WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BRIN Ungkap 19 Kandidat Herbal Masuk Daftar Obat Tradisional Fitofarmaka

Published Oktober 28, 2026 · Updated Oktober 28, 2026 · By Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - wartanaya.com

BRIN Siapkan 19 Kandidat Herbal Menuju Status Fitofarmaka

Wartanaya.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk memperoleh status fitofarmaka, kategori tertinggi dalam pengembangan obat tradisional Indonesia. Agenda tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rapat terbatas Presiden Prabowo Subianto dengan BRIN di Istana Kepresidenan pada Selasa (27/10).

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa sejumlah kandidat masih menjalani tahapan pengujian sebelum dapat masuk ke kelompok fitofarmaka. Proses ini penting karena produk pada kategori tersebut harus memenuhi pembuktian ilmiah yang lebih lengkap, termasuk pengujian pada manusia.

“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka,” kata Kepala BRIN Arif Satria dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (27/10).

Tiga Tingkatan Obat Tradisional

Fitofarmaka memiliki akar istilah dari bahasa Yunani. Kata phyto merujuk pada tanaman, sedangkan pharmakon berarti obat. Dalam sistem obat tradisional Indonesia, fitofarmaka menjadi bentuk pengembangan yang menuntut standar bahan baku, produk akhir, serta pembuktian keamanan dan manfaat yang lebih ketat.

Pengembangan obat tradisional di Indonesia dibagi ke dalam tiga kelompok. Tingkatan pertama adalah jamu, yang keamanan dan khasiatnya dibuktikan secara uji klinis. Indonesia memiliki lebih dari 12.000 jenis jamu, mencerminkan luasnya pemanfaatan tanaman dan bahan alam dalam tradisi kesehatan masyarakat.

Tahap berikutnya ialah Obat Herbal Terstandar atau OHT. Produk pada kategori ini telah menjalani uji praklinik menggunakan hewan percobaan dan memakai bahan baku yang telah distandarisasi. Saat ini terdapat sekitar 86 OHT di Indonesia.

Fitofarmaka berada pada tahap yang lebih lanjut. Kelompok ini merupakan bagian dari OHT yang telah melewati pengujian praklinik serta uji klinik pada manusia. Bukan hanya bahan bakunya yang perlu terstandarisasi, produk jadinya juga harus memenuhi standar yang ditetapkan. Karena itulah, perpindahan dari OHT menuju fitofarmaka membutuhkan waktu, data riset, dan rangkaian evaluasi yang memadai.

“Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT. Nah, sekarang ingin menuju pada fitofarmaka. Untuk menuju kesana butuh berbagai pengujian, seperti uji klinis, yang saat ini sedang kami lakukan,” ujarnya.

Pengujian Klinis Menjadi Tahap Penting

Uji klinis menjadi salah satu bagian utama dalam pengembangan kandidat herbal BRIN. Tahap ini diperlukan untuk memperkuat bukti penggunaan produk pada manusia, setelah penelitian dan pengujian sebelumnya dilakukan. Standardisasi juga berperan besar agar kualitas bahan serta produk yang dihasilkan dapat dijaga secara konsisten.

Pengembangan fitofarmaka bukan semata soal menambah daftar obat tradisional. Proses tersebut juga berkaitan dengan penguatan riset, pengolahan bahan baku, serta kemampuan Indonesia mengembangkan obat dari sumber daya hayati yang tersedia. Arif melihat potensi obat herbal nasional cukup besar dan menyatakan BRIN akan menggandeng berbagai pihak untuk mempercepat proses pengembangannya.

“Jadi Bapak Presiden juga menekankan bagaimana kemandirian obat ini menjadi hal yang harus segera diwujudkan,” ucap Arif.

Penekanan pada kemandirian obat menempatkan riset herbal dalam konteks yang lebih luas. Produk yang berhasil mencapai status fitofarmaka memerlukan perjalanan dari penelitian bahan alam, penetapan standar, pengujian keamanan, hingga pembuktian klinis. Kolaborasi antarlembaga dapat membantu mempertemukan kebutuhan riset, pengujian, dan pengembangan produk.

Kolaborasi dengan Lembaga Korea Selatan

Pada awal bulan ini, BRIN menjalin kerja sama dengan National Institute of Food and Drug Safety Evaluation (NIFDS), lembaga pengawas obat dan makanan Republik Korea. Kerja sama tersebut membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan herbal medicine antara Indonesia dan Korea Selatan.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) BRIN, Sofa Fajriah, menyampaikan bahwa standardisasi herbal medicine berpotensi menjadi salah satu fokus utama kerja sama kedua negara. Standardisasi dibutuhkan baik untuk kepentingan Indonesia maupun Korea Selatan, terutama ketika pengembangan produk memerlukan kualitas bahan yang dapat diukur secara konsisten.

Selain standardisasi, kerja sama itu juga diarahkan pada studi marker atau senyawa kimia penanda yang diisolasi dari berbagai herbal medicine. Senyawa marker dapat digunakan dalam penelitian untuk membantu mengenali karakteristik bahan herbal yang dikembangkan.

“Fokus riset yang akan kami lakukan pertama adalah terkait dengan standarisasi herbal medicine bagi Indonesia maupun Korea. Kemudian juga melakukan studi terkait marker, yaitu senyawa marker yang akan diisolasi dari beberapa herbal medicine,” kata Sofa dalam siaran pers.

Sofa menambahkan bahwa ruang kerja sama dapat diperluas ke berbagai pengembangan herbal lainnya. Langkah tersebut diharapkan memperkuat hubungan riset Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang herbal medicine, sekaligus menjadi dasar untuk mengenali proyek-proyek yang dapat dikembangkan bersama pada tahap berikutnya.

Dengan 19 kandidat yang sedang dipersiapkan, BRIN menempatkan pengujian, standardisasi, dan kemitraan riset sebagai bagian penting dari perjalanan menuju fitofarmaka. Hasil dari proses tersebut akan menentukan sejauh mana kandidat herbal dapat memenuhi persyaratan sebagai obat tradisional dengan pembuktian yang lebih lengkap.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BRIN Ungkap 19 Kandidat Herbal Masuk?

BRIN Ungkap 19 Kandidat Herbal Masuk is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRIN Ungkap 19 Kandidat Herbal Masuk matter?

BRIN Ungkap 19 Kandidat Herbal Masuk matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.