Skip to content
Teknologi

Key Discussion: RI Bersiap Masuk Era 6G, Mastel Desak Pemerintah Siapkan Frekuensi Upper 6 GHz

Lisa Davis - wartanaya.com 4 mins read

nesia Menuju Era 6G: Mastel Ingatkan Pemerintah Siapkan Frekuensi Upper 6 GHz Key Discussion menjadi topik utama dalam upaya Indonesia untuk masuk ke era

Key Discussion: RI Bersiap Masuk Era 6G, Mastel Desak Pemerintah Siapkan Frekuensi Upper 6 GHz

Indonesia Menuju Era 6G: Mastel Ingatkan Pemerintah Siapkan Frekuensi Upper 6 GHz

Key Discussion menjadi topik utama dalam upaya Indonesia untuk masuk ke era teknologi jaringan seluler generasi keenam, 6G. Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mendesak pemerintah segera menyiapkan akses frekuensi Upper 6 GHz sebagai fondasi pengembangan 5G-Advanced dan 6G. Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga keterlibatan Indonesia dalam inovasi telekomunikasi global, terutama mengingat frekuensi tersebut akan menjadi kebutuhan utama untuk mengakselerasi kecepatan dan kapasitas jaringan seluler di masa depan.

Persiapan Sejak Dini: Tantangan dan Peluang

Dalam Key Discussion yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di Jakarta, Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menekankan bahwa pengembangan teknologi 6G harus dimulai sekarang. Ia menyatakan bahwa tingkat adopsi layanan 5G di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain, sehingga menjadi momentum yang tepat untuk membangun fondasi yang kuat.

“Pembangunan 6G tidak bisa dipisahkan dari keberadaan frekuensi Upper 6 GHz. Jika 5G sudah berkembang, melompat ke 6G tidak menjadi hambatan, tetapi kesiapan frekuensi menjadi kunci,” ujar Sarwoto setelah menghadiri Seminar dan Workshop Nasional bertajuk “Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia” pada Kamis (9/7).

Menurutnya, tanpa perencanaan dini, Indonesia berisiko tertinggal saat teknologi global sudah siap mengadopsi 6G. “Kita perlu memastikan infrastruktur dan spektrum yang sesuai, agar tidak kewalahan ketika pasar dan ekonomi global menuntut kecepatan adaptasi,” tambah Sarwoto.

Frekuensi Upper 6 GHz: Faktor Penentu Teknologi Masa Depan

Key Discussion menyebutkan bahwa Upper 6 GHz, yaitu rentang frekuensi 6425–7125 MHz, memiliki potensi besar dalam mendukung jaringan mobile broadband yang lebih cepat dan berkapasitas tinggi. Frekuensi ini dianggap sebagai elemen kritis dalam mendorong transisi ke teknologi 5G-Advanced dan 6G, yang membutuhkan kecepatan data hingga 10 Gbps serta latency rendah di bawah 1 ms.

“Upper 6 GHz bisa menjadi penggerak utama untuk inovasi teknologi. Ini bukan sekadar kebutuhan untuk 5G, tapi juga untuk menghadapi 6G secara lebih cepat,” kata Sarwoto dalam siaran pers.

Selain itu, frekuensi ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, khususnya di bidang industri 4.0, kesehatan, dan pemerintahan. Pemanfaatan Upper 6 GHz akan memungkinkan pengembangan aplikasi seperti koneksi terbuka (open RAN) dan edge computing yang menjadi andalan untuk 6G.

Dalam Key Discussion, Mastel menyoroti bahwa alokasi frekuensi Upper 6 GHz masih dalam proses kebijakan. Tantangan utama terletak pada koordinasi antara regulator, operator, dan pihak swasta. “Kebijakan ini harus segera diambil agar Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang,” jelas Sarwoto. Ia juga menambahkan bahwa frekuensi Upper 6 GHz bisa menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan spektrum yang ada di sektor telekomunikasi saat ini.

Strategi Pemanfaatan Spektrum: Dari 5G ke 6G

Persiapan menuju 6G tidak berarti mengabaikan pengembangan 5G-Advanced, menurut Key Discussion. Sarwoto menggarisbawahi bahwa teknologi 5G tetap menjadi batu loncatan penting sebelum 6G benar-benar terwujud. “Kita harus memastikan 5G diterapkan secara optimal di segala sektor, agar bisa membangun ekosistem yang solid untuk 6G,” tambahnya. Menurut data, saat ini 5G hanya digunakan oleh sebagian kecil populasi, terutama di kota-kota besar, sehingga ada kebutuhan untuk memperluas cakupannya.

Key Discussion juga menekankan bahwa frekuensi Upper 6 GHz akan mendukung pengembangan layanan IoT (Internet of Things) dan aplikasi kritis seperti kesehatan jarak jauh (telemedicine) serta otomasi industri. Dengan kecepatan transfer data yang tinggi, teknologi ini bisa mempercepat proses digitalisasi di berbagai bidang. Sarwoto menyebutkan bahwa pemanfaatan Upper 6 GHz tidak hanya memperkuat kapasitas jaringan, tetapi juga memberikan keleluasaan bagi operator untuk mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan pasar.

Kolaborasi untuk Kebijakan Strategis

Pada Key Discussion yang diadakan oleh Mastel, hadir sejumlah stakeholder seperti Komisi Nasional Teknologi Informasi (Komnaskom), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan perusahaan teknologi global seperti Huawei dan Qualcomm. Forum ini diharapkan mendorong pembentukan kebijakan spektrum yang lebih komprehensif.

“Hasil Key Discussion ini akan menjadi dasar untuk penyesuaian regulasi dan perencanaan teknis di Indonesia,” kata Sarwoto.

Selain itu, Mastel menyarankan pembentukan kelompok kerja khusus yang fokus pada pengembangan 5G-Advanced dan 6G. Tujuannya adalah mempercepat transisi teknologi serta meningkatkan daya saing ekonomi digital nasional di tingkat global.

Key Discussion menekankan bahwa ekosistem digital Indonesia perlu dijejaki dengan strategi yang terintegrasi. Dengan mengalokasikan frekuensi Upper 6 GHz, pemerintah akan membuka peluang bagi pengembangan perangkat dan layanan yang lebih inovatif. “Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kebijakan yang mendorong investasi dan inisiatif swasta,” jelas Sarwoto. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri adalah kunci untuk meraih manfaat teknologi 6G secara maksimal.

Menurut Sarwoto, Key Discussion di Jakarta menjadi momentum untuk menyatukan visi pembangunan teknologi seluler. “Kita harus memikirkan masa depan, bukan hanya untuk saat ini,” tegasnya. Dengan menyiapkan frekuensi Upper 6 GHz, Indonesia bisa menjadi pelaku aktif dalam pengembangan 6G, bukan hanya penonton. Tantangan utama adalah kecepatan implementasi dan keselarasan antara kebijakan dengan kebutuhan industri. Sarwoto berharap pemerintah segera mengambil keputusan untuk memastikan teknologi 6G bisa diadopsi secara luas di tahun 2030.

Join the discussion