Sepiring Makan Miftah dan Asa JAPFA Melawan Malagizi dari Megamendung
Wartanaya.com – Udara sejuk berangin menyambut ketika Katadata tiba di SDN Sukamanah 01, Megamendung, Kabupaten Bogor, pada Kamis (20/8) lalu. Jauh dari hiruk-pikuk Ibu Kota Jakarta, tak ada kepulan asap kendaraan apalagi deru lalu lintas pagi itu.
Dari balik gerbang sekolah, suara guru terdengar bersahutan dengan suara riuh anak-anak. Terlihat puluhan siswa berseragam olahraga berbaris memenuhi halaman. Tangan dan kaki mereka bergerak mengikuti irama senam pagi. Beberapa tampak begitu bersemangat, sementara yang lain sesekali tertawa dan bercanda dengan teman di sebelahnya.
Di balik aktivitas para siswa, sekolah yang merupakan satu dari tujuh binaan JAPFA for Kids (JfK) di Megamendung, Kabupaten Bogor itu turut dilibatkan dalam upaya JAPFA menekan persoalan malnutrisi pada anak usia dini. Program tersebut menyasar anak-anak di sekitar wilayah operasional perusahaan, terutama mereka yang mengalami kurang gizi.
Program dimulai dengan skrining status gizi siswa bersama puskesmas. Berat dan tinggi badan anak diukur untuk memetakan kondisi gizinya sekaligus mengidentifikasi mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Namun, JAPFA for Kids tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi. Program ini juga mendorong pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolah. Praktiknya hadir dalam keseharian anak-anak, mulai dari pemeriksaan kebersihan kuku hingga membiasakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebelum makan.
Menjelang siang, kotak-kotak Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dibagikan. Anak-anak menyantap makan siang bersama. Katadata berkeliling di antara siswa-siswi, sebagian lauk-pauk di kotak makan itu mulai kosong.
Di antara deretan anak, ada seporsi nasi yang masih utuh dan tak tersentuh sedikit pun. Kotak makan itu milik Miftah, siswa kelas IV SDN Sukamanah 01. Seorang guru, Shalma Aulia menjelaskan Miftah memang tak bisa makan nasi. Bahkan, melihat nasi saja sudah membuat bocah itu takut.
“Pendiem banget anaknya, kami guru juga bingung, gitu. Makanya kami nanya ke orang tua, tapi katanya bener-bener anti banget sama nasi, emang dari bayi enggak bisa,” kata Shalma, Kamis (20/8).
Kondisi Miftah menjadi salah satu potret persoalan gizi yang ditemukan di sekolah tersebut. Dari hasil skrining dan pemantauan, dari sekitar 500 siswa, sebanyak 29 siswa SDN Sukamanah 01 teridentifikasi mengalami masalah gizi dan masuk dalam pemantauan program JAPFA.
JAPFA memberikan tambahan asupan protein kepada 29 siswa tersebut melalui program Satu Hari Satu Telur. Setiap anak mendapat tujuh butir telur omega untuk dikonsumsi setiap hari. Setiap Senin hingga Jumat, orang tua mengolah telur tersebut menjadi hidangan yang dibawa dan disantap anak di sekolah.
Persoalan Miftah yang tak bisa makan nasi mengingatkan Katadata pada anak lain yang pernah penulis temui. Namanya Ardan. Sama seperti Miftah, Ardan pun tak bisa makan nasi sejak balita.
Saat usia satu tahun, melihat nasi saja sudah membuat Ardan (9) takut dan tak berminat makan. Sumber karbohidrat yang menjadi makanan pokok masyarakat di Indonesia itu justru tak bisa dimakan anak kelas dua yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu.
Alih-alih sepiring nasi, penopang energi dan proteinnya sehari-hari ditemani sosis, kentang goreng, nugget, roti, hingga susu. Di usianya yang menginjak 9 tahun, Ardan kini tumbuh dengan berat badan 28 kilogram dan tinggi 130 sentimeter. Namun, urusan makan masih menjadi tantangan tersendiri bagi Ardan yang cukup pemilih soal makanan.
Sang ibu, Sundiana (32) masih ingat betul awal mula putranya menolak nasi. Kala Ardan berusia delapan bulan, ia mengenalkan nasi tim sebagai makanan pendamping ASI, seperti kebanyakan orang tua lain. Tapi Ardan menolak.
