Yenny Wahid: Warisan Terbesar Gus Dur Itu Bela Keadilan tanpa Pandang Identitas
Yenny Wahid: Warisan Gus Dur adalah Membela Keadilan
Wartanaya.com – Yenny Wahid menegaskan bahwa warisan terbesar Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah keberanian membela keadilan tanpa memandang identitas seseorang. Pandangan tersebut disampaikan saat Katadata memberikan Lifetime Achievement Award kepada tiga tokoh nasional, termasuk Gus Dur.
Menurut Yenny Wahid, Gus Dur tidak semata-mata dapat dipahami sebagai pembela kelompok minoritas. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, itu berpegang pada nilai kemanusiaan universal dan menentang penzaliman terhadap siapa pun.
Gus Dur Membela Mereka yang Dizalimi
Yenny Wahid mengatakan pembelaan Gus Dur tidak ditentukan oleh latar belakang agama, status sosial, maupun posisi seseorang sebagai mayoritas atau minoritas. Yang menjadi dasar sikapnya adalah adanya ketidakadilan.
“Dianggap Gus Dur itu adalah sekadar pembela minoritas. Gus Dur bukan pembela minoritas. Gus Dur adalah pembela orang-orang yang dizalimi. Kalau yang kebetulan dizalimi adalah minoritas, akan dibela sampai mati. Kalau yang dizalimi adalah mayoritas, juga pasti akan dibela,” kata Yenny dalam malam apresiasi Lifetime Achievement Award Katadata Indonesia di Sequis Tower, Jakarta Selatan, Senin (26/10).
Putri Gus Dur itu juga mengenang pendidikan yang diterimanya di lingkungan keluarga. Sejak kecil, keluarganya diajarkan untuk melihat nilai manusia di atas pangkat, jabatan, atau penampilan fisik.
Prinsip tersebut tampak dalam kebiasaan Gus Dur menerima tamu dari beragam kalangan secara setara. Presiden maupun tukang becak, kata Yenny, mendapat tempat yang sama tanpa sekat VIP.
“Mau presiden, mau tukang becak, semua diterima di bawah. Bagi Gus Dur yang paling utama itu harkat dan martabat manusia itu sendiri, bukan apa yang menjadi bungkusnya. Bukan bungkus, tapi substansi,” tuturnya.
Yenny Wahid Soroti Sikap Memaafkan Gus Dur
Selain pembelaan terhadap keadilan, Yenny Wahid menilai Gus Dur memiliki kelenturan moral dan kebesaran hati untuk memaafkan. Sikap itu terlihat setelah Gus Dur terpilih sebagai presiden pada era pascareformasi.
Ketika banyak pihak pada masa reformasi menjauhi Soeharto, Gus Dur justru datang menemui Presiden kedua RI tersebut. Padahal, semasa Orde Baru, Gus Dur dikenal kritis terhadap pemerintah.
“Ketika semua orang zaman Orde Baru datang sungkem sowan Pak Harto, Gus Dur malah kritis. Ketika semua orang zaman reformasi menjauhi Pak Harto, Gus Dur datang. Bagi saya, ini memaafkan level yang paling tinggi,” ujar Yenny.
Keadilan Ekonomi dan Ancaman Radikalisme
Dalam kesempatan itu, Yenny Wahid turut memaparkan riset Wahid Foundation mengenai kerentanan masyarakat terhadap intoleransi dan radikalisme. Anak muda serta kelompok yang mengalami frustrasi sosial-ekonomi disebut sebagai dua kelompok yang paling rentan terpapar radikalisasi.
Menurutnya, kelompok tersebut kerap menjadi sasaran provokasi oknum politisi atau organisasi masyarakat yang menggunakan bahasa agama dan identitas untuk menguasai sumber daya. Karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu disertai keadilan ekonomi agar kesenjangan sosial tidak semakin lebar.
“Bagi Gus Dur dulu, yang paling penting itu bukan pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus ada keadilan ekonomi. Pertumbuhan tanpa keadilan akan menciptakan jurang sosial tinggi yang sangat rentan diprovokasi,” ucapnya.
Yenny Wahid juga mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap politisi maupun kelompok yang mengeksploitasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.
Bagi Yenny Wahid, penghargaan Lifetime Achievement Award dari Katadata menjadi pengingat agar perjuangan Gus Dur tidak berhenti sebagai kenangan. Ia berharap generasi penerus meneruskan cita-cita Indonesia yang toleran, mandiri, dan berkeadilan.
Dua tokoh lain yang menerima penghargaan serupa ialah Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie serta pendiri Grup Astra William Soeryadjaya. Acara tersebut berlangsung menjelang Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Ketiganya dinilai telah meletakkan tiga pilar penting bagi Indonesia, yakni inovasi teknologi, kemanusiaan dan persatuan, serta kekuatan industri nasional.
FAQ tentang Pernyataan Yenny Wahid
Apa warisan utama Gus Dur menurut Yenny Wahid?
Menurut Yenny Wahid, warisan utama Gus Dur adalah membela orang yang dizalimi dan memperjuangkan keadilan tanpa melihat identitas mayoritas maupun minoritas.
Mengapa Yenny Wahid menekankan keadilan ekonomi?
Yenny Wahid menilai pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan dapat memperlebar jurang sosial. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih rentan terhadap provokasi intoleransi dan radikalisme.
Siapa penerima Lifetime Achievement Award Katadata?
Penghargaan diberikan kepada Gus Dur, BJ Habibie, dan William Soeryadjaya atas kontribusi mereka terhadap kemanusiaan dan persatuan, inovasi teknologi, serta kekuatan industri nasional.