WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dari Satelit ke Lapangan, Upaya Triputra Agro Persada Deteksi Dini Karhutla

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Lisa Davis - wartanaya.com

Foto : Lisa Davis - wartanaya.com

Teknologi dan Patroli Lapangan Perkuat Pencegahan Karhutla di Kutai Timur

Wartanaya.com – Kebakaran hutan dan lahan dapat berkembang cepat ketika tanda awal seperti titik panas atau asap tidak segera ditindaklanjuti. Karena itu, kecepatan menemukan potensi api menjadi bagian penting dari strategi pencegahan, terutama di wilayah perkebunan yang memiliki area luas dan membutuhkan pengawasan berkelanjutan.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) menerapkan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) di wilayah operasionalnya. Sistem ini memadukan pemantauan titik panas dari satelit dengan pemeriksaan langsung oleh petugas di lapangan. Tujuannya bukan hanya mendeteksi potensi kebakaran, melainkan memastikan setiap indikasi dapat diverifikasi sebelum berkembang menjadi keadaan darurat.

Informasi Satelit Diperiksa Langsung

Data titik panas diperoleh melalui kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Informasi hasil pemantauan satelit diterima dua kali dalam sehari, kemudian segera disampaikan kepada tim di masing-masing wilayah kerja untuk ditelusuri.

Verifikasi lapangan diperlukan karena titik panas merupakan sinyal yang perlu diperiksa kondisi sebenarnya. Petugas mengecek lokasi yang terdeteksi untuk mengetahui apakah terdapat asap, pembakaran, atau kondisi lain yang berpotensi memicu kebakaran. Dengan alur tersebut, perusahaan dapat mempercepat pengambilan langkah pengamanan ketika ditemukan risiko nyata.

Pemantauan juga tidak berhenti pada teknologi satelit. Tim melakukan patroli di kawasan perkebunan, sementara menara pengawas api dipakai untuk mengawasi kondisi sekitar selama 24 jam. Kombinasi antara pengamatan dari udara, patroli darat, dan pengawasan visual dari menara membantu memperluas jangkauan kesiapsiagaan.

Keberadaan sistem berlapis penting karena kondisi di lapangan dapat berubah. Asap yang terlihat dari menara, temuan patroli, maupun informasi titik panas dapat saling melengkapi untuk memberi gambaran lebih cepat kepada petugas. Pendekatan ini menempatkan deteksi dini sebagai bagian dari upaya pengendalian, bukan sekadar kegiatan pemantauan rutin.

Personel dan Sarana di PT Etam Bersama Lestari

Salah satu penerapan kesiapsiagaan tersebut berada di PT Etam Bersama Lestari (EBL), anak usaha TAP yang beroperasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur. EBL menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung pemantauan dan penanganan potensi karhutla.

Fasilitas yang tersedia mencakup satu gudang pemadam, sembilan posko patroli, 24 menara pantau api, 30 embung, serta tiga drone untuk pengawasan dari udara. Sarana tersebut mendukung kegiatan pengamatan, mobilisasi personel, dan kesiapan pemadaman apabila diperlukan.

Selain peralatan dan infrastruktur, EBL melibatkan 237 personel satuan tugas karhutla. Mereka berasal dari regu inti, tim pendukung, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), serta tim yang menyiapkan sarana dan prasarana pemadaman. Keterlibatan unsur-unsur ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan membutuhkan pembagian peran yang jelas, mulai dari pengawasan hingga kesiapan perlengkapan.

General Manager PT EBL Heri Suhanta Hernanda menyampaikan bahwa pengendalian karhutla dijalankan melalui tiga jalur utama: preventif, promotif, dan kolaboratif. Pendekatan preventif meliputi pelaksanaan SOP pengendalian karhutla, pemetaan area dengan tingkat kerawanan tinggi, serta patroli yang disesuaikan dengan Fire Danger Rating (FDR).

FDR digunakan sebagai acuan untuk melihat tingkat bahaya kebakaran. Dengan mempertimbangkan tingkat risiko tersebut, kegiatan pengawasan dapat diarahkan lebih intensif ke lokasi yang membutuhkan perhatian lebih besar. Pemetaan kawasan rawan juga membantu tim menyiapkan langkah antisipasi secara lebih terfokus.

Pelibatan Warga dan Pemerintah

Upaya promotif dijalankan melalui sosialisasi kepada masyarakat. Langkah ini penting karena pencegahan kebakaran tidak hanya bergantung pada kesiapan perusahaan, tetapi juga pada kewaspadaan warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan perkebunan maupun permukiman.

Sementara itu, kerja sama lintas pihak melibatkan pemerintah kecamatan, aparat keamanan, dan kelompok masyarakat. Bentuk kegiatannya mencakup patroli bersama di area sekitar perkebunan serta permukiman. EBL juga menjalankan pemberian penghargaan Desa Bebas Api sebagai bagian dari upaya mendorong peran komunitas dalam pencegahan.

“Bagi kami, pencegahan karhutla baru bisa berjalan efektif kalau perusahaan, masyarakat, dan pemerintah bergerak dalam satu barisan,” ujar Heri.

Pada Kamis (10/9), EBL bersama unsur pemerintah dan keamanan mengadakan Apel Siaga Karhutla, Sosialisasi, dan Patroli Gabungan di Lapangan Desa Tepian Terap, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut mempertemukan para pihak yang terlibat dalam pengawasan dan pencegahan kebakaran di wilayah tersebut.

Patroli gabungan menyasar sejumlah titik yang dinilai memiliki risiko kebakaran, baik di dekat area operasional maupun di sekitar permukiman warga. Kegiatan ini sekaligus memperkuat koordinasi agar informasi terkait potensi karhutla dapat diteruskan dan ditangani secara cepat.

Pencegahan karhutla pada akhirnya membutuhkan keterhubungan antara data, personel, sarana, dan komunikasi antarpihak. Pemantauan satelit dapat memberi sinyal awal, tetapi pemeriksaan lapangan, kesiapan peralatan, serta keterlibatan masyarakat tetap menentukan efektivitas tindakan di lapangan. Dengan pengawasan yang dilakukan terus-menerus, potensi kebakaran diharapkan dapat dikenali lebih awal sebelum meluas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dari Satelit ke Lapangan Upaya Triputra?

Dari Satelit ke Lapangan Upaya Triputra is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dari Satelit ke Lapangan Upaya Triputra matter?

Dari Satelit ke Lapangan Upaya Triputra matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.