WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Prabowo Ajak BRICS Perkuat Industrialisasi Bersama Hadapi Gejolak Global

Published September 13, 2026 · Updated September 13, 2026 · By Anthony Rodriguez - wartanaya.com

Foto : Anthony Rodriguez - wartanaya.com

Prabowo Dorong BRICS Bangun Industrialisasi dan Rantai Pasok Terpadu

Wartanaya.com – Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara BRICS memperdalam kerja sama industrialisasi, pemanfaatan sumber daya, serta penguatan rantai pasok lintas negara. Gagasan itu disampaikan sebagai respons terhadap ketidakpastian global yang memengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara berkembang.

Dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi BRICS ke-18 di New Delhi, India, Minggu (13/9), Prabowo menekankan bahwa kerja sama yang lebih nyata dapat memberi nilai tambah bagi seluruh anggota. Ia memandang negara-negara BRICS memiliki modal ekonomi, pasar, teknologi, serta sumber daya yang dapat saling melengkapi.

“Izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama. Mari kita mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” kata Prabowo.

Ajakan tersebut menempatkan industrialisasi sebagai bagian penting dari strategi menghadapi gejolak dunia. Ketahanan ekonomi tidak hanya bergantung pada kemampuan suatu negara menghasilkan bahan mentah, tetapi juga pada kapasitas mengolahnya, mengembangkan teknologi, membangun jaringan produksi, dan memastikan barang penting tetap tersedia ketika perdagangan global terganggu.

Risiko Global yang Saling Terhubung

Prabowo menyoroti kebutuhan negara-negara BRICS dan Global South untuk menghadapi ancaman bersama. Perubahan iklim serta bencana alam menjadi tantangan yang dampaknya semakin luas terhadap kehidupan masyarakat, infrastruktur, kegiatan ekonomi, hingga keamanan pangan dan energi.

Bagi Indonesia, persoalan tersebut memiliki dimensi yang sangat nyata. Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire, Indonesia menghadapi beragam risiko alam. Kenaikan permukaan laut, cuaca yang makin ekstrem, serta aktivitas vulkanik menjadi sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.

Kerentanan itu berjalan beriringan dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Cadangan mineral kritis dan unsur tanah jarang, peluang pengembangan energi terbarukan untuk teknologi bersih, serta kawasan hutan yang penting bagi kehidupan global merupakan aset yang dapat mendukung agenda pembangunan. Tantangannya adalah memastikan kekayaan tersebut memberi manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri sekaligus tetap memperhatikan ketahanan lingkungan.

“Kita harus melihat adanya hubungan yang erat antara ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pembangunan nasional,” ujar Prabowo.

Pernyataan itu menegaskan bahwa agenda iklim dan agenda ekonomi tidak dapat dipisahkan. Pembangunan industri membutuhkan energi, bahan baku, tenaga kerja, serta infrastruktur yang andal. Pada saat yang sama, bencana dan perubahan iklim dapat mengganggu pelabuhan, kawasan produksi, distribusi barang, dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.

Menghubungkan Kapasitas BRICS

Presiden menilai Indonesia tidak menghadapi persoalan-persoalan tersebut sendirian. Banyak anggota BRICS dan negara Global South juga berhadapan dengan tantangan yang saling terkait, baik berupa tekanan iklim, kebutuhan investasi, ketergantungan pada rantai pasok tertentu, maupun tuntutan penciptaan lapangan kerja.

Karena itu, Prabowo mengusulkan penggabungan kekuatan melalui integrasi sumber daya, kapasitas manufaktur, kemampuan teknologi, dan akses pasar yang dimiliki masing-masing negara. Pendekatan ini dapat membuka peluang investasi baru, memperluas aktivitas industri, dan meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya yang selama ini belum diolah secara optimal.

Kerja sama semacam itu juga dapat membantu negara anggota memperkuat posisi dalam rantai nilai global. Dalam praktiknya, nilai ekonomi suatu komoditas tidak berhenti pada proses pengambilan bahan mentah. Nilai yang lebih besar dapat muncul dari pengolahan lanjutan, pembuatan komponen, pengembangan teknologi, pengiriman, hingga akses kepada pasar konsumen.

“BRICS pada dasarnya sudah memiliki rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang sudah kita miliki ini dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi kita semua,” imbuh Prabowo.

Pandangan tersebut menyoroti peluang kerja sama yang lebih erat antaranggota, bukan sekadar hubungan dagang biasa. Dengan kapasitas yang saling melengkapi, negara-negara BRICS dapat memperkuat industri, menciptakan kesempatan kerja, dan memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

Empat Pilar KTT BRICS

KTT BRICS ke-18 mengangkat empat pilar utama: ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempatnya menjadi kerangka untuk menghadapi situasi global yang semakin kompleks, termasuk ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi perdagangan, investasi, dan jalur distribusi internasional.

Perdana Menteri India Narendra Modi dalam forum yang sama menyinggung pandemi, bencana terkait perubahan iklim, serta gangguan rantai pasok sebagai contoh krisis yang menunjukkan hubungan antarnegara makin erat. Dampak sebuah gangguan di satu wilayah kini dapat menjalar dengan cepat ke negara lain melalui perdagangan, mobilitas manusia, pasar energi, dan jaringan produksi.

Presiden Cina Xi Jinping juga menyerukan peran BRICS dalam menjaga kestabilan rantai industri dan rantai pasok global. Seruan itu muncul ketika jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan di jalur strategis tersebut dapat menjadi perhatian luas karena pergerakan barang dan energi bergantung pada kelancaran rute perdagangan internasional.

Bagi Indonesia, pembahasan industrialisasi dan ketahanan rantai pasok di BRICS relevan dengan kebutuhan memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Peluang yang tersedia bukan hanya peningkatan perdagangan, melainkan juga kerja sama investasi, transfer kemampuan teknologi, pengembangan industri bernilai tambah, serta penguatan pasar bagi produk-produk yang dihasilkan.

Namun, manfaat kerja sama regional dan global akan sangat bergantung pada kemampuan setiap negara menyiapkan industri, tenaga kerja, infrastruktur, serta kebijakan yang konsisten. Ajakan Prabowo di KTT BRICS menempatkan Indonesia sebagai negara yang ingin mengambil peran lebih besar dalam membangun ketahanan ekonomi bersama di tengah perubahan dunia yang cepat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Prabowo Ajak BRICS Perkuat Industrialisasi Bersama?

Prabowo Ajak BRICS Perkuat Industrialisasi Bersama is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Prabowo Ajak BRICS Perkuat Industrialisasi Bersama matter?

Prabowo Ajak BRICS Perkuat Industrialisasi Bersama matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.