WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan Skema Dana Pensiun untuk Atlet

Published September 10, 2026 · Updated September 10, 2026 · By Anthony Taylor - wartanaya.com

Foto : Anthony Taylor - wartanaya.com

Pemerintah Siapkan Skema Perlindungan Purnakarier bagi Atlet

Wartanaya.com – Pemerintah tengah menyusun formula dana pensiun untuk atlet guna memperkuat jaminan kesejahteraan setelah mereka tidak lagi aktif berkompetisi. Rencana ini mencakup penyiapan instrumen dan landasan hukum agar perlindungan bagi olahragawan dapat berjalan dengan jelas serta berkelanjutan.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyampaikan bahwa pembahasan mengenai kebijakan tersebut telah dilakukan bersama pihak-pihak terkait. Ia menegaskan prosesnya masih dimatangkan sebelum diumumkan lebih lanjut.

“Ada nanti, ada waktunya. Sudah duduk bersama,” kata Erick di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9).

Skema dana pensiun atlet menjadi salah satu perhatian pemerintah karena perjalanan karier di bidang olahraga umumnya memiliki masa produktif yang lebih singkat dibanding banyak profesi lain. Atlet dapat mencapai puncak prestasi pada usia tertentu, sementara kebutuhan hidup tetap berlanjut ketika masa bertanding telah selesai.

Kebijakan ini juga dipandang penting untuk memberi rasa aman kepada atlet yang telah membawa prestasi bagi Indonesia. Perlindungan selepas pensiun dapat membantu mereka menyiapkan transisi menuju pekerjaan, usaha, pendidikan, kepelatihan, atau peran lain di luar arena pertandingan.

Arahan Presiden dan Penguatan Ekosistem Olahraga

Gagasan dana pensiun tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Isu itu dibahas dalam pertemuan Presiden dengan Erick Thohir serta pelatih tim nasional sepak bola Indonesia, John Herdman, di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 19 Juni.

Pertemuan itu tidak hanya menyinggung masa depan finansial atlet. Pemerintah juga membicarakan agenda penguatan pembangunan olahraga nasional, mulai dari pembinaan sejak usia dini sampai dukungan pendanaan pelatihan nasional melalui skema multiyear.

Pembinaan olahraga yang baik memang tidak berhenti pada pencarian medali. Atlet membutuhkan sistem yang mendampingi perjalanan mereka dari tahap pembibitan, masa kompetisi, hingga periode setelah purnakarier. Dana pensiun dapat menjadi salah satu unsur dalam ekosistem tersebut, berdampingan dengan pendidikan, pengembangan keterampilan, serta akses ke peluang kerja.

Perancangan kebijakan ini memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi atlet. Banyak olahragawan bekerja di sektor informal dan tidak memiliki pola pendapatan yang sama seperti pekerja dengan hubungan kerja formal. Karena itu, penerapan dana pensiun bagi atlet tidak bisa langsung menyalin skema yang lazim dipakai perusahaan atau institusi formal.

Salah satu pilihan yang pernah dibahas adalah menyisihkan sebagian bonus atau pendapatan atlet untuk menjadi tabungan masa depan. Pola semacam ini akan membutuhkan aturan yang transparan, mekanisme pengelolaan yang terpercaya, serta penjelasan yang mudah dipahami oleh atlet dan pelatih.

Pembahasan dengan Kementerian Keuangan dan Studi Malaysia

Erick sebelumnya telah membawa rencana tersebut ke pembicaraan dengan Menteri Keuangan. Pada September 2025, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengajukan dana pensiun bagi atlet serta pelatih berprestasi. Usulan itu mempertimbangkan kategori capaian medali di Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games.

Langkah berikutnya dilakukan pada Februari 2026 melalui studi banding dengan Menteri Belia dan Sukan Malaysia, Muhammed Taufiq Johari. Erick membahas praktik program dana pensiun atlet yang telah diterapkan di Malaysia sebagai salah satu bahan dalam menyusun rancangan perlindungan bagi atlet Indonesia.

Studi terhadap pengalaman negara lain dapat membantu pemerintah melihat berbagai kemungkinan model, termasuk cara menentukan penerima manfaat, pengelolaan kontribusi, dan keberlanjutan pendanaan. Namun, rancangan akhirnya tetap perlu menyesuaikan karakter olahraga, sistem pembinaan, serta kondisi pendapatan atlet di Indonesia.

Yenny Wahid Dorong Jaminan Masa Depan Atlet

Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, menyambut positif rencana penyediaan dana pensiun. Ia menilai perlindungan masa depan seharusnya menjadi bagian dari pembinaan atlet, sebab kemampuan fisik dan persaingan di olahraga sangat dipengaruhi usia.

“Karena usia produktif atlet itu sangat terbatas. Mungkin di atas usia 35 tahun sudah berbeda ya, pasti atlet akan menghadapi tantangan dari atlet usia 20 tahun. Belum tentu prestasinya bisa dipuncak kembali, biasanya sekitar 20-an itu puncak prestasi atlet,” kata Yenny di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9).

Bagi Yenny, perhatian terhadap atlet tidak seharusnya berhenti saat mereka meraih prestasi. Pemerintah dan federasi perlu menyiapkan peta jalan yang mendukung stabilitas finansial setelah karier kompetitif berakhir. Dana pensiun menjadi satu pilihan, sementara peningkatan literasi keuangan juga dapat memberi dampak penting.

FPTI belum terlibat dalam pembahasan teknis bersama pemerintah. Meski demikian, Yenny menyatakan federasinya mendukung pembentukan dana pensiun atlet.

“Belum, belum spesifik. Tapi kami sangat mendukung upaya untuk adanya dana pensiun atlet itu,” ujarnya.

Putri kedua Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu melihat atlet perlu dibekali kemampuan mengatur hadiah, bonus, dan pendapatan selama masih aktif. Pemahaman mengenai investasi, kepemilikan aset, dan instrumen keuangan lain dapat membantu pendapatan yang diperoleh di masa produktif tetap memberi manfaat dalam jangka panjang.

Ia memandang negara idealnya memegang peran utama dalam penyediaan dana pensiun. Di sisi lain, sebagian penghasilan atlet dapat dialokasikan secara berkala sebagai simpanan untuk masa depan. Kombinasi perlindungan institusional dan kebiasaan mengelola keuangan dapat memperkuat ketahanan atlet ketika mereka memasuki fase baru dalam hidupnya.

FPTI sendiri telah memulai pelatihan inklusi keuangan bagi para atlet. Program itu diarahkan untuk membantu mereka mengelola pendapatan pada usia produktif agar kebutuhan di masa mendatang dapat dipersiapkan dengan lebih baik.

“Ini harus dibantu agar pemahaman mereka mengenai bagaimana mengelola aset, bagaimana mengelola usia produktif mereka agar bisa terus menghasilkan pendapatan yang baik dan kemudian bisa dipakai sebagai bekal menghadapi masa tua,” ujarnya.

Selain menyiapkan dana pensiun, perluasan jalur karier bagi mantan atlet juga menjadi bagian penting dari perlindungan purnakarier. Pengalaman bertanding, disiplin latihan, dan pengetahuan teknis dapat menjadi modal berharga bagi atlet yang ingin melanjutkan kiprah sebagai pelatih, pembina, pengelola olahraga, maupun di bidang lain.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan?

Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan matter?

Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.