Latest Program: Internet 5G Masih Lelet, Mastel Usul Indonesia Langsung Adopsi 6G
Latest Program: Indonesia Usulkan Langsung Adopsi Teknologi 6G Meski 5G Masih Lambat Latest Program - Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memberikan
Latest Program: Indonesia Usulkan Langsung Adopsi Teknologi 6G Meski 5G Masih Lambat
Latest Program – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera memulai persiapan infrastruktur 6G, meski jaringan internet 5G di Indonesia hingga saat ini masih tergolong lambat. Ketua Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menilai adopsi teknologi generasi berikutnya bisa dilakukan tanpa harus menunggu pengembangan 5G mencapai titik optimal.
Adopsi 5G Masih Jauh dari Target
Saat ini, cakupan jaringan 5G di Indonesia hanya mencapai sekitar 10% dari total populasi. Hal ini terungkap dalam diskusi selama Seminar & Workshop Nasional yang diadakan di Jakarta, Kamis (9/7). Sarwoto menyatakan, meskipun teknologi 5G sedang dikembangkan, kecepatan adopsinya masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan digitalisasi sektor ekonomi dan masyarakat.
“Adopsi teknologi baru berkembang jika mampu memberikan manfaat nyata bagi usaha dan masyarakat. Jadi, 5G perlu dipercepat agar bisa menjadi fondasi 6G,” tambah Sarwoto.
6G: Solusi untuk Masa Depan Digital Indonesia
Mastel berargumen bahwa Indonesia seharusnya langsung bergerak menuju teknologi 6G, mengingat potensi transisi ke generasi lebih tinggi bisa mempercepat proses transformasi digital. Sarwoto menegaskan, investasi dalam infrastruktur 6G tidak berarti mengabaikan pengembangan 5G, tetapi justru memberikan momentum untuk mempersiapkan era baru.
“Kalau jalan raya sudah ada, teknologi apa yang digunakan di atasnya bisa dipilih. Bisa 5G, atau langsung berkembang ke 6G,” jelas Sarwoto. Ia menekankan bahwa sektor teknologi harus memprioritaskan langkah strategis yang mengarah ke teknologi terdepan.
Kendala dalam Implementasi 5G
Selain cakupan yang terbatas, Sarwoto menyoroti tantangan lain dalam adopsi 5G, seperti jumlah pengguna perangkat kompatibel yang belum signifikan dan pemanfaatan teknologi di sektor industri yang masih kurang optimal. Ia menyatakan bahwa dengan menunggu 5G mencapai tingkat penuh, Indonesia mungkin kehilangan kesempatan untuk melompat langsung ke 6G.
“Investasi masif untuk 5G belum cukup menarik karena pengguna perangkat yang kompatibel masih sedikit. Selain itu, pemanfaatan 5G di sektor ekonomi juga belum maksimal,” terang Sarwoto. Ia menambahkan, dengan adopsi 6G, Indonesia bisa mengejar kemajuan global dalam teknologi komunikasi.
Langkah Strategis untuk 6G
Menurut Sarwoto, langkah strategis dalam persiapan 6G mencakup alokasi spektrum frekuensi, kerja sama antar sektor, dan peningkatan kualitas jaringan. Ia menyarankan pemerintah untuk mulai menyusun rencana teknis dan regulasi yang mendukung pengembangan 6G sejak sekarang, agar tidak tertinggal dari negara-negara lain.
“Pengembangan 6G tidak bisa dilakukan secara terpisah dari 5G. Spektrum frekuensi yang digunakan untuk teknologi ini harus dipersiapkan agar bisa menciptakan ekosistem yang lebih cepat dan canggih,” jelas Sarwoto. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah, operator telekomunikasi, dan pihak swasta.
Sebagai bagian dari Latest Program, Mastel menawarkan rekomendasi bahwa pemerintah Indonesia sebaiknya fokus pada pengembangan teknologi 6G sebagai bagian dari strategi digitalisasi jangka panjang. Sarwoto yakin, dengan adopsi 6G, negara ini bisa mempercepat transformasi sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur kritis lainnya. Perubahan ini juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui inovasi teknologi yang lebih cepat dan kapasitas lebih besar.
