WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria, Prabowo Minta Kebut Proses Riset

Published Oktober 27, 2026 · Updated Oktober 27, 2026 · By Patricia Thomas - wartanaya.com

Foto : Patricia Thomas - wartanaya.com

BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria

Wartanaya.com – BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria yang tengah dikembangkan melalui riset bersama sejumlah pihak. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menaruh perhatian pada pengembangan vaksin malaria, terutama karena karakter parasit yang ditemukan di Indonesia dapat berbeda dengan yang ada di negara lain.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan terdapat beberapa kandidat vaksin dalam tahap pengembangan. Ia menyebut jumlah kandidat tersebut berada di kisaran lima hingga enam, dengan empat kandidat menjadi bagian dari riset yang sedang mendapat perhatian.

“Ada kurang lebih sekitar lima atau enam kandidat vaksin. Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan Kementerian Kesehatan, kemudian juga dengan Bio Farma,” kata Arif dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (27/10).

Pengembangan vaksin malaria dilakukan melalui kolaborasi BRIN, Kementerian Kesehatan, Bio Farma, dan pihak terkait lainnya. Kerja sama ini penting untuk memperkuat riset, pengujian, serta kesiapan pengembangan vaksin apabila hasil penelitian mencapai tahap yang diperlukan.

Prabowo Minta Riset Vaksin Malaria Dipercepat

Presiden Prabowo Subianto disebut telah menghubungi Arif melalui telepon untuk menanyakan perkembangan riset vaksin malaria. Dalam pembicaraan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya kemandirian vaksin Indonesia dan meminta agar proses penelitian dapat dipercepat.

Arif berharap dukungan pemerintah dapat memangkas waktu pengembangan vaksin hingga tiga tahun lebih cepat dibandingkan target semula. Percepatan riset tetap membutuhkan tahapan ilmiah yang memadai, mulai dari pengembangan kandidat hingga proses pengujian sesuai kebutuhan.

“Kami berharap dengan dukungan dari Bapak Presiden, vaksin ini bisa dipercepat tiga tahun dari seharusnya,” ujarnya.

Menurut Arif, riset vaksin malaria perlu mempertimbangkan karakteristik parasit yang beredar di Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Plasmodium vivax, parasit penyebab malaria yang disebut memiliki karakter berbeda dan belum memiliki vaksin yang tersedia secara luas di dunia.

Karena itu, BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria menjadi perkembangan yang dinilai penting bagi penguatan kapasitas riset kesehatan nasional. Jika kelak dapat diproduksi di dalam negeri, vaksin tersebut berpotensi menjadi kontribusi Indonesia bagi upaya penanganan malaria secara global.

Potensi Kontribusi Indonesia untuk Dunia

Arif menyampaikan bahwa malaria bukan hanya persoalan kesehatan di Indonesia. Penyakit ini juga masih menjadi tantangan di berbagai negara, sehingga pengembangan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan dapat memberi manfaat lebih luas.

“Bapak Presiden tadi menekankan apa sumbangan kita untuk dunia juga, karena malaria tidak sekadar di Indonesia, tapi vaksinnya di dunia tidak ada,” katanya.

Pengembangan vaksin malaria di dalam negeri juga sejalan dengan dorongan untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan. Ketersediaan riset, sumber daya ilmiah, dan kolaborasi dengan industri farmasi menjadi unsur penting agar hasil penelitian dapat memberi dampak nyata.

Situasi Malaria di Korea Selatan

Di tengah perhatian terhadap riset vaksin, kasus malaria juga kembali menjadi sorotan di Korea Selatan. Otoritas kesehatan negara tersebut mengeluarkan peringatan malaria tingkat nasional setelah menemukan parasit penyebab penyakit itu pada nyamuk.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea atau KDCA menyatakan materi genetik Plasmodium vivax terdeteksi pada nyamuk Anopheles yang dikumpulkan di Paju dan Yeoncheon, Korea Selatan bagian utara, pada 27 Juli hingga 2 Agustus.

“Ditemukannya parasit pada nyamuk vektor berarti kemungkinan tertular malaria akibat gigitan nyamuk yang terinfeksi telah meningkat,” ungkap KDCA dalam pernyataannya.

Peringatan nasional tersebut menyusul imbauan terkait malaria yang telah dikeluarkan pada 22 Juni akibat peningkatan jumlah nyamuk vektor. Sebelumnya, peringatan juga diberlakukan di lima wilayah karena adanya klaster kasus dan lonjakan populasi nyamuk.

Meski peringatan nasional diberlakukan, Korea Selatan mencatat 201 kasus malaria yang terinfeksi di dalam negeri sepanjang 1 Januari hingga 1 Agustus. Jumlah itu turun 43,4% dibandingkan 355 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.

FAQ tentang Kandidat Vaksin Malaria BRIN

Apa yang dimaksud kandidat vaksin malaria?

Kandidat vaksin malaria adalah formula atau pendekatan vaksin yang masih berada dalam tahap penelitian dan pengembangan. Kandidat tersebut perlu melalui tahapan riset dan pengujian sebelum dapat digunakan secara luas.

Siapa yang terlibat dalam riset vaksin malaria?

BRIN berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan Bio Farma, dalam pengembangan riset vaksin malaria.

Mengapa riset ini penting bagi Indonesia?

Riset ini penting karena parasit malaria di Indonesia dapat memiliki karakteristik tersendiri. Selain mendukung kemandirian vaksin, pengembangan vaksin malaria berpotensi memberi kontribusi bagi penanganan malaria di tingkat global.

Related Reading