Skip to content
Investasi Hijau

Di Ambang Punah: Data Terbaru Ungkap Krisis Populasi Orangutan di Sumatra

Michael Moore - wartanaya.com 3 mins read

Orangutan di Pulau Sumatra menghadapi ancaman kepunahan yang semakin nyata. Tren penurunan jumlah individu telah teramati bahkan sebelum bencana banjir dan

Di Ambang Punah: Data Terbaru Ungkap Krisis Populasi Orangutan di Sumatra

Krisis Orangutan Sumatra: Populasi Terancam Punah dalam Seabad

Wartanaya.com – Orangutan di Pulau Sumatra menghadapi ancaman kepunahan yang semakin nyata. Tren penurunan jumlah individu telah teramati bahkan sebelum bencana banjir dan longsor melanda wilayah tersebut tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kematian melebihi kelahiran, sehingga populasi terus menyusut.

Hasil survei komprehensif yang dilaksanakan Kementerian Kehutanan berkolaborasi dengan lembaga riset, akademisi, serta organisasi non-pemerintah pada periode 2021 hingga 2023 mencatat hanya tersisa 12.410 ekor orangutan di Sumatra. Komposisi tersebut mencakup 11.694 individu orangutan sumatra dan 716 ekor orangutan tapanuli.

Penelitian ini menjangkau seluruh wilayah jelajah kedua spesies yang diakui di Sumatra Utara. Total luas area studi mencapai 18.670 kilometer persegi, dengan pengecualian lokasi reintroduksi di Jantho dan Bukit Tigapuluh.

Penurunan Signifikan dalam Satu Dekade

Perbandingan dengan survei tahun 2011 yang memiliki cakupan wilayah lebih sempit menunjukkan penurunan drastis. Pada saat itu, populasi orangutan di Pulau Sumatra tercatat sebanyak 13.846 individu. Artinya, terjadi pengurangan lebih dari seribu ekor dalam kurun waktu satu dekade.

Jika pola penurunan ini terus berlanjut tanpa intervensi, orangutan di pulau tersebut berisiko punah dalam waktu sekitar satu abad. Situasi semakin memburuk akibat bencana tahun lalu yang kemungkinan besar menyebabkan penurunan tajam. Banyak individu tewas saat ekosistem Leuser dan Batang Toru, habitat terbesar kedua spesies ini, mengalami kerusakan parah.

Pemerintah saat ini masih melakukan penghitungan populasi pasca-bencana. Namun, merujuk pada studi berjudul “Extreme Rainfall Further Endangers The World’s Rarest Great Ape”, jumlah orangutan tapanuli yang tewas bisa mencapai ratusan ekor. Kerusakan habitat akibat bencana menjadi faktor utama.

Studi tersebut memperkirakan angka kematian antara 18 hingga 120 individu orangutan, hanya berdasarkan kerusakan di Blok Barat Batang Toru. Analisis satelit menunjukkan ribuan hektare hutan hancur di wilayah tersebut. Longsor yang terjadi berlangsung sangat cepat dan destruktif, sehingga orangutan kesulitan melarikan diri dan rentan terjebak.

Orangutan Tapanuli: Spesies Baru yang Sangat Terancam

Angka kematian diperkirakan akan semakin tinggi jika memperhitungkan faktor lain di luar bencana, seperti kerusakan kanopi hutan, hilangnya sumber makanan, serta siklus reproduksi orangutan yang tergolong lambat.

Dengan populasi di bawah seribu ekor, orangutan tapanuli telah lama dikategorikan sebagai satwa sangat terancam punah atau critically endangered. Secara morfologi, spesies ini berbeda dari orangutan sumatra. Bulu orangutan tapanuli lebih keriting dan mengembang, sementara wajahnya cenderung lebih sempit. Selain itu, suara panggilan panjang pejantan untuk menandai wilayah dan menarik pasangan juga memiliki karakteristik unik.

Sebelum tahun 2017, populasi orangutan di Batang Toru diklasifikasikan sebagai bagian dari orangutan sumatra (Pongo abelii). Penelitian yang menganalisis DNA, morfologi tengkorak, dan perilaku mengungkap bahwa populasi tersebut telah terpisah secara evolusi selama ratusan ribu tahun. Berdasarkan temuan tersebut, para ilmuwan menetapkan status spesies baru pada 2017, yaitu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Perluasan Upaya Konservasi

“Lanskap Batang Toru memiliki orangutan tapanuli dengan populasi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan dan fragmentasi yang luar biasa,” ujar Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, dalam keterangan resminya.

Annisa menambahkan bahwa data populasi orangutan tapanuli menjadi alarm serius bagi pemerintah dan pelaku usaha, khususnya yang beroperasi di kawasan Batang Toru. Ia menekankan pentingnya perlindungan tambahan bagi kawasan tersebut.

Penurunan populasi orangutan dikaitkan dengan beberapa faktor, antara lain hilangnya habitat, fragmentasi, risiko perburuan liar, perdagangan hewan, serta konflik dengan manusia. Annisa juga menyoroti fakta bahwa sebagian orangutan masih tinggal di luar hutan konservasi. Oleh karena itu, upaya perlindungan tidak boleh hanya berfokus pada kawasan yang saat ini dilindungi.

“Pemerintah harus memastikan koridor ekologis bagi orangutan tetap terhubung dengan melindungi hutan-hutan yang tersisa sekaligus memulihkan hutan-hutan yang menjadi ekosistem penghubung,” tegasnya.

Hasil survei 2021-2023 yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama mitranya juga mengungkap bahwa baru 38,5 persen orangutan sumatra berada di area perlindungan ketat seperti kawasan konservasi. Sementara sisanya berkeliaran di hutan lindung (43,4 persen) dan wilayah lainnya.

Join the discussion