Skip to content
Daerah

Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang, Pemadaman Masih Dilakukan dari Udara

Michael Moore - wartanaya.com 4 mins read

Kawah Ijen, salah satu destinasi alam paling ikonik di Jawa Timur, masih berhadapan dengan sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman

Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang, Pemadaman Masih Dilakukan dari Udara

Asap di Kawah Ijen Menipis, Tapi Ancaman Api Belum Sepenuhnya Padam

Wartanaya.com – Kawah Ijen, salah satu destinasi alam paling ikonik di Jawa Timur, masih berhadapan dengan sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Wisata Alam (TWA) miliknya. Meski intensitas api telah mereda secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, sejumlah titik bara yang tersisa di medan terjal belum sepenuhnya padam. Kondisi ini memaksa petugas tetap menjalankan operasi pendinginan dan penyisiran secara intensif agar bara tersebut tidak kembali menyala dan menyebar ke area yang lebih luas.

Peninjauan Langsung oleh Bupati Banyuwangi

Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi, turun langsung ke lokasi untuk memantau perkembangan penanganan kebakaran. Dalam peninjauannya, ia mengakui bahwa titik-titik api yang sebelumnya terkonsentrasi di sepanjang jalur pendakian kini telah berkurang berkat kerja tim gabungan yang melakukan pemadaman dan penyisiran kawasan secara bertahap.

“Namun, beberapa titik masih menimbulkan asap dan terindikasi ada kerawanan akan adanya api,” ujar Ipuk saat meninjau lokasi karhutla di TWA Kawah Ijen, Selasa (8/9).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa situasi belum sepenuhnya aman. Asap yang masih mengepul dari beberapa titik menjadi indikator bahwa material organik di bawah permukaan tanah belum sepenuhnya dingin dan berpotensi memicu percikan baru, terutama jika disertai angin kencang atau suhu tinggi.

Helikopter Water Bombing Dipercepat Sejak Minggu

Untuk mempercepat proses pemadaman di area yang sulit dijangkau secara darat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengerahkan helikopter water bombing mulai Minggu (6/9). Penerbangan ini memungkinkan tim menjangkau lereng curam dan punggung gunung yang tidak bisa diinjak oleh personel darat. Air yang diturunkan dari udara berfungsi meredam bara di permukaan sekaligus menurunkan suhu tanah di sekitar titik api.

Di samping operasi udara, tim gabungan di darat menjalankan dua tugas utama: pendinginan dan penyisiran. Pendinginan bertujuan memastikan bahwa setiap sisa bara yang terdeteksi benar-benar dingin dan tidak akan kembali menyala. Penyisiran dilakukan untuk memetakan ulang area yang telah dipadamkan sehingga tidak ada titik api tersembunyi yang terlewat. Kombinasi kedua langkah ini menjadi kunci agar kebakaran tidak mengalami siklus berulang.

Medan Terjal Gunung Papak Jadi Tantangan Terbesar

Salah satu segmen yang masih dinilai cukup krusial berada di sekitar Gunung Papak, bagian dari rangkaian pegunungan Ijen. Topografi di kawasan ini sangat terjal, dengan kemiringan curam, tebing batuan, dan vegetasi semak yang tebal. Kondisi medan semacam ini menyulitkan pergerakan personel darat dan membatasi efektivitas alat pemadam manual. Akibatnya, operasi di segmen ini lebih bergantung pada dukungan udara dan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan area yang relatif datar.

Linimasa dan Luas Area Terdampak

Kebakaran di kawasan pegunungan Ijen pertama kali dilaporkan pada awal September 2026. Dalam beberapa hari berikutnya, api merambat dan memasuki kawasan TWA Kawah Ijen, yang kemudian memicu penutupan sementara seluruh aktivitas wisata di lokasi tersebut sejak 4 September 2026. Penutupan ini mencakup jalur pendakian, area kawah, dan fasilitas pendukung lainnya.

Pada awal pekan ini, BPBD Jawa Timur merilis estimasi bahwa area terdampak kebakaran di kawasan Gunung Ijen mencapai sekitar 20 hektare. Angka tersebut mencakup lahan yang telah hangus sepenuhnya maupun area yang mengalami kerusakan parsial akibat panas dan asap.

Bagian dari Pola Karhutla Regional di Jawa Timur

Kebakaran di Ijen tidak berdiri sendiri. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan juga terpantau di sejumlah kawasan pegunungan lain di Jawa Timur, antara lain Gunung Semeru, Gunung Wilis, Gunung Ungup-ungup, Gunung Arjuno-Welirang, serta Bukit Sariwani. Pola serentak ini menunjukkan bahwa faktor pemicu—baik cuaca kering, angin kencang, maupun aktivitas manusia—berlaku secara regional dan menuntut koordinasi penanganan lintas kawasan.

Secara ekologis, kawasan pegunungan Ijen menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk spesies endemik dan habitat burung yang bergantung pada tutupan hutan lebat. Kebakaran yang melanda area seluas 20 hektare berpotensi mengganggu siklus reproduksi satwa, mengubah komposisi vegetasi, serta meningkatkan risiko erosi tanah di lereng curam. Bagi sektor pariwisata, penutupan sementara TWA Kawah Ijen berdampak langsung pada pendapatan masyarakat sekitar yang bergantung pada jasa pemandu, penginapan, dan transportasi lokal.

Upaya pemulihan pasca-kebakaran nantinya akan mencakup penanaman kembali vegetasi asli, pemantauan kualitas air di kawah, serta evaluasi terhadap infrastruktur jalur pendakian yang mungkin mengalami kerusakan akibat panas dan hujan pasca-api. Hingga seluruh titik bara dipastikan padam dan kondisi dinyatakan aman oleh tim gabungan, aktivitas wisata di kawasan Kawah Ijen akan tetap ditutup demi keselamatan pengunjung dan petugas.

Frequently Asked Questions

What is Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang Pemadaman?

Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang Pemadaman is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang Pemadaman matter?

Karhutla Kawah Ijen Mulai Berkurang Pemadaman matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion