Skip to content
Teknologi

Komdigi Siapkan Lelang Spektrum 900 MHz dan Kaji Frekuensi 3,5 GHz

Anthony Rodriguez - wartanaya.com 3 mins read

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyusun persiapan untuk pelelangan pita frekuensi 900 MHz. Langkah ini diambil menyusul selesainya

Komdigi Siapkan Lelang Spektrum 900 MHz dan Kaji Frekuensi 3,5 GHz

Komdigi Persiapkan Lelang 900 MHz dan Evaluasi Frekuensi 3,5 GHz

Wartanaya.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyusun persiapan untuk pelelangan pita frekuensi 900 MHz. Langkah ini diambil menyusul selesainya pemerintah dalam menyelesaikan proses seleksi spektrum tahun 2026 yang mencakup pita 700 MHz dan 2,6 GHz.

Meutya menyampaikan bahwa setelah lelang sebelumnya rampung, pihaknya akan segera memulai pemanfaatan frekuensi 900 MHz. Ia berharap proses pelelangan dapat segera dimulai pada tahun berjalan, bersamaan dengan kajian terhadap band 3,5 GHz.

Insyaallah ke depan, persis ketika ini (lelang 700 Mhz dan 2,6 GHz) selesai, kita juga akan mempersiapkan proses pemanfaatan frekuensi di 900 MHz. Mudah-mudahan lelang dapat dimulai di tahun ini juga sambil kemudian melakukan kajian terhadap band 3,5 GHz.

Kajian Mendalam untuk Frekuensi 3,5 GHz

Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan jadwal pasti untuk pelelangan pita frekuensi 3,5 GHz. Komdigi masih melakukan evaluasi terhadap peruntukan spektrum tersebut agar selaras dengan kebutuhan konektivitas nasional serta mempertimbangkan kepentingan strategis negara.

Kajian yang dilakukan akan menelaah pemanfaatan frekuensi seperti apa yang dibutuhkan ke depan bagi masyarakat dan juga kepentingan nasional sebagai negara, jelas Meutya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi, Ismail, menjelaskan bahwa kajian terhadap pita frekuensi 3,5 GHz diperlukan karena spektrum tersebut masih digunakan bersama dengan layanan satelit. Pemerintah ingin memastikan layanan seluler dan satelit dapat beroperasi berdampingan tanpa menimbulkan gangguan.

Untuk yang 3,5 GHz memang butuh kajian karena ini terkait dengan penggunaan spectrum sharing bersama dengan satelit.

Ia menuturkan, proses kajian difokuskan pada aspek teknis untuk menjamin koeksistensi layanan mobile dengan satelit sebelum spektrum tersebut dilelang. Menurutnya, hal tersebut membutuhkan proses kajian yang lebih teliti lagi.

Ketersediaan Spektrum 900 MHz

Sementara itu, menurut Ismail, pita frekuensi 900 MHz lebih siap dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan spektrumnya telah tersedia menyusul pengembalian frekuensi dari operator, khususnya XLSmart.

Kalau 900 ini kan free karena memang ada pengembalian kemarin dari XL waktu lelang sebelumnya, dari proses merger mereka (dengan Smartfren).

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada 21 Juli 2026. Tahapan tersebut menandai berakhirnya proses seleksi yang berlangsung sejak April 2026 dan menjadi awal penataan spektrum berikutnya untuk mendukung perluasan layanan telekomunikasi nasional.

Statistik Spektrum dan Tantangan Menuju 6G

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan mengatakan, sebelum lelang frekuensi 2026, total spektrum yang digunakan layanan mobile broadband mencapai 452 MHz, terdiri atas pita 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.

Setelah pemerintah menambahkan spektrum baru pada tahun ini, total spektrum seluler nasional meningkat menjadi 712 MHz. Dengan penambahan frekuensi itu, komposisi spektrum masing-masing operator menjadi sebagai berikut:

Dengan tambahan tersebut, total spektrum yang dikuasai ketiga operator mencapai 712 MHz, terdiri atas:

Kendati total spektrum meningkat signifikan, Adis menilai Indonesia masih kekurangan amunisi untuk memasuki era 6G.

Ia menjelaskan, setiap operator idealnya membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum yang bersebelahan untuk menggelar layanan 6G secara optimal. Sementara pita terbesar yang baru dilelang di Indonesia, yakni 2,6 GHz hanya menyediakan 190 MHz secara keseluruhan.

Enggak sampai ke 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, enggak sampai buat satu operator.

Dia mengatakan, Indonesia pada akhirnya harus membuka pita frekuensi baru, terutama di mid-band. Hal ini karena low-band memiliki bandwidth terbatas, sedangkan high-band memiliki jangkauan pendek.

Menurutnya, pelepasan spektrum mid-band tidak hanya penting untuk menghadirkan layanan 6G, tetapi juga menopang perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Perkembangan AI diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan secara drastis.

Adis mengatakan, kebutuhan untuk AI dengan 6G sangat berdampingan. “Kalau kita ingin AI kita terus berkembang penggunanya ya kita butuh 6G. Jadi 6G sama AI itu kayaknya sudah setali tiga uang, sudah satu bagian satu bundling,” tuturnya.

Karena itu, Indonesia perlu merilis pita mid-band baru agar bisa menuju era 6G. Ia menambahkan, apabila tidak tersedia tambahan spektrum baru, operator hanya memiliki dua pilihan untuk meningkatkan kapasitas jaringan, yakni membangun lebih banyak BTS atau melakukan peningkatan teknologi.

Join the discussion