Upaya Pengendalian Inflasi di Sulampua, BI Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan
Ketahanan Pangan Jadi Kunci Menjaga Harga di Sulampua
Wartanaya.com – Kenaikan harga pangan segera terasa dalam kehidupan rumah tangga. Harga beras yang meningkat dapat memengaruhi porsi konsumsi sehari-hari, cabai yang sulit didapat membuat kebutuhan dapur berubah, sementara keterlambatan ikan dari sentra produksi ke pasar berisiko menurunkan kualitasnya. Situasi inilah yang mendorong penguatan pasokan dan distribusi pangan di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua atau Sulampua.
Pemerintah bersama Bank Indonesia menempatkan konektivitas wilayah, efisiensi logistik, serta rantai pasok yang kuat sebagai bagian penting dari pengendalian inflasi. Langkah ini semakin relevan ketika cuaca ekstrem berpotensi mengganggu produksi maupun perjalanan bahan pangan antardaerah.
Dampak Inflasi Terlihat di Meja Makan
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A. M. Djiwandono menekankan bahwa inflasi pangan bukan sekadar perubahan angka dalam statistik. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat saat memenuhi kebutuhan harian.
“Masyarakat tidak mengenal inflasi pangan hanya sebagai angka statistik, melainkan masyarakat langsung merasakan dampak dari inflasi pangan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Sulampua 2026 di Makassar, Jumat (23/10).
Karena itu, pengendalian harga tidak hanya berkaitan dengan jumlah hasil panen atau produksi di suatu daerah. Bahan pangan harus tersedia pada waktu yang tepat, dapat diangkut dengan lancar, dan sampai ke konsumen dengan mutu yang tetap terjaga. Rantai distribusi yang terhambat dapat menyebabkan pasokan tidak merata, meski produksi di daerah asal sebenarnya mencukupi.
Thomas menilai sejumlah inovasi daerah dapat menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama di kawasan timur Indonesia. Sulawesi Selatan telah mengembangkan peternakan ayam dengan sistem closed house sebagai dukungan bagi produksi. Di Gorontalo, program Taksi Nelayan diarahkan untuk membantu aktivitas perikanan.
“Success story tersebut menjadi fondasi penting bagi Sulampua untuk memperluas sinergi, mereplikasi praktik yang sudah sukses di daerah lain, dan memastikan pengendalian inflasi memberikan dampak yang lebih nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Thomas.
Praktik yang telah berjalan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi daerah lain, terutama dalam mencari solusi yang sesuai dengan karakter komoditas dan kondisi wilayah masing-masing. Produksi ayam, hasil laut, beras, hingga hortikultura memerlukan pola penanganan berbeda agar pasokan tidak terganggu sebelum tiba di pasar.
Tekanan Harga Pangan Masih Perlu Diwaspadai
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada September 2026 berada di level 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year. Capaian itu masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen.
Namun, perkembangan kelompok pangan bergejolak tetap membutuhkan perhatian khusus. Inflasi volatile food tercatat mencapai 5,03 persen secara tahunan. Pada rentang 21 September hingga 21 Oktober 2026, harga cabai merah besar naik 25,82 persen, sedangkan cabai merah keriting meningkat 22,38 persen.
Pergerakan harga cabai memperlihatkan betapa rentannya sejumlah komoditas terhadap perubahan cuaca dan hambatan pasokan. Komoditas pangan segar biasanya membutuhkan distribusi cepat. Gangguan dalam pengangkutan, keterlambatan kapal, atau cuaca yang tidak mendukung dapat segera memengaruhi ketersediaan barang di pasar.
Pengendalian inflasi karenanya tidak dapat hanya mengandalkan penambahan produksi. Pemerintah juga perlu memastikan keterhubungan antarwilayah, menekan biaya logistik, memperkuat lembaga pangan, dan meningkatkan koordinasi dari tingkat pusat hingga daerah.
Sulawesi Selatan Hadapi Tantangan Rantai Dingin
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi menyebut provinsi tersebut memiliki posisi penting sebagai pemasok berbagai kebutuhan pangan. Komoditas yang dihasilkan mencakup beras, cabai, bawang merah, jagung, telur, ayam, dan ikan.
Peran tersebut membawa tantangan besar ketika kondisi iklim berubah dan kebutuhan distribusi ke berbagai daerah meningkat. Keterbatasan fasilitas rantai dingin atau cold chain menjadi salah satu persoalan, terutama bagi komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu. Biaya angkutan laut yang tinggi juga menambah beban distribusi di wilayah kepulauan.
“Hambatan utama saat ini adalah keterbatasan rantai dingin atau cold chain, serta tingginya biaya distribusi logistik melalui angkutan laut,” kata Fatmawati.
Penguatan produksi di tingkat petani dan pelaku usaha perlu berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur. Pemerintah daerah mendorong pemanfaatan lahan rawa secara optimal, penggunaan pompa, serta penyediaan listrik untuk mendukung kegiatan pertanian. Jalan dan irigasi juga memiliki peran penting karena menentukan kelancaran hasil produksi menuju titik pengumpulan maupun pasar.
Untuk masyarakat, perbaikan rantai pasok berarti peluang pasokan pangan yang lebih stabil dan harga yang lebih terjangkau. Bagi produsen, akses distribusi yang baik dapat membantu hasil panen atau tangkapan sampai ke pembeli dengan risiko kerusakan yang lebih kecil.
Antisipasi Risiko Cuaca hingga Februari 2027
Gangguan jalur logistik menjadi perhatian lain dalam pengendalian harga. Ketika arus barang tersendat, ketersediaan pangan dapat terganggu dan tekanan inflasi semakin sulit diredam. Karena itu, diperlukan penguatan keterjangkauan harga, kecukupan pasokan, distribusi yang lancar, mitigasi dampak iklim, serta kerja sama antarpemangku kepentingan.
Kolaborasi antardaerah, dukungan badan usaha milik negara di sektor logistik, dan pelaksanaan program stabilisasi pasokan serta harga pangan menjadi bagian dari langkah yang disiapkan. Pendekatan bersama diperlukan karena satu daerah dapat berperan sebagai penghasil, sementara wilayah lain menjadi pasar atau membutuhkan dukungan pasokan pada periode tertentu.
Ancaman cuaca ekstrem, termasuk El Nino yang diperkirakan perlu diwaspadai hingga Februari 2027, menambah alasan untuk memperkuat kesiapan sejak awal. Risiko tersebut dapat memengaruhi hasil produksi dan mobilitas bahan pangan. Ketahanan pangan di Sulampua pada akhirnya bukan hanya soal meningkatkan volume produksi, melainkan memastikan pangan dapat bergerak dari sumbernya hingga sampai ke meja makan masyarakat secara lancar.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Upaya Pengendalian Inflasi di Sulampua BI Tekankan?Upaya Pengendalian Inflasi di Sulampua BI Tekankan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Upaya Pengendalian Inflasi di Sulampua BI Tekankan matter?Upaya Pengendalian Inflasi di Sulampua BI Tekankan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.