WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sektor Utilitas & Listrik, Kunci Percepatan Dekarbonisasi Industri Indonesia

Published Oktober 2, 2026 · Updated Oktober 2, 2026 · By Patricia Miller - wartanaya.com

Foto : Patricia Miller - wartanaya.com

Sektor Utilitas Listrik Kunci Percepatan Dekarbonisasi Industri

Wartanaya.com – Sektor Utilitas Listrik Kunci Percepatan dekarbonisasi industri Indonesia karena listrik digunakan dalam hampir seluruh proses produksi. Peralihan ke peralatan berbasis listrik hanya akan benar-benar menurunkan emisi apabila tambahