Respons Pemangkasan Pasokan Gas dari RI, PM Singapura Kaji Potensi Energi Nuklir
Respons Pemangkasan Pasokan Gas dari RI, Singapura Kaji Energi Nuklir
Wartanaya.com – Respons Pemangkasan Pasokan Gas dari Indonesia mendorong Singapura memperkuat strategi diversifikasi energi. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan pengurangan pasokan yang berlaku mulai Sabtu (24/10) mencapai 31 miliar British thermal unit per hari atau BBTUD. Volume tersebut disebut kurang dari 2% kebutuhan gas harian Singapura.
Meski jumlahnya relatif kecil, isu ini tetap penting bagi Singapura karena sekitar 95% pembangkit listriknya menggunakan gas alam impor. Selama ini, sebagian gas tersebut dialirkan dari Indonesia melalui jaringan pipa.
Wong mengatakan Singapura telah menyiapkan langkah untuk mengurangi risiko gangguan pasokan. Salah satunya adalah investasi pada terminal gas alam cair atau LNG agar negara itu dapat memperoleh gas dari lebih banyak pemasok, tidak semata-mata bergantung pada aliran gas pipa.
Kami berharap semua pihak memenuhi komitmen mereka, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan Singapura berdasarkan kontrak tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Wong dalam pidatonya pada acara penghargaan dan konferensi Partai Aksi Rakyat atau PAP, Minggu (25/10). Ia menilai ketahanan energi harus dijaga melalui pasokan yang andal sekaligus pilihan sumber energi yang lebih beragam.
Singapura Menelaah Potensi Energi Nuklir
Dalam Respons Pemangkasan Pasokan Gas ini, pemerintah Singapura juga kembali menyoroti kajian energi nuklir. Opsi tersebut dipertimbangkan sebagai salah satu sumber listrik rendah emisi yang berpotensi mendukung kebutuhan energi jangka panjang.
Namun, Wong menegaskan kajian nuklir harus dilakukan secara sangat hati-hati. Luas wilayah yang terbatas dan kepadatan penduduk yang tinggi membuat aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama bagi Singapura.
Ada kekhawatiran mengenai keamanan energi nuklir di negara kecil dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Singapura. Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Dengan demikian, pembahasan energi nuklir masih berada pada tahap pengkajian. Singapura perlu menilai teknologi, kesiapan infrastruktur, keamanan, serta kemampuan sistem energi nasional sebelum mengambil keputusan terkait pemanfaatan nuklir.
Gas dari Natuna dan Sumatra Dialihkan untuk Kebutuhan Domestik
Di Indonesia, pengurangan ekspor dilakukan untuk menjaga pasokan gas domestik, terutama bagi sektor kelistrikan. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto, mengatakan 31 BBTUD gas yang sebelumnya dikirim ke Singapura mulai dialihkan pada Sabtu (24/10).
Volume tersebut berasal dari dua wilayah. Pasokan gas dari Natuna dikurangi 15 BBTUD, sedangkan aliran dari Sumatra berkurang 16 BBTUD. Gas itu dialokasikan untuk mendukung kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Dalam rangka menjaga keandalan pasokan gas dalam negeri untuk kelistrikan, mulai hari ini pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri.
Gas dari Natuna disalurkan kepada PT PLN Batam melalui jaringan pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam. Sementara itu, gas dari Sumatra dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra melalui jaringan pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia.
Evaluasi ekspor dan agenda hilirisasi
Pengalihan pasokan tersebut menunjukkan prioritas pemerintah terhadap keandalan energi dalam negeri. Selain menopang pembangkit listrik, gas domestik juga dipandang penting untuk mendukung pengembangan industri pengolahan dan petrokimia.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut sekitar 30% produksi gas Indonesia masih diekspor. Adapun sekitar 70% telah dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik.
Porsi ekspor itu akan dikaji kembali sejalan dengan kebutuhan gas bagi program hilirisasi. Respons Pemangkasan Pasokan Gas dari Indonesia kepada Singapura pun menjadi bagian dari kebijakan yang menempatkan kebutuhan listrik dan nilai tambah industri domestik sebagai perhatian utama.
FAQ Respons Pemangkasan Pasokan Gas
Berapa pasokan gas Indonesia yang dialihkan dari Singapura?
Pasokan yang dialihkan mencapai 31 BBTUD. Sebanyak 15 BBTUD berasal dari Natuna dan 16 BBTUD berasal dari Sumatra.
Ke mana gas yang sebelumnya dikirim ke Singapura dialokasikan?
Gas tersebut dialihkan untuk membantu memenuhi kebutuhan kelistrikan di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Mengapa Singapura mempertimbangkan energi nuklir?
Singapura menelaah nuklir sebagai salah satu opsi energi rendah emisi dan stabil untuk jangka panjang. Meski begitu, keselamatan menjadi syarat utama karena negara tersebut memiliki wilayah kecil dan penduduk yang padat.