spektrum tersebut agar selaras dengan kebutuhan konektivitas nasional serta mempertimbangkan kepentingan strategis negara.
Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi, Ismail, kajian terhadap pita frekuensi 3,5 GHz menjadi penting karena spektrum tersebut masih digunakan bersama dengan layanan satelit. Pemerintah berupaya memastikan bahwa layanan seluler dan satelit dapat beroperasi berdampingan tanpa saling mengganggu.
Untuk yang 3,5 GHz memang butuh kajian karena ini terkait dengan penggunaan spektrum sharing bersama dengan satelit.
Ismail menambahkan bahwa proses kajian berfokus pada aspek teknis guna menjamin koeksistensi layanan mobile dengan satelit sebelum spektrum tersebut dilelang. Menurutnya, hal tersebut memerlukan proses kajian yang lebih teliti.
Ketersediaan Spektrum 900 MHz Setelah Pengembalian XL
Pita frekuensi 900 MHz dinilai lebih siap untuk dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan spektrumnya telah tersedia setelah adanya pengembalian frekuensi dari operator, khususnya XLSmart yang merupakan hasil merger dengan Smartfren.
Kalau 900 ini kan free karena memang ada pengembalian kemarin dari XL waktu lelang sebelumnya, dari proses merger mereka (dengan Smartfren).
Pemerintah sebelumnya telah menetapkan pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada 21 Juli 2026. Tahapan tersebut menandai berakhirnya proses seleksi yang berlangsung sejak April 2026 dan menjadi awal penataan spektrum berikutnya untuk mendukung perluasan layanan telekomunikasi nasional.
Peningkatan Spektrum Nasional dan Tantangan Menuju 6G
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan bahwa sebelum lelang frekuensi 2026, total spektrum yang digunakan layanan mobile broadband mencapai 452 MHz. Spektrum tersebut terdiri dari pita 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.
Setelah pemerintah menambahkan spektrum baru pada tahun ini, total spektrum seluler nasional meningkat menjadi 712 MHz. Dengan penambahan frekuensi itu, komposisi spektrum masing-masing operator menjadi sebagai berikut:
Meski total spektrum meningkat signifikan, Adis menilai Indonesia masih kekurangan amunisi untuk memasuki era 6G. Ia menjelaskan bahwa setiap operator idealnya membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum yang bersebelahan untuk menggelar layanan 6G secara optimal. Sementara pita terbesar yang baru dilelang di Indonesia, yakni 2,6 GHz hanya menyediakan 190 MHz secara keseluruhan.
Nggak sampai ke 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, nggak sampai buat satu operator.
Adis mengatakan Indonesia pada akhirnya harus membuka pita frekuensi baru, terutama di mid-band. Hal ini karena low-band memiliki bandwidth terbatas, sedangkan high-band memiliki jangkauan pendek.
Menurutnya, pelepasan spektrum mid-band tidak hanya penting untuk menghadirkan layanan 6G, tetapi juga menopang perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Perkembangan AI diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan secara drastis.
Kalau kita ingin AI kita terus berkembang penggunanya ya kita butuh 6G. Jadi 6G sama AI itu kayaknya sudah setali tiga uang, sudah satu bagian satu bundling.
Indonesia perlu rilis pita mid-band baru maka bisa menuju era 6G. Ia menambahkan, apabila tidak tersedia tambahan spektrum baru, operator hanya memiliki dua pilihan untuk meningkatkan kapasitas jaringan, yakni membangun lebih banyak BTS atau melakukan peningkatan teknologi.
