WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Pangan Naik, Kemenkeu Pastikan Standar Gizi Menu MBG Tetap Terjaga

Published Oktober 2, 2026 · Updated Oktober 2, 2026 · By Patricia Thomas - wartanaya.com

Foto : Patricia Thomas - wartanaya.com

Kenaikan Harga Pangan Dinilai Belum Mengganggu Mutu Menu MBG

Wartanaya.com – Pemerintah menilai kenaikan harga pangan saat ini belum mengancam kualitas makanan maupun kecukupan gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penilaian itu disampaikan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di tengah tekanan inflasi yang masih terlihat pada sejumlah bahan kebutuhan sehari-hari.

Juda menyebut laju inflasi masih berada dalam kisaran yang telah diperhitungkan pemerintah, yakni sekitar 2,5% dengan toleransi plus-minus 1%. Dalam rentang tersebut, anggaran dan penyusunan menu MBG dinilai masih mampu menjaga standar gizi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

“Dampak dari inflasi kepada MBG saya kira kalau inflasinya masih 2,5% plus-minus 1% itu masih dalam range kita, tidak akan mempengaruhi kualitas gizinya,” kata Juda dalam Media Gathering Kemenkeu 2026 di Hotel Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10).

Ia menegaskan ruang inflasi yang tersedia masih cukup untuk memastikan makanan yang disajikan tetap memenuhi kualitas yang direncanakan. Artinya, perubahan harga bahan pangan dalam batas tersebut tidak serta-merta mengurangi nilai gizi menu bagi penerima program.

Pengendalian Harga Pangan Tetap Jadi Perhatian

Kendati kualitas MBG diyakini tetap terjaga, pemerintah tetap memandang stabilitas harga pangan sebagai hal penting. Harga bahan makanan berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

“Inflasi ini penting untuk dijaga, terutama yang terkait dengan inflasi pangan yang mengena langsung kepada masyarakat menengah ke bawah. Ini memang benar-benar harus dikendalikan,” ujar Juda.

Pengendalian harga pangan tidak hanya berkaitan dengan biaya penyediaan menu program pemerintah. Stabilitas tersebut juga menentukan kemampuan masyarakat membeli kebutuhan pokok, mulai dari beras, minyak goreng, cabai, ikan, hingga daging.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28%. Indeks Harga Konsumen meningkat dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

Tekanan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mencatat kenaikan harga 4,37% secara tahunan serta menyumbang 1,28% terhadap inflasi September 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa kontribusi kelompok tersebut menjadi yang paling besar dalam perhitungan inflasi tahunan.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,37% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,28%,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).

Komoditas Pangan yang Mendorong Inflasi

Sejumlah bahan pangan tercatat menjadi pendorong utama kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas tersebut meliputi ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi.

Pergerakan harga pangan pada September juga berkaitan dengan kondisi produksi hortikultura. Produksi cabai rawit menurun di sejumlah wilayah sentra, antara lain Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Penurunan produksi cabai merah juga terjadi terutama di Bandung, Garut, serta Malang.

Di sisi lain, produksi bawang merah meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang. Perbedaan kondisi produksi antarwilayah tersebut memperlihatkan bahwa pasokan komoditas hortikultura dapat berubah cepat, sehingga berpotensi memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Secara bulanan, inflasi September 2026 berada pada level 0,30%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong paling besar dengan andil 0,26%. Kondisi ini menunjukkan bahan pangan masih memiliki pengaruh kuat terhadap perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan.

Tekanan Juga Datang dari Transportasi dan Emas

Selain pangan, kelompok transportasi turut memberi tekanan pada inflasi tahunan. Inflasi kelompok ini mencapai 4,84% dengan andil 0,58%. Kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, oli mesin, sepeda motor, biaya perawatan atau servis, serta mobil menjadi faktor utama.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 7,77% dan menyumbang 0,53% terhadap inflasi tahunan. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi unsur yang paling dominan dalam kelompok tersebut.

Jika dirinci menurut komponen pembentuk inflasi, seluruh komponen mencatat kenaikan secara tahunan. Inflasi inti sebesar 2,84% memberikan andil 1,82%, dengan emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta oli mesin sebagai komoditas yang berpengaruh besar.

Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,25% dan menyumbang 0,63%. Bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, serta bahan bakar rumah tangga menjadi kontributor utama pada kelompok ini.

Sementara itu, komponen harga bergejolak mencatat inflasi 5,03% dengan andil 0,83%. Daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi komoditas yang paling menonjol dalam perubahan harga bergejolak tersebut.

Risiko Cuaca Perlu Diantisipasi

BPS juga mengingatkan adanya risiko pada perkembangan harga pangan ke depan. BMKG telah merilis prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi berlanjut hingga awal 2027. Fenomena cuaca ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi produksi dan pasokan komoditas pangan.

“Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan,” ujar Ateng.

Bagi pelaksanaan MBG, stabilitas pasokan dan harga bahan pangan menjadi faktor penting agar standar menu dapat dipertahankan secara konsisten. Pemerintah menilai inflasi saat ini masih berada dalam ruang yang dapat dikelola, tetapi perkembangan produksi, cuaca, dan harga kebutuhan pokok tetap memerlukan pengawasan berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Pangan Naik Kemenkeu Pastikan Standar?

Harga Pangan Naik Kemenkeu Pastikan Standar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Pangan Naik Kemenkeu Pastikan Standar matter?

Harga Pangan Naik Kemenkeu Pastikan Standar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.