"Dia kayak enggak bisa ngunyah, dilepein-lepein gitu, tak paksain aja muntah keluar semua," kenang Sundiana, Minggu (2/8).
Berbagai cara sudah dicoba, mulai dari bubur instan, nasi butiran halus, semua ditolak. Puncaknya, di usia satu hingga satu setengah tahun, melihat nasi saja Ardan ketakutan. Sudiana mengatakan kalau tetap dipaksa, Ardan muntah.
Demi bisa makan tiga kali sehari, Sundiana pun harus memutar otak demi kebutuhan gizi putranya tetap terpenuhi. Masalahnya, selain nasi, Ardan juga tak suka ayam, ikan, daging, hingga sayuran. Alhasil setiap hari Sundiana harus bertanya apa yang ingin dimakan anaknya.
“Dia suka minta roti, nugget, minta digorengin kentang, sama susu,” ucap Sundiana.
Sundiana pun mulai menyetok makanan olahan, hingga nugget menjadi salah satu makanan yang disukai Ardan. Dari sekian banyak merek yang pernah dicoba, favorit nugget yang menurutnya paling "berasa dagingnya", yaitu nugget merek So Good, dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA). Tak hanya nugget, Ardan juga menyukai sosis dari produk So Good.
Menurut sang ibu, rasanya lebih enak dibanding merek lain yang harganya lebih murah. Dalam sekali makan, Ardan bisa menghabiskan tiga hingga lima potong nugget atau beberapa potongan sosis. Untuk pengganti karbohidratnya, Ardan biasanya meminta kentang goreng.
“Dia suka nugget So Good, enak katanya, berasa dagingnya gitu,” ucap Sundiana.
Sementara untuk makanan lainnya, Ardan menyukai telur, roti, buah hingga susu. Salah satu merek susu yang kerap dipilih Ardan adalah Real Good, produk susu dari JAPFA.
“Susunya dia suka Real Good, seringnya beli rasa coklat sama stroberi,” kata Sundiana.
Kebiasaan mengandalkan makanan dari So Good ini sejak 2022 kala Ardan mulai sekolah PAUD dan usianya lima tahun. Kalau untuk bekal sekolah, ia sering kali meminta nugget dan susu untuk makan siang Ardan.
Meski Sundiana mengakui harga nugget-nya itu relatif lebih mahal dibanding beberapa merek lain, ia tetap rela membelinya. Baginya, yang terpenting putranya mau makan. Di tengah keterbatasan pilihan makan itu, Sundiana bersyukur putranya tetap tumbuh aktif dan jarang sakit.
Sundiana mungkin telah menemukan cara agar Ardan tetap mau makan. Namun, persoalannya tak berhenti pada soal kenyang.
Dokter Spesialis Gizi dan Nutrisi MRCCC Siloam Hospital, Inge Permadhi, mengatakan orang tua perlu memastikan makanan yang diberikan kepada anak tetap sehat dan memenuhi kebutuhan gizinya.
Menurutnya, ketika anak menolak jenis makanan tertentu, orang tua perlu mencari alternatif makanan yang disukai anak, dengan tetap memperhatikan cara pengolahan dan memastikan asupan yang cukup.
“Dan jumlahnya harus cukup dan diolah dengan cara yang baik,” kata Inge kepada Katadata.co.id, Senin (10/8).
Inge mengatakan orang tua dapat melihat kecukupan asupan gizi anak dari sejumlah indikator. Pertama, berat dan tinggi badan anak perlu dipantau agar tetap sesuai dengan grafik pertumbuhan berdasarkan usianya. Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan kemampuan anak berkonsentrasi, beraktivitas fisik, dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Menurut Inge, asupan makanan juga memengaruhi kemampuan anak menjalani aktivitas sehari-hari. Ia menyebut kekurangan cairan saja dapat mengganggu konsentrasi, sementara kekurangan protein, karbohidrat, dan lemak dapat membuat anak lemas, kurang aktif, hingga kesulitan berolahraga.
“Jadi semuanya harus dilihat, apakah menjadi anak yang aktif, apakah pertumbuhannya juga sesuai dengan anak seusianya, apakah BAB-nya itu juga normal, itu kan semuanya saling memengaruhi, ya,” ujar Inge.
