Telkom, Indosat, hingga DCI Indonesia Berebut Cuan dari Ledakan Data Center
Perebutan Pasar Pusat Data: Empat Emiten Indonesia Bersaing di Era Ledakan Komputasi
Wartanaya.com – Lonjakan permintaan komputasi telah mengubah lanskap bisnis pusat data di Indonesia menjadi arena persaingan yang semakin ketat. Empat emiten — PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchusion Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) — kini berlomba membangun eksposur di sektor ini, masing-masing dengan pendekatan bisnis serta skala operasional yang tidak identik.
Penilaian Analis: Pasar Masih di Fase Awal
Dalam riset berjudul Mapping Indonesia's Data Center Race: Early-Stage Growth with a Deep Pipeline, BRI Danareksa Sekuritas menyimpulkan bahwa industri pusat data domestik masih berada pada tahap pertumbuhan dini. Fase ini, menurut lembaga riset tersebut, justru membuka peluang lebar bagi pelaku yang sudah memegang aset eksisting maupun yang sedang menggarap kapasitas baru.
Empat emiten di atas diklasifikasikan sebagai pihak dengan keterpaparan paling langsung terhadap pembangunan pusat data. Adapun PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalam Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dinilai masih menempati posisi yang lebih awal dan perlu terus dipantau. Perbedaan keempat pemain utama tampak jelas dari sisi kepemilikan aset, kapasitas terpasang, hingga arah strategi pengembangan.
"Mengingat pasar masih berada pada tahap awal, kepastian pasokan daya dan skala operasi akan menjadi penentu bagi perusahaan yang akan unggul," kata tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (24/8).
DCI Indonesia: Satu-Satunya Pure-Play dengan Skala Nyata
Dari keempat nama tersebut, DCII menempati posisi paling matang secara operasional. Perusahaan ini mengelola total 128 megawatt (MW) kapasitas IT yang tersebar di empat fasilitas.
Dua fasilitas hyperscale menjadi tulang punggung operasinya. Fasilitas H1 di Cibitung mengoperasikan 73 MW, sementara H2 di Karawang menyumbang 27 MW. Keduanya masih menyimpan ruang ekspansi yang sangat besar: riset BRI Danareksa mencatat H1 berpotensi ditingkatkan hingga 220 MW, sedangkan H2 dapat dikembangkan melampaui 600 MW.
Di segmen edge, DCII mengoperasikan fasilitas berkapasitas 19 MW di Jakarta dan 9 MW di Surabaya. Kombinasi seluruh aset ini menjadikan DCII satu-satunya emiten yang disebut BRI Danareksa sebagai listed pure-play data center dengan skala operasional yang sudah terwujud secara nyata.
Pandangan jangka panjang perusahaan tertuang dalam proyek H3 Sky DC Park di Bintan. Fasilitas tersebut dirancang dengan kapasitas pengembangan di atas 1.000 MW dan ditopang lahan seluas sekitar 700 hektare. Untuk membiayai ambisi ekspansi ini, DCII telah mengunci fasilitas pinjaman senilai Rp 17 triliun dari Bank Central Asia (BCA), yang memberikan ruang pendanaan signifikan bagi rencana peningkatan kapasitas.
Telkom dan NeutraDC: Menuju 300 MW pada 2030
Telkom menyalurkan eksposur pusat datanya melalui entitas NeutraDC. Saat ini, kapasitas IT yang sudah beroperasi di NeutraDC mencapai 90,4 MW, dengan target total 300 MW pada tahun 2030.
Kampus pusat data di Cikarang menjadi salah satu motor pertumbuhan. Kampus pertama dirancang dengan kapasitas 21,5 MW; dari jumlah itu, 3,5 MW telah beroperasi, sementara 18 MW lainnya sudah selesai dibangun dan dikontrak namun masih dalam tahap penyesuaian teknis bersama penyewa. Telkom juga telah menyiapkan lahan untuk kampus kedua di lokasi yang sama, sehingga total kapasitas yang direncanakan di Cikarang menyentuh 120 MW. Di luar Cikarang, NeutraDC mengoperasikan fasilitas 18 MW di Batam serta 17,4 MW di Singapura.
Langkah strategis berikutnya adalah divestasi 70% saham NeutraDC. Telkom tengah memproses transaksi tersebut dengan rencana menggandeng operator pusat data global sebagai mitra strategis. Media melaporkan valuasi NeutraDC dalam transaksi ini berkisar antara US$ 1 miliar (setara Rp 17,7 triliun pada kurs Rp 17.705 per dolar AS) hingga US$ 1,5 miliar (Rp 26,5 triliun). Kehadiran mitra global diharapkan memperkuat kapabilitas operasional NeutraDC, khususnya dalam melayani pelanggan hyperscaler.
Indosat: Jalur Berbeda Melalui BDx dan Zankore
ISAT mengambil pendekatan yang berbeda. Eksposur perseroan bersumber dari dua entitas: BDx Indonesia, di mana ISAT memegang 25% saham, serta Zankore, perusahaan AI neocloud yang dikembangkan bersama Ooredoo.
BDx mengoperasikan 30 MW kapasitas melalui tiga fasilitas edge. Di segmen hyperscale, fasilitas CGK4 di Jatiluhur telah berdiri dengan kapasitas 72 MW dan dirancang untuk dapat dikembangkan hingga 500 MW. Proyek berikutnya, CGK5, diproyeksikan menambah 110 MW kapasitas baru. Untuk menopang seluruh rencana pengembangan tersebut, BDx telah mengamankan komitmen pasokan listrik dari PLN sebesar 1,2 GW.
Di luar infrastruktur fisik, ISAT juga menyimpan potensi eksposur terhadap bisnis yang belum sepenuhnya terungkap dalam riset ini.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Telkom Indosat hingga DCI Indonesia Berebut?Telkom Indosat hingga DCI Indonesia Berebut is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Telkom Indosat hingga DCI Indonesia Berebut matter?Telkom Indosat hingga DCI Indonesia Berebut matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.