Topics Covered: Usai Tertahan 4 Bulan, Kapal Pertamina Pride Akhirnya Tinggalkan Selat Hormuz
Kapal Pertamina Pride Melewati Selat Hormuz Setelah Tertahan 4 Bulan Topics Covered - Topik yang Dibahas – Kapal tanker Pertamina Pride, yang beroperasi di
Kapal Pertamina Pride Melewati Selat Hormuz Setelah Tertahan 4 Bulan
Topics Covered – Topik yang Dibahas – Kapal tanker Pertamina Pride, yang beroperasi di bawah PT Pertamina International Shipping (PIS), akhirnya berhasil menyeberangi Selat Hormuz setelah mengalami penahanan hampir empat bulan akibat konflik di wilayah Timur Tengah. Keberhasilan ini menjadi momen penting bagi perusahaan energi nasional yang terus berupaya memastikan pasokan minyak mentah tetap stabil meski menghadapi risiko keamanan yang tinggi.
Perjalanan yang Tertunda Akibat Ketegangan Regional
Kapal tersebut sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi, dengan tujuan Kilang Pertamina Cilacap di Jawa Tengah. Namun, sejak awal Maret, konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel memanas, menyebabkan gangguan pada jalur pelayaran utama. Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis pengangkutan minyak, menjadi titik kritis yang memicu penahanan kapal Pertamina Pride selama hampir 120 hari.
Menurut data pelacakan dari MarineTraffic, Rabu (8/7), kapal tersebut kini berada di perairan Oman dan bergerak dengan kecepatan 10 knot menuju destinasi akhir. Ini menandai akhir dari perjalanan yang penuh tantangan, di mana Pertamina Pride harus beradaptasi dengan kondisi keamanan yang tidak menentu sepanjang periode tertahan. Keberangkatan kapal menjadi bukti bahwa keberhasilan pengangkutan minyak tetap dapat dicapai meski dalam situasi krisis.
Detil Perjalanan dan Respons Perusahaan
Data pelacakan menunjukkan bahwa Pertamina Pride keluar dari Teluk Persia dan berlanjut perjalanan ke Indonesia. Reuters melaporkan bahwa kapal ini termasuk dalam sejumlah tanker yang berhasil melewati Selat Hormuz di tengah meningkatnya risiko serangan terhadap armada pelayaran internasional. Meski situasi masih terus dipantau, keberhasilan ini memberikan harapan bagi kestabilan pasokan energi nasional.
Katadata.co.id menghubungi PT Pertamina (Persero) untuk memperoleh klarifikasi mengenai pergerakan Kapal Pertamina Pride. Hingga saat ini, perusahaan belum memberikan respons resmi, meski sebelumnya menyatakan bahwa kapal masih dalam proses perizinan. Muhammad Baron, saat diwawancarai di Grha Pertamina, Kamis (2/7), mengungkapkan bahwa pengangkutan kargo masih tertunda karena Selat Hormuz kembali memanas.
“Kapal Pertamina Pride hingga saat ini masih dalam proses perizinan. Selat Hormuz kembali memanas, sehingga pengangkutan kargo dari kapal tersebut masih tertunda,” kata Muhammad Baron saat diwawancarai di Grha Pertamina, Kamis (2/7).
Baron menambahkan bahwa kapal ini mengangkut pasokan minyak mentah yang sangat vital untuk Kilang Pertamina Cilacap. Setelah melewati Selat Hormuz, kapal akan melanjutkan perjalanan ke kilang tersebut. Selain Pertamina Pride, kapal Gamsunoro juga sempat terjebak di wilayah Teluk Arab, tetapi telah melewati titik kritis pada 25 Juni pukul 20.00 WIB.
Kapal Gamsunoro mulai bergerak dari Teluk Arab pada Rabu pukul 01.06 waktu Dubai atau sekitar 04.06 WIB. Ia berlayar dengan kecepatan 7,5 knot dan tiba di mulut Selat Hormuz sekitar pukul 13.00 waktu setempat atau 16.00 WIB. Empat jam setelahnya, kapal dinyatakan aman untuk melintasi selat tersebut.
Dalam situasi ketegangan yang berlangsung, Pertamina terus berupaya mempercepat pengiriman minyak mentah ke Indonesia. Proses perizinan dan koordinasi dengan instansi terkait, seperti Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Indonesia di Teheran, menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam mengatasi hambatan di Selat Hormuz. Vega Pita, Pjs. Sekretaris Perusahaan PIS, menjelaskan bahwa keputusan mengirimkan Gamsunoro diambil setelah evaluasi risiko yang dilakukan selama hampir satu bulan.
“Keputusan mengirimkan Gamsunoro diambil setelah kami melakukan evaluasi risiko selama hampir satu bulan serta berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Indonesia di Teheran, dan berbagai instansi terkait,” ujar Vega Pita, Pjs. Sekretaris Perusahaan PIS.
Perjalanan Pertamina Pride dan Gamsunoro menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan energi Indonesia beradaptasi dengan dinamika geopolitik global. Dengan melewati Selat Hormuz, dua kapal ini kembali memperkuat kapasitas pengangkutan minyak mentah ke pasar domestik, yang merupakan tulang punggung kebutuhan energi nasional. Meski keamanan di wilayah Timur Tengah masih menjadi perhatian, langkah ini menunjukkan komitmen Pertamina dalam menjaga stabilitas pasokan energi.