Selain memastikan kecukupan gizi anak dengan melihat berat dan tinggi badannya, perlu juga diperhatikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Upaya memenuhi kebutuhan gizi anak perlu dimulai jauh lebih dini, dengan membiasakannya mengenal dan menyukai berbagai jenis makanan.
Inge menyebut sesekali Sundiana perlu mengolah daging ayam menjadi bakso, nugget agar protein hewani secara utuh tetap terpenuhi.
Lebih jauh, Inge juga mengatakan anak perlu dibiasakan menyukai makanan pokok, lauk hewani dan nabati, sayur, dan buah agar kebiasaan makan tersebut terbawa hingga dewasa.
Sumber makanan pokok tidak harus selalu nasi. Ia menyarankan orang tua dapat menggantinya dengan ubi, kentang, atau sumber karbohidrat lainnya. Sementara itu, lauk dapat berasal dari ayam, daging, ikan, tahu, tempe, maupun kacang-kacangan. Sayur dan buah juga perlu hadir dalam porsi yang cukup dan beragam untuk memenuhi nutrisi anak.
“Supaya anak suka, berarti dia juga harus dibuatkan oleh orang tuanya. Bagaimana supaya anak ini menyukainya? Apa yang anak suka, nah itu diberikan dan diolah seperti itu,” kata Inge.
Senada, Dokter dari Universitas Andalas, Muhammad Irfan Jamil, mengatakan hal utama yang perlu diperhatikan dalam mendukung tumbuh kembang anak yaitu memastikan asupan nutrisi cukup dan seimbang dan menghindari konsumsi junk food dan fast food.
“Soalnya kalau udah suka hal yang seperti itu, akan susah makan nanti,” kata Irfan kepada Katadata.co.id, Sabtu (15/8).
Irfan mengatakan telur memiliki kandungan protein tinggi yang baik bagi tubuh, salah satunya untuk membantu memperbaiki jaringan tubuh. Kandungan omega dalam telur juga dinilai bermanfaat untuk mendukung perkembangan otak dan sistem saraf anak.
Ia pun menegaskan telur menjadi salah satu sumber nutrisi yang cukup lengkap untuk membantu mengatasi malnutrisi sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.
“Tapi kalau telurnya digoreng pake minyak terus, yang ada naik berat badan naik karena lemak, terus perlu diimbangi juga sama makanan yang lain,” kata Irfan.
Selain itu ia mengingatkan anak juga perlu makan tiga kali sehari. Tidak harus selalu makanan berat, yang penting kebutuhan makan dan nutrisinya tetap terpenuhi. Irfan juga mengatakan Ardan yang berusia 9 tahun memiliki berat badan 28 kg dan tinggi badan 130 cm, masih normal untuk anak laki-laki seusianya.
Ia juga mengingatkan pentingnya rutin mengecek kesehatan dan melengkapi imunisasi anak. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024, imunisasi anak itu dari usia 0–18 tahun. Irfan mengatakan hal itu mencangkup imunisasi booster, catch up, dan imunisasi untuk anak risiko tinggi.
Cerita Miftah dan Ardan menjelaskan pemenuhan gizi anak membutuhkan perhatian sejak dini. Di Indonesia, persoalan pemenuhan gizi anak masih menjadi tantangan. Malnutrisi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam jangka panjang.
Selain itu kondisi masalah gizi di Indonesia masih menjadi perhatian, termasuk pada anak usia sekolah. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 11,9% anak usia 5–12 tahun mengalami gizi lebih, 7,8% mengalami obesitas, sementara 11% berada dalam kondisi gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U.
Kondisi serupa juga tercermin dalam data JAPFA for Kids. Pada 2025, tim Social Investment (SI) JAPFA bersama puskesmas di sembilan lokasi program mencatat 1.034 dari 15.498 siswa atau sekitar 6,7% mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Data tersebut menunjukkan persoalan gizi telah muncul sejak usia sekolah dasar (SD).
Persoalan gizi yang ditemukan JAPFA for Kids rupanya tak hanya berkaitan dengan pola makan anak. Fasilitator JAPFA for Kids Megamendung, Muhammad Trisna Kusuma Wardana (23), mengatakan kondisi keluarga dan ekonomi turut menjadi faktor yang mereka temukan selama pendampingan.
“Status ekonomi ya berpengaruh,” kata Trisna di Bogor, Kamis (20/8).
