Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh Proses Bisnis
Unilever Perkuat Keberlanjutan sebagai Inti Operasional Bisnis
Wartanaya.com – Upaya keberlanjutan di Unilever Indonesia kini ditempatkan sebagai bagian yang menyatu dengan cara perusahaan menjalankan bisnis, bukan sekadar kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan. Pendekatan ini mencakup rantai nilai dari pemilihan bahan baku, proses manufaktur, penggunaan kemasan, hingga penanganan sampah setelah produk digunakan.
Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, menjelaskan bahwa komitmen tersebut telah dijalankan perusahaan selama lebih dari 20 tahun. Saat ini, perusahaan memasuki tahap ketiga perjalanan keberlanjutannya, dengan penekanan pada penyatuan prinsip lingkungan dan sosial ke dalam pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.
“Yang berbeda pada fase ketiga ini adalah bagaimana kami mengintegrasikan dan melekatkan keberlanjutan ke dalam proses bisnis,” kata Nurdiana pada sesi diskusi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact di acara Katadata SAFE 2026, Kamis (17/09/26).
Pelacakan Bahan Baku hingga Standar Produksi
Langkah keberlanjutan dimulai sebelum produk memasuki pabrik. Sejak 2010, Unilever menerapkan komitmen sustainable sourcing untuk mengetahui asal-usul material yang dipakai dalam produksinya. Pelacakan tersebut penting agar perusahaan dapat menilai apakah bahan yang diperoleh memiliki praktik yang bertanggung jawab bagi pekerja maupun lingkungan.
“Kami mengetahui bahan-bahan yang digunakan berasal dari mana. Dengan begitu, kami dapat memantau apakah bahan tersebut diperoleh dari sumber yang baik bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya.
Prinsip itu kemudian dibawa ke tahap produksi. Standar operasional serta mekanisme penjaminan mutu diterapkan untuk menjaga keamanan dan kualitas barang yang dihasilkan. Bagi perusahaan dengan skala pasar besar, keberlanjutan tidak berhenti pada satu proyek atau satu departemen, melainkan perlu diterjemahkan ke dalam prosedur kerja yang dijalankan secara konsisten.
Indonesia sendiri termasuk dalam lima pasar terbesar Unilever di tingkat global. Posisi tersebut membuat penerapan kebijakan keberlanjutan di dalam negeri memiliki arti penting, baik dalam aktivitas operasional perusahaan maupun pengembangan solusi yang relevan dengan kebutuhan pasar lokal.
Empat Arah Komitmen untuk Kemasan Plastik
Pada aspek kemasan, Unilever menjalankan empat komitmen yang berfokus pada persoalan plastik. Perusahaan berupaya mengurangi penggunaan plastik baru atau virgin plastic, sekaligus menambah pemanfaatan bahan hasil daur ulang dalam kemasan produk.
Selain itu, kemasan didorong agar dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau terurai secara hayati. Komitmen lainnya adalah mengumpulkan serta memproses limbah plastik dalam jumlah yang melampaui plastik yang digunakan perusahaan. Rangkaian langkah ini menempatkan kemasan sebagai bagian dari siklus yang perlu dipikirkan sejak awal, bukan hanya setelah produk sampai ke tangan konsumen.
“Komitmen ini datang dari tingkat global dan diterapkan di semua pasar, termasuk Indonesia,” kata Nurdiana.
Pembahasan soal kemasan menjadi penting karena produk konsumen sehari-hari berinteraksi langsung dengan kebutuhan rumah tangga dan menghasilkan material pascakonsumsi. Karena itu, pengurangan material baru, peningkatan kandungan daur ulang, serta dukungan bagi sistem pengumpulan sampah perlu berjalan secara bersamaan agar manfaatnya tidak berhenti pada desain kemasan semata.
Target Nol Bersih dan Peran Kepemimpinan
Unilever juga menetapkan target emisi nol bersih pada 2039. Sasaran tersebut diterapkan dalam kegiatan pabrik dan menjadi bagian dari akuntabilitas kepemimpinan tertinggi perusahaan. Penempatan target pada level operasional dan pimpinan menunjukkan bahwa agenda iklim diperlakukan sebagai tanggung jawab bisnis yang memerlukan pengawasan berkelanjutan.
Dalam praktiknya, target jangka panjang membutuhkan penerjemahan ke berbagai kegiatan yang dapat dikendalikan perusahaan. Pengelolaan proses produksi, pemilihan material, serta penanganan kemasan menjadi unsur yang saling berkaitan dalam upaya mengurangi jejak lingkungan dari keseluruhan kegiatan usaha.
Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Berbagai Daerah
Di luar pembenahan internal, perusahaan telah bekerja bersama delapan organisasi nonpemerintah di sejumlah wilayah untuk menangani sampah plastik. Kolaborasi ini dimulai pada 2008 dan telah mendukung sekitar 5.000 bank sampah serta 2.900 stasiun isi ulang yang berada di bank sampah maupun titik-titik strategis lain.
Bank sampah dan fasilitas isi ulang memperlihatkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani melalui keterlibatan masyarakat, infrastruktur pengumpulan, serta pilihan penggunaan kembali. Kehadiran sistem semacam ini juga membantu menghubungkan kebiasaan pemilahan dan pengelolaan material dengan peluang nilai ekonomi di tingkat lokal.
Pada 2024, Unilever memperluas penguatan terhadap dua organisasi mitra. Dukungan itu melibatkan Foreign, Commonwealth and Development Office Pemerintah Inggris, serta kerja sama dengan Ernst & Young, GIZ, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Fokusnya adalah meningkatkan kemampuan organisasi lingkungan agar dapat berkembang menjadi pelaku usaha sosial yang mandiri.
“Kami membantu meningkatkan kapasitas mereka agar dapat bertransformasi menjadi wirausaha sosial dan membangun bisnis yang menguntungkan,” kata Nurdiana.
Lima dari delapan mitra tersebut kini telah berkembang sebagai wirausaha sosial. Para penggerak lingkungan di lapangan dinilai memiliki bekal pengalaman yang kuat dalam memahami persoalan sampah, sehingga memiliki peluang untuk membangun kegiatan usaha yang tetap berpijak pada dampak sosial dan lingkungan.
Model usaha yang sehat dapat membantu organisasi menjaga kesinambungan kegiatan tanpa terus-menerus bergantung pada hibah. Ketika pengelolaan sampah memiliki dasar ekonomi yang layak, manfaat bagi lingkungan dapat bergerak sejalan dengan kesempatan pendapatan dan penguatan kapasitas komunitas.
“Keberlanjutan tidak bisa hanya berada di level CSR. Prinsip tersebut harus diintegrasikan dan masuk ke dalam bisnis,” ujar Nurdiana.
Ruang Dialog untuk Ekonomi Berkelanjutan
Katadata SAFE merupakan forum tahunan yang berlangsung sejak 2020 dan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, serta masyarakat. Forum ini menjadi ruang untuk membicarakan tantangan dan peluang dalam membangun perekonomian yang lebih berkelanjutan.
Pada penyelenggaraan ketujuhnya, Katadata SAFE 2026 mengangkat tema The Green Changer. Acara berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD, Jakarta. Melalui forum diskusi, lokakarya, pameran interaktif, dan kolaborasi lintas sektor, kegiatan tersebut mendorong pertukaran gagasan serta langkah nyata bagi ekonomi Indonesia yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh?Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh matter?Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.