Aksi #IndonesiaSadar di Bundaran HI Berakhir Tertib
Wartanaya.com – Ribuan mahasiswa yang memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, mengakhiri aksi #IndonesiaSadar pada Rabu (28/10) sekitar pukul 19.45 WIB. Setelah peserta meninggalkan lokasi, kondisi di sepanjang Jalan M.H. Thamrin hingga Bundaran HI perlahan kembali kondusif.
Aksi tersebut berlangsung sejak pukul 14.30 WIB dan mempertemukan mahasiswa dari berbagai kampus, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok buruh dan petani. Meski hujan turun pada sekitar pukul 18.40 WIB, massa tetap bertahan sambil menyuarakan pesan persatuan.
“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”
Seruan itu menjadi salah satu pekikan utama yang terdengar selama aksi berlangsung. Para peserta menegaskan kehadiran mereka tidak semata membawa identitas kampus atau organisasi masing-masing, melainkan menyatukan perhatian terhadap berbagai persoalan kebijakan publik.
Aliansi Kampus dan Elemen Masyarakat Sipil
Gerakan ini digerakkan oleh aliansi mahasiswa dari delapan perguruan tinggi, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Mahasiswa dari sejumlah kampus lain juga bergabung dalam barisan aksi.
Kehadiran peserta turut diperkuat oleh Front Mahasiswa Nasional, Pembaru Indonesia, Serikat Perempuan Indonesia atau Seruni, serta aliansi yang mewakili buruh dan petani. Komposisi massa yang beragam memperlihatkan bahwa isu yang disuarakan melampaui kepentingan satu kelompok.
Di sekitar area aksi, Aliansi Ibu Indonesia menyiapkan posko logistik. Posko tersebut menyediakan makanan ringan dan air minum bagi peserta. Dukungan kebutuhan dasar seperti ini membantu peserta yang mengikuti kegiatan hingga malam hari, terutama ketika cuaca berubah menjadi hujan.
Seruan Mengawal Kebijakan Secara Berkelanjutan
Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia, Fathimah, menyampaikan bahwa semangat persatuan pada momentum tersebut perlu diteruskan dalam pengawasan terhadap arah kebijakan negara. Ia mengaitkan aksi itu dengan nilai kebersamaan yang lekat dengan peringatan Sumpah Pemuda.
“Tapi dalam hal-hal lainnya bagaimana anggaran kita dikeluarkan, bagaimana lahan-lahan kita dikelola, bagaimana ruang-ruang sipil kita harus dipertahankan itu semua bergantung pada kita seperti hari ini,” ujar Fathimah di lokasi aksi, Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10).
Pernyataan itu menempatkan aksi jalanan sebagai bagian dari perhatian publik yang lebih panjang terhadap penggunaan anggaran, pengelolaan lahan, dan perlindungan ruang sipil. Pesan yang dibawa peserta adalah bahwa keterlibatan warga tidak berhenti ketika sebuah aksi selesai digelar.
Fathimah juga menilai perbedaan identitas organisasi tidak seharusnya menghambat kerja bersama. Ketika berbagai kelompok sipil memilih berdiri dalam satu barisan, daya dengar suara publik dinilai menjadi lebih kuat.
“Hari ini menjadi hari di mana kita semua mengingat bahwa jumlah kita akhirnya bisa lebih banyak dari orang-orang yang menghadapi kita,” katanya.
Pesan tersebut menggambarkan pentingnya solidaritas lintas kampus dan lintas kelompok. Aksi bersama memberi ruang bagi mahasiswa, pekerja, petani, kelompok perempuan, dan warga lain untuk menyampaikan perhatian yang saling berkaitan dalam satu forum terbuka.
Tuntutan Pembebasan Rekan yang Diamankan
Selain menyuarakan persatuan, peserta juga membawa desakan agar rekan-rekan mereka yang sempat tertahan atau diamankan di sejumlah titik penyekatan dapat segera dibebaskan. Hal itu disampaikan Vincent, perwakilan massa dari Universitas Padjadjaran, di tengah suasana ramai di Bundaran HI.
“Suara saya habis karena meneriakkan dua pekikan: ‘Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan’ dan ‘Bebaskan kawan-kawan kami’. Kawan-kawan yang di sana perlu dilepaskan dan dibebaskan untuk bisa bersatu di sini sama-sama,” ujar Vincent di lokasi aksi.
Desakan tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas peserta tidak hanya diarahkan pada isu kebijakan yang lebih luas, tetapi juga pada keselamatan dan kebebasan rekan mereka yang tidak dapat bergabung di lokasi utama aksi.
Sekitar pukul 17.54 WIB, suasana Bundaran HI menguat ketika massa membentuk lingkaran dan menyampaikan orasi secara bersama-sama. Menjelang penutupan, banyak peserta mengangkat tiga jari, yang digunakan sebagai simbol perlawanan, solidaritas, dan kebebasan sipil.
Penutupan aksi dilakukan setelah rangkaian orasi, pekikan, dan penguatan solidaritas berlangsung selama beberapa jam. Ketika massa membubarkan diri pada malam hari, arus kegiatan di kawasan pusat Jakarta tersebut berangsur mereda.
Makna Persatuan di Ruang Publik
Aksi #IndonesiaSadar menunjukkan bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat bagi kelompok yang berbeda latar untuk menyampaikan pandangan secara kolektif. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hadir bersama organisasi perempuan, buruh, petani, dan unsur masyarakat sipil lainnya.
Dalam konteks peringatan Sumpah Pemuda, pertemuan lintas identitas itu membawa penekanan pada persatuan sebagai kekuatan untuk mengawal kepentingan publik. Peserta menempatkan kebijakan anggaran, pengelolaan lahan, dan ruang sipil sebagai isu yang membutuhkan perhatian bersama secara berkelanjutan.
Berakhirnya aksi pada pukul 19.45 WIB menandai selesainya kegiatan di Bundaran HI pada hari itu. Namun, seruan yang berulang sepanjang aksi menegaskan harapan peserta agar keterlibatan warga dalam mengawasi kebijakan negara tetap dijaga setelah massa meninggalkan lokasi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Massa Mahasiswa di Bundaran HI Bubar?
Massa Mahasiswa di Bundaran HI Bubar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Massa Mahasiswa di Bundaran HI Bubar matter?
Massa Mahasiswa di Bundaran HI Bubar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

