Skip to content
Industri

Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit Dua Bulan

Anthony Taylor - wartanaya.com 3 mins read

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan angka negatif pada Juni 2026 sebesar US$450 juta

Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit Dua Bulan

Analisis Mendag: Harga Minyak Global Dorong Defisit Perdagangan RI

Wartanaya.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan angka negatif pada Juni 2026 sebesar US$450 juta. Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan defisit Mei yang mencapai US$1,6 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kondisi negatif tersebut utamanya disebabkan oleh sektor minyak dan gas (migas) yang masih tertekan.

“Defisit pada Juni terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas sebesar US$3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng.

Di sisi lain, perdagangan nonmigas tetap mencatatkan surplus sebesar US$3,04 miliar. Nilai ini ditopang oleh ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Data BPS juga menunjukkan bahwa nilai impor Indonesia pada Juni mencapai US$25,91 miliar atau naik 34,27% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan ekspor yang tumbuh 8,84% menjadi US$25,46 miliar. Lonjakan impor terutama didorong oleh impor migas yang meningkat 105,15% menjadi US$4,56 miliar.

Faktor Utama: Lonjakan Harga Minyak Dunia

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dalam dua bulan terakhir. Meski demikian, pemerintah optimistis neraca perdagangan akan kembali mencatatkan surplus seiring meningkatnya kinerja ekspor.

Menurut Mendag, penyebab utama defisit bukan berasal dari melemahnya perdagangan nonmigas, melainkan lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan nilai impor migas. Ia menjelaskan bahwa harga minyak mencapai puncaknya pada bulan Maret-April di atas US$110 per barel, padahal sebelumnya berada di bawah US$100. Kenaikan harga minyak menyebabkan nilai satuan impor per ton meningkat sekitar 14% jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret. Akibatnya, nilai impor Indonesia membengkak meski volume barang yang diimpor tidak mengalami perubahan signifikan.

“Ini karena harga minyak yang naik. Bulan Maret-April itu puncaknya harga minyak di atas US$110 per barel, padahal sebelumnya di bawah US$100,” katanya.

Berdasarkan simulasi Kementerian Perdagangan, apabila harga minyak tetap berada pada level Maret dengan volume ekspor dan impor seperti saat ini, Indonesia seharusnya masih mampu mencatatkan surplus neraca perdagangan sekitar US$2,73 miliar.

“Kalau nilai satuan impornya menggunakan kondisi bulan Maret dibandingkan bulan Juni, maka kita surplus US$2,73 miliar. Jadi ini lebih terutama karena harga minyak naik,” ujarnya.

Kinerja Ekspor dan Impor Semester I 2026

Budi mengatakan, secara kumulatif kinerja perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor Januari-Juni 2026 tumbuh 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan surplus neraca perdagangan mencapai sekitar US$3,5 miliar.

“Kemudian bulan Mei memang defisit US$1,6 miliar, tapi sekarang bulan Juni defisitnya US$450 juta. Artinya sudah mulai membaik karena ekspor kita juga meningkat. Dari bulan Mei ke Juni naik 9,7%,” ujar Budi ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada Januari-Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar atau tumbuh 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, impor meningkat lebih tinggi sebesar 18,69% menjadi US$137,24 miliar. Selain kebutuhan energi, kenaikan impor juga berasal dari meningkatnya impor bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk mendukung aktivitas produksi dalam negeri.

Meski mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,58 miliar pada semester I 2026. Surplus tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$19,35 miliar yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar US$15,77 miliar.

Budi mengatakan strategi yang dapat dilakukan adalah terus mendorong peningkatan ekspor agar surplus neraca perdagangan tetap terjaga.

Frequently Asked Questions

What is Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit?

Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit matter?

Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion