Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI, Emiten Mana yang Diuntungkan?
Wartanaya.com – Ledakan kecerdasan buatan alias AI mulai memasuki babak baru. Setelah investasi besar mengalir ke data center, cloud , jaringan telekomunikasi, dan komputasi, penggunaan AI diperkirakan semakin bergeser ke otomatisasi fisik melalui robot , mesin otonom, dan peralatan industri berbasis AI.
Riset KB Valbury Sekuritas bertajuk The AI Economy: Unlocking Indonesia’s Growth Potential Amid Structural Constraints pada 21 Agutus 2026 menyebut perkembangan AI di Indonesia akan berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama berupa pembangunan infrastruktur pendukung seperti data center, cloud, telekomunikasi, fiber, listrik, dan sistem pendingin.
Tahap kedua mencakup software AI, data platform , keamanan siber, serta pengembangan kemampuan tenaga kerja. Adapun tahap ketiga adalah otomatisasi fisik yang mencakup robotika, peralatan otonom, sensor industri, dan mesin yang dilengkapi AI.
Perubahan tersebut berpotensi membuka peluang baru bagi perusahaan Indonesia, terutama yang berada di sektor pertambangan, manufaktur, komponen, dan infrastruktur pendukung.
Berdasarkan data e-Conomy SEA , Cisco, dan World Bank 2026, KB Valbury mengungkapkan manufaktur dan pertambangan merupakan sektor dengan kebutuhan belanja modal tinggi ketika adopsi AI memasuki tahap otomatisasi fisik.
Pada manufaktur, aplikasi berikutnya diperkirakan mencakup computer vision , robotika, digital twins , hingga produksi otonom. Kebutuhan belanja modal antaralain untuk robot industri, sensor, peralatan otomatisasi, dan edge computing .
Sementara di sektor pertambangan, penerapan berikutnya mencakup kendaraan otonom, eksplorasi berbasis AI, dan predictive maintenance . Kebutuhan belanja modalnya antara lain peralatan otonom, sensor, konektivitas, dan edge computing .
Namun, peluang bagi emiten Indonesia tidak serta-merta berarti perusahaan tersebut memiliki eksposur langsung terhadap industri robotika. Posisi masing-masing emiten dalam rantai pasok perlu dilihat lebih jauh.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan Indonesia saat ini belum memiliki deposit neodymium atau rare earth yang signifikan dan telah terkonfirmasi secara komersial. “Jadi eksposur langsung ke rare earth mining masih minim,” kata Wafi kepada Katadata.co.id , Senin (24/8).
Menurutnya, komoditas yang lebih relevan adalah nikel sebagai base metal untuk komponen baterai dan motor. Namun, keterkaitan nikel dengan robotika secara spesifik masih lebih lemah karena penggunaannya lebih erat dengan ekosistem kendaraan listrik dibandingkan komponen seperti reducer atau actuator robot.
Selain nikel, tembaga dinilai memiliki relevansi karena digunakan sebagai material konduktor yang umum pada komponen listrik dan motor. Analis komoditas sekaligus Pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan terdapat tiga komponen mekanikal utama dalam robot humanoid maupun robot industri, yakni actuator atau motor penggerak, strain wave atau cycloidal reducer atau girboks presisi tinggi, serta magnet permanen.
Untuk magnet permanen berdaya tinggi, salah satu material penting adalah neodymium . Di Indonesia, Wahyu melihat potensi logam tanah jarang tersebut dari mineral ikutan, terutama monasit yang terdapat pada tailing tambang timah.
Namun, peluang itu masih membutuhkan proses panjang sebelum dapat menjadi bisnis komersial berskala besar.
Wahyu mengatakan Indonesia masih menghadapi hambatan berupa belum tersedianya fasilitas pemurnian logam tanah jarang (LTJ) tingkat lanjut untuk menghasilkan neodymium murni. Indonesia juga belum memiliki industri hilir permesinan presisi tinggi untuk memproduksi komponen seperti harmonic drive maupun cycloidal reducer .
Dengan kondisi tersebut, peluang jangka pendek Indonesia lebih banyak berada di sisi hulu dan komponen pendukung. Adapun nilai tambah terbesar dari industri robot masih berada pada teknologi dan manufaktur komponen presisi.
“Jangka panjang sangat besar seiring eskalasi adopsi robotika global, namun posisi Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di sektor hulu komoditas,” kata Wahyu.
Berikut pemetaan emiten yang disebut atau relevan berdasarkan analisis kedua narasumber dan riset KB Valbury:
Peluang robotika tidak hanya datang dari sisi pasokan bahan baku. Emiten pertambangan Indonesia juga mulai menjadi pengguna AI dan otomatisasi dalam kegiatan operasionalnya.
KB Valbury mencatat belanja AI terkait pertambangan saat ini masih kurang dari 5% dari total belanja modal pertambangan. Namun, porsinya berpotensi meningkat ketika penggunaan AI bergeser dari sekadar analitik dan monitoring menuju peralatan otonom dan otomatisasi proses.
Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI Emiten?Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI Emiten is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI Emiten matter?Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI Emiten matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.