Dari survei yang dilakukan JAPFA selama program, kata Trisna, terdapat anak penerima manfaat yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ada pula anak yang tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, melainkan diasuh oleh nenek atau kakaknya.
Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang ikut diperhatikan selama pendampingan. Sebab, Trisna menyebut program JAPFA tidak berhenti pada pemberian tambahan asupan berupa telur omega. Guru juga dilibatkan untuk memantau kebiasaan makan anak di sekolah dan memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat dikonsumsi. Upaya membangun kebiasaan tersebut salah satunya dilakukan melalui program JAPFA for Kids (JfK) yang telah berjalan selama 18 tahun
Trisna mengatakan program perbaikan gizi tersebut berjalan selama enam bulan hingga Desember 2026. Salah satu usahanya melalui program satu hari satu telur, dengan setiap anak mendapat tujuh butir telur omega per minggu untuk dikonsumsi setiap hari. Senin hingga Jumat, telur diolah orang tua dan dikonsumsi anak di sekolah sebagai tambahan protein.
Selama enam bulan tersebut, perkembangan anak dipantau melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan juga ada evaluasi hasil pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU). Evaluasi dilakukan pada bulan ketiga hingga keempat.
Jika pertumbuhan anak belum signifikan menuju status gizi normal, JAPFA akan memberikan tambahan protein. Hasil MCU juga menjadi pertimbangan karena riwayat penyakit tertentu dapat memengaruhi proses pertumbuhan anak.
“Itu yang menjadi indikator kami melihat bagaimana atau apa penyebab anak-anak nanti kalau pertumbuhannya kurang signifikan setelah satu bulan dilakukan,” ucap Trisna.
Dalam pelaksanaannya, JAPFA for Kids mengusung prinsip sharing contribution, yakni JAPFA tidak sekadar berperan sebagai donatur, tetapi menjadi mitra yang mendorong sekolah, guru, orang tua, puskesmas, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk terlibat dan berkontribusi aktif dalam mewujudkan tujuan bersama.
Sebelumnya, belum ada program serupa yang masuk ke SDN Sukamanah 01, termasuk dari pemerintah. Kepala SDN Sukamanah 01, Susi Susanti, mengatakan kehadiran program JAPFA mendorong anak-anak untuk makan setiap hari. Terlebih, konsumsi telur harus dilaporkan setiap hari sehingga siswa lebih termotivasi untuk mengonsumsi telur bersama makanan lainnya.
“Sebelumnya anak-anaknya memang kata orang tuanya itu di rumah itu susah makan sekali, jadi terbantu dengan adanya program JAPFA ini,” ucap Susi.
Sekolah juga mengarahkan orang tua untuk memperhatikan asupan makanan anak selama di rumah. Ia menyebut pemenuhan gizi tidak hanya berasal dari telur, tetapi juga perlu dilengkapi dengan menu pendamping lainnya. Sementara di sekolah, kebutuhan siswa sudah didukung melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu yang mencakup makanan pokok hingga buah-buahan.
Tak hanya itu, Susi mengatakan sekolah juga mendorong siswa untuk tetap aktif bergerak. Aktivitas fisik tidak harus berupa olahraga, kata Susi, tetapi dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana seperti naik turun tangga maupun bermain bersama teman saat jam istirahat.
Sejak pertama kali dijalankan pada 2008 hingga 2025, program JAPFA for Kids (JFK) telah menjangkau 201.056 siswa di 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota. JAPFA for Kids 2026 menargetkan pemeriksaan 16.000 siswa di 9 wilayah, yakni Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Sofifi.
Direktur Utama sekaligus Ketua Komite Keberlanjutan Japfa Comfeed Indonesia, Renaldo Santosa menegaskan Japfa berinvestasi pada kecukupan gizi dan ketersediaan pangan untuk membangun generasi muda yang tangguh di masa depan lewat program JAPFA for Kids.
“Komitmen kami terhadap bangsa tidak pernah surut. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, kami berinvestasi pada kecukupan gizi dan ketersediaan pangan demi membangun generasi muda yang tangguh di masa depan,” tulis Renaldo dalam laporan keberlanjutan Japfa, dikutip Senin (10/8).
Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sepiring Makan Miftah dan Asa JAPFA?Sepiring Makan Miftah dan Asa JAPFA is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sepiring Makan Miftah dan Asa JAPFA matter?Sepiring Makan Miftah dan Asa JAPFA matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.