Penyelidikan Kematian Sutrimo Mengarah pada Kesimpulan Sementara Tanpa Unsur Pidana
Wartanaya.com – Polda Metro Jaya menyatakan penelusuran atas kematian Sutrimo telah mencapai tahap penting setelah penyidik memeriksa bukti forensik, hasil autopsi, serta rekaman kamera pengawas dari sejumlah lokasi. Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, polisi untuk sementara menilai belum ditemukan indikasi tindak pidana dalam peristiwa ini.
Sutrimo dikenal dalam perkara ini sebagai sosok yang diduga bekerja sebagai Kepala Rumah Tangga bagi mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Febrie Adriansyah. Kematian tersebut semula dilaporkan keluarga dengan dugaan pembunuhan berencana. Namun, arah penyidikan berkembang setelah aparat mengumpulkan bukti tambahan dan melakukan pemeriksaan medis terhadap jenazah.
Tiga Pokok Pemeriksaan
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, I Dewa Putu Gede Anom Danujaya, menjelaskan bahwa penyidik memusatkan perhatian pada tiga unsur utama. Ketiganya mencakup pemeriksaan laboratorium dari olah tempat kejadian perkara, autopsi jenazah, dan penelusuran rekaman CCTV.
“Kami fokus ke korban dan hasil kegiatan forensik yang telah dilakukan,” kata Anom dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (30/9).
Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk menyusun gambaran utuh mengenai kondisi terakhir korban, kemungkinan penyebab kematian, serta pergerakan Sutrimo sebelum ditemukan. Bukti elektronik dipandang penting karena dapat membantu menghubungkan rangkaian waktu dengan lokasi-lokasi yang sempat didatangi korban.
Pada fase awal, dugaan pembunuhan berencana muncul dari keterangan saksi dan hasil olah TKP pertama. Polisi kemudian memperluas pendalaman setelah memperoleh rekaman kamera pengawas dari lingkungan sekitar lokasi penemuan jenazah. Analisis rekaman itu selanjutnya menjadi salah satu pertimbangan untuk melakukan ekshumasi dan autopsi.
Celah Waktu di Klinik Mordent
Lokasi penemuan Sutrimo, yakni Klinik Kecantikan Mordent, menjadi salah satu titik yang diperiksa secara mendalam. Klinik tersebut tidak memiliki sistem CCTV. Kondisi ini membuat penyidik tidak dapat melihat secara langsung keadaan korban dalam rentang waktu antara pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 09.00 WIB.
Pada sekitar pukul 09.00 WIB, Sutrimo dibawa menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Ketiadaan rekaman dari dalam klinik membuat pemeriksaan medis dan penelusuran CCTV di sekitar lokasi memiliki peran lebih besar dalam menjelaskan apa yang terjadi sebelum korban dibawa ke rumah sakit.
Polisi berhasil menelusuri keberadaan serta kondisi Sutrimo sejak kurang lebih pukul 21.00 WIB pada 22 Juli 2025. Dalam jejak aktivitas yang diperiksa, Warung Pecel Lele Sambal Setan disebut sebagai tempat terakhir yang didatangi korban, sekitar pukul 03.00 hingga 05.30 WIB. Jenazah Sutrimo kemudian ditemukan di Klinik Kecantikan Mordent pada 23 Juli 2026.
Rangkaian waktu ini menjadi bagian penting dalam penyidikan karena penyidik perlu menautkan bukti digital, informasi saksi, catatan medis, dan kondisi fisik korban. Penelusuran seperti ini tidak hanya berfokus pada satu lokasi, melainkan juga pada perpindahan korban dan pihak-pihak yang mungkin mengetahui aktivitas terakhirnya.
Autopsi Tidak Menemukan Luka Kekerasan
Hasil autopsi menjadi salah satu dasar utama bagi kesimpulan sementara Polda Metro Jaya. Pemeriksaan terhadap jasad Sutrimo tidak menemukan luka yang disebabkan oleh senjata tajam maupun benda tumpul. Temuan itu membuat penyidik belum melihat adanya bukti fisik yang mengarah pada kekerasan kriminal.
“Proses penyidikan yang kami laksanakan menunjukkan kondisi korban, sebab kematian, dan alat bukti elektronik. Karena itu, kami mendapatkan kesimpulan sementara tidak ada tindakan pidana,” katanya.
Kesimpulan sementara berarti penyelidikan tetap didasarkan pada bukti yang telah tersedia pada tahap ini. Polisi masih mencocokkan hasil pemeriksaan forensik dengan dokumen-dokumen lain untuk memastikan seluruh informasi yang relevan telah dinilai secara menyeluruh.
Dalam perkara kematian yang pada awalnya memunculkan dugaan tindak pidana, autopsi berfungsi sebagai pemeriksaan medis untuk mencari tanda kekerasan, cedera, atau kondisi lain yang dapat menerangkan penyebab kematian. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan bukti dari tempat kejadian, rekaman elektronik, dan keterangan pihak terkait.
Dokumen Medis dan Ambulans Masih Didalami
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyampaikan bahwa penyidik juga memeriksa sejumlah dokumen. Materi yang didalami meliputi rekam medis, riwayat pemesanan ambulans, serta informasi mengenai lokasi awal jenazah Sutrimo ditemukan.
Pemeriksaan dokumen itu diperlukan untuk menyusun kronologi secara rinci, khususnya pada periode ketika rekaman CCTV dari Klinik Mordent tidak tersedia. Hingga tahap tersebut, kepolisian juga belum memastikan status pekerjaan Sutrimo.
“Penyelidikan dilakukan secara profesional, hati-hati, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk memperoleh fakta secara utuh,” kata Budi dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (27/7).
Bekas Klinik Mordent di Jalan Kramat Pela turut menarik perhatian karena lokasinya berjarak sekitar 450 meter dari kediaman pribadi Febrie Adriansyah melalui penelusuran Google Maps. Meski lokasi tersebut berada relatif dekat, Polda Metro Jaya belum mengumumkan adanya hubungan antara tempat penemuan jenazah, penyebab kematian Sutrimo, maupun pihak tertentu.
Dengan demikian, fokus perkara masih berada pada pembuktian faktual atas kematian Sutrimo. Kepolisian menempatkan hasil autopsi, rekaman CCTV yang tersedia, rekam medis, serta data ambulans sebagai bagian dari rangkaian bukti untuk memastikan kronologi peristiwa dapat dijelaskan secara utuh.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polda Metro Telusuri Kronologi Kematian Sutrimo?
Polda Metro Telusuri Kronologi Kematian Sutrimo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polda Metro Telusuri Kronologi Kematian Sutrimo matter?
Polda Metro Telusuri Kronologi Kematian Sutrimo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

