Skip to content
Opini

Topics Covered: Mereka yang Kalah dalam Neraca Pertumbuhan

Patricia Miller - wartanaya.com 3 mins read

Mereka yang Kalah dalam Neraca Pertumbuhan Topics Covered – Dalam perjalanan pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberhasilan sering diukur melalui angka-angka

Topics Covered: Mereka yang Kalah dalam Neraca Pertumbuhan

Mereka yang Kalah dalam Neraca Pertumbuhan

Topics Covered – Dalam perjalanan pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberhasilan sering diukur melalui angka-angka yang mengilapkan. Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersembunyi peran-peran yang sering diabaikan, seperti pekerja informal, warga desa, dan keluarga yang menunggu layanan sambil mengorbankan waktu dan tenaga. Mereka adalah pengorbanan yang tak terlihat, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas kehidupan masyarakat. Topik yang diangkat ini menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi berdampak pada kelompok-kelompok yang tidak mendapat perhatian sebanding dengan kontribusi mereka.

Di tengah kota, seorang pengemudi ojek online menunggu pesanan dengan tangan dingin dan pikiran terus-menerus. Ia menjalani hari dengan beratnya, mengantarkan penumpang sambil menghitung penghasilan yang belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di pedesaan, keluarga yang telah menjual tanah dan sumber daya alam untuk mendukung proyek infrastruktur menerima kompensasi dalam bentuk angka, tetapi kehilangan kebun, sungai, dan kehangatan budaya yang sudah terbiasa. Di lingkungan kerja, buruh harian dengan upah minimum mencoba bertahan sambil menunggu kesempatan untuk naik ke level yang lebih baik. Mereka menjadi fondasi ekonomi, tetapi sering terabaikan dalam narasi keberhasilan.

Keberhasilan yang Diukur dalam Angka

Ekonomi Indonesia menganggap pertumbuhan sebagai bentuk produktivitas, meski keberhasilan itu tidak selalu mencerminkan kehidupan nyata. Angka seperti tingkat pertumbuhan GDP, jumlah penduduk bekerja, atau rata-rata upah buruh menjadi penanda utama keberhasilan sebuah negara. Topik Covered ini menggarisbawahi bagaimana angka-angka tersebut bisa mengabaikan kebutuhan dasar yang lebih penting. Dengan angka pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61% pada kuartal I-2026, pemerintah memperoleh alasan untuk optimis. Namun, angka tersebut juga harus dilihat dari perspektif kehidupan rakyat, bukan hanya dari sisi kebijakan.

Data BPS menunjukkan bahwa pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68%. Angka ini menggambarkan progres dalam menyerap tenaga kerja, tetapi tidak selalu mencerminkan kesejahteraan mereka. Rata-rata upah buruh yang hanya Rp3,29 juta per hari masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Topik Covered ini juga memperlihatkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi bisa jadi maskapai yang mengabaikan keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Sebuah indikator penting adalah jumlah penduduk miskin yang masih mencapai 23,36 juta orang pada September 2025, atau 8,25% dari populasi. Meski angka ini menunjukkan penurunan, perbaikan tidak otomatis menyelesaikan masalah seperti akses layanan kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup. Gini ratio yang sebesar 0,363 pada periode yang sama menunjukkan bahwa ketimpangan masih tinggi, bahkan di tengah kemajuan ekonomi. Topik Covered ini mengajak kita memikirkan bagaimana ekonomi bisa berkembang tanpa mengabaikan kehidupan manusia.

Waktu Hidup yang Dihargai dengan Kekurangan

“Disposable life” adalah konsep yang menggambarkan kehidupan yang dianggap bisa dibuang untuk menopang kehidupan orang lain yang dianggap lebih bernilai. Topik Covered ini menyoroti bagaimana konsep ini hadir dalam realitas Indonesia, di mana pekerja informal, buruh harian, dan masyarakat adat sering dianggap sebagai “sumber daya” yang tidak punya suara. Mereka menunggu, berharap, dan berjuang sambil mengorbankan kualitas hidup mereka, hanya untuk menjadi bagian dari angka yang diberikan oleh pemerintah dan pembuat kebijakan.

Tadiar, seorang pakar ekonomi, menekankan bahwa kapitalisme modern tidak hanya memperoleh tenaga kerja, tetapi juga waktu menunggu, perawatan, dan keharusan berutang. Topik Covered ini relevan dengan keadaan Indonesia, di mana kehidupan masyarakat terus-menerus dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi yang cenderung bersifat numerik. Pembangunan sering kali menyederhanakan kehidupan menjadi angka, tetapi yang terabaikan adalah makna sejarah, hubungan sosial, dan nilai-nilai budaya yang sudah terbangun dalam waktu berabad-abad.

Keberlanjutan negara tidak hanya tergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada bagaimana kehidupan manusia diukur. Topik Covered ini menunjukkan bahwa angka-angka pertumbuhan bisa menjadi penghalang untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat. Dari rumah kontrakan hingga desa yang terpinggirkan, kehidupan berjalan dengan pengorbanan yang tidak terlihat, tetapi sangat berarti. Ekonomi harus belajar memadukan data dan kehidupan manusia, agar pertumbuhan tidak hanya menjadi cerita angka, tetapi juga menjadi kisah kemanusiaan.

Join the discussion