Industri

Hadapi EUDR, Rainforest Alliance Tekankan Pentingnya Dampak Terukur bagi Petani

Hadapi_EUDR_Rainforest_Alliance_Tekankan_Pentingnya_Dampak_Teruk-2026_10_16-11_24_41_0205dc32d70c4c1c99ee9f509f994d0f_960x640_thumb

Ketertelusuran EUDR Dinilai Harus Berujung pada Manfaat Nyata bagi Petani

Wartanaya.com – Persiapan menghadapi European Union Deforestation Regulation (EUDR) mendorong rantai pasok komoditas Indonesia menjadi semakin terbuka dan terdokumentasi. Pelaku usaha perlu mampu menunjukkan asal bahan baku, status legalitas produksi, serta memastikan produk yang dipasarkan ke Uni Eropa tidak terkait dengan deforestasi.

Namun, penguatan data dan kepatuhan administrasi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan program keberlanjutan. Perubahan yang dirasakan petani serta perlindungan lingkungan tetap menjadi tujuan yang lebih mendasar dalam penerapan berbagai standar tersebut.

Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance Chandra Panjiwibowo menekankan bahwa regulasi dan sertifikasi pada dasarnya merupakan perangkat untuk membaca kemajuan sekaligus mengurangi risiko di dalam rantai pasok. Nilai akhirnya tetap terletak pada dampak positif yang muncul di tingkat produsen, terutama petani.

“Yang terpenting, apakah itu EUDR, apakah itu skema sertifikasi Rainforest Alliance, apakah skema sertifikasi yang lainnya, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menciptakan dampak positif bagi petani kita. Itu yang penting,” ujar Chandra dalam talkshow ACT! Project di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, Tangerang, Kamis (15/10).

Sertifikasi dan EUDR Memiliki Fungsi Berbeda

Dalam pembahasan bertajuk Keterlacakan sebagai Nilai Tambah: Membuktikan Kesiapan 4 Komoditas Indonesia Menghadapi EUDR dan Menembus Pasar Global, Chandra menjelaskan bahwa sertifikasi dapat digunakan untuk menilai perkembangan penerapan praktik berkelanjutan. Di sisi lain, EUDR berfungsi kuat sebagai mekanisme pengendalian risiko, khususnya dalam pemenuhan aturan dan pencegahan deforestasi.

Prinsip tersebut bukan hal baru bagi berbagai sistem sertifikasi pertanian berkelanjutan. Standar yang telah berkembang selama ini juga menempatkan asal-usul bahan baku, pengelolaan kebun, kondisi sosial produsen, dan perlindungan lingkungan sebagai bagian penting dari rantai pasok yang bertanggung jawab.

Teknologi pemetaan digital memberi dukungan besar bagi proses ini. Lokasi kebun dapat diidentifikasi dengan lebih jelas, batas lahan bisa dipetakan, dan perjalanan komoditas dari area produksi menuju pembeli berikutnya dapat dicatat secara lebih terukur. Bagi perusahaan, informasi tersebut membantu membangun bukti kepatuhan. Bagi petani, data yang tertata dapat membuka ruang untuk melihat kondisi kebun secara lebih menyeluruh.

Ketertelusuran juga dapat dimanfaatkan untuk mengenali kebutuhan di lapangan, bukan sekadar memenuhi dokumen perdagangan. Informasi mengenai lokasi dan praktik produksi dapat membantu mengidentifikasi peluang peningkatan produktivitas, kebutuhan pendampingan, maupun perbaikan tata kelola kebun.

“Pada akhirnya, tujuan program berkelanjutan itu adalah petani sejahtera dan lingkungan terjaga,” kata Chandra.

Komoditas yang Tercakup dalam Regulasi

EUDR merupakan aturan Uni Eropa yang dirancang untuk memastikan sejumlah komoditas serta produk terkait yang masuk ke pasar kawasan tersebut tidak berasal dari area deforestasi. Regulasi ini juga menuntut pemenuhan ketentuan legalitas dalam proses produksi.

Tujuh kelompok komoditas masuk dalam cakupan aturan tersebut: kelapa sawit, sapi, kayu, kakao, kedelai, kopi, dan karet. Cakupannya tidak berhenti pada bahan mentah. Sejumlah produk turunan turut masuk, termasuk kulit, cokelat, ban, serta furnitur.

Kewajiban ini berlaku bagi perusahaan yang mengimpor, memproduksi, atau mengekspor produk dan turunannya ke maupun dari pasar Uni Eropa. Pihak yang menempatkan barang di pasar Uni Eropa atau mengeksporkannya dari kawasan itu digolongkan sebagai operator. Sementara itu, trader menjalankan peran distribusi dan penjualan produk.

Salah satu unsur penting dalam EUDR adalah batas waktu deforestasi pada 31 Desember 2020. Komoditas yang berada dalam ruang lingkup regulasi harus berasal dari lahan yang tidak mengalami deforestasi setelah tanggal tersebut. Khusus produk kayu, persyaratan regulasi juga menyentuh upaya mencegah degradasi hutan.

Tenggat Kepatuhan dan Uji Tuntas

Penerapan EUDR dijadwalkan dimulai pada 30 Desember 2026 untuk operator besar dan menengah. Tanggal yang sama juga berlaku bagi operator mikro dan kecil tertentu yang sebelumnya tercakup dalam EU Timber Regulation atau EUTR.

Sebagian besar operator mikro dan kecil lainnya memperoleh waktu lebih panjang, hingga 30 Juni 2027. Perbedaan tenggat itu memberi ruang bagi pelaku usaha dengan skala berbeda untuk menyiapkan data, sistem, dan proses pemenuhan ketentuan yang diperlukan.

Operator yang masuk dalam kewajiban regulasi perlu melaksanakan uji tuntas atau due diligence. Proses ini mencakup pengumpulan informasi asal komoditas, penilaian risiko, hingga pelaksanaan mitigasi apabila ditemukan risiko yang memerlukan penanganan. Produk yang diperdagangkan juga harus memenuhi standar bebas deforestasi serta legalitas produksi dan disertai pernyataan uji tuntas.

Bagi petani kecil, kesiapan menghadapi kebutuhan rantai pasok tersebut berkaitan erat dengan tersedianya data kebun yang akurat. Geolokasi dan peta batas lahan menjadi informasi penting karena memungkinkan asal komoditas ditelusuri sejak dari kebun sampai ke tahapan distribusi berikutnya.

Meski demikian, beban kewajiban tidak sama bagi seluruh pihak. Petani tidak selalu memegang kewajiban langsung seperti operator yang menempatkan produk di pasar Uni Eropa. Dalam praktiknya, petani dan pemasok tetap dapat diminta menyediakan informasi oleh pembeli agar perusahaan di sepanjang rantai pasok dapat menjalankan kewajiban EUDR.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kerja bersama antara petani, koperasi, pemasok, perusahaan, dan pihak pendukung keberlanjutan. Kualitas data perlu diperkuat, tetapi prosesnya juga perlu diarahkan untuk menciptakan nilai yang dapat dirasakan produsen. Dengan begitu, kesiapan menuju pasar global tidak hanya berbentuk kepatuhan regulasi, melainkan juga penguatan kesejahteraan petani dan perlindungan lingkungan dalam jangka panjang.

Frequently Asked Questions

What is Hadapi EUDR Rainforest Alliance Tekankan Pentingnya?

Hadapi EUDR Rainforest Alliance Tekankan Pentingnya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hadapi EUDR Rainforest Alliance Tekankan Pentingnya matter?

Hadapi EUDR Rainforest Alliance Tekankan Pentingnya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *