WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ancang-Ancang Motor Listrik Nasional di Tengah Tren Penurunan Minat Konsumen

Published Agustus 26, 2026 · Updated Agustus 26, 2026 · By Richard Wilson - wartanaya.com

Foto : Richard Wilson - wartanaya.com

Motor Listrik Nasional Diluncurkan, Namun Pasar Masih Lesu

Wartanaya.com – Sebuah sirine meraung memenuhi ruangan di Cikarang saat Presiden Prabowo Subianto menekan tombol peluncuran program Motor Listrik Nasional, yang disingkat Molinas. Acara tersebut berlangsung pada Kamis (13/8), ketika Prabowo—berkemeja safari coklat dan berpeci—mengunjungi fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group, anak usaha PT Indika Energy Tbk yang memproduksi motor listrik bermerek Alva.

Sebelum naik ke panggung, Prabowo meninjau area produksi dan area pameran. Di sana ia melihat langsung unit Gesits, hasil kerja sama PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dengan PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi, serta motor listrik dari PT LEN Industri. Pidato singkatnya berlangsung sekitar 30 menit sebelum ia mengaktifkan sirine peluncuran. Para hadirin, yang didominasi pejabat, berdiri dan bertepuk tangan.

Angka Penjualan yang Turun Tajam

Molinas menandai fase baru elektrifikasi transportasi di Indonesia. Kendaraan listrik memang kian sering terlihat di jalanan, dan pada 2024 penjualan motor listrik sempat melonjak hingga 77 ribu unit berkat subsidi Rp7 juta per unit. Namun, begitu kuota subsidi habis, angka langsung anjlok.

Pada 2025, penjualan motor listrik merosot 28% menjadi 55 ribu unit, sementara total penjualan seluruh motor mencapai 6,4 juta unit. Dengan demikian, pangsa pasar motor listrik belum menyentuh 1% dari total kendaraan roda dua di dalam negeri.

Kondisi tahun ini diprediksi tetap lesu. Budi Setiyadi, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), menjelaskan bahwa ketidakpastian kebijakan subsidi membuat banyak calon pembeli menahan diri. Hingga Agustus 2026, penjualan baru mencapai 25.000 unit—lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Garansi, layanan purna jual, transparansi kesehatan baterai, dan nilai jual kembali yang lebih terukur akan meningkatkan kepercayaan perusahaan pembiayaan terhadap aset motor listrik," kata Budi.

Budi menambahkan bahwa subsidi semata belum cukup untuk mendongkrak penjualan tanpa dukungan ekosistem layanan yang memadai.

Suara dari Kalangan Konsumen

Sementara sirine peluncuran masih menggema, Luthfia (26), warga Kota Depok, justru menunduk menatap laptopnya. Selama beberapa bulan terakhir, ia aktif meneliti berbagai merek motor listrik—membandingkan harga, membaca spesifikasi, hingga bertanya langsung kepada pemilik unit.

"Ini bakal jadi motor pertama yang kubeli pakai uang sendiri," katanya, kepada Katadata.

Luthfia semula berniat membeli motor konvensional. Rencana subsidi motor listrik yang beredar membuatnya mulai mempertimbangkan kendaraan bebas emisi. Namun, berbulan-bulan berlalu tanpa kejelasan kebijakan. Bahkan setelah Molinas diluncurkan, informasi soal subsidi masih simpang siur.

Bagi Luthfia, harga menjadi faktor penentu. Ia mengakui biaya operasional motor listrik lebih hemat, tetapi keraguan soal layanan purna jual dan tingginya harga jual membuatnya belum yakin.

"Kalau ada subsidi sih yakin aja mau ambil motor listrik. Tapi kalau belum jelas begini, kayaknya tetep beli motor konvensional. Sudah butuh soalnya," katanya.

Harga dan Skema Subsidi yang Masih Kabur

Produk Alva dibanderol mulai dari kisaran Rp18 juta hingga Rp35 juta dengan sistem sewa baterai, yang berarti konsumen tetap menanggung biaya bulanan di luar pengisian ulang. Motor Gesits dijual pada rentang Rp20 juta hingga Rp28 juta.

Di sisi kebijakan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah sedang menyiapkan anggaran hingga Rp3 triliun untuk mensubsidi 1 juta unit motor listrik. Artinya, potongan per unit menjadi Rp3 juta—lebih kecil dari rencana awal Rp5 juta.

"Saya pikir paling 100.000 unit sampai akhir tahun," katanya.

Purbaya menilai target subsidi untuk 1 juta unit kemungkinan tidak tercapai pada 2026 karena kapasitas produksi motor listrik nasional dinilai belum memadai. Hingga artikel ini ditulis, pemerintah belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai skema subsidi maupun jadwal implementasinya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ancang Ancang Motor Listrik Nasional di Tengah?

Ancang Ancang Motor Listrik Nasional di Tengah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ancang Ancang Motor Listrik Nasional di Tengah matter?

Ancang Ancang Motor Listrik Nasional di Tengah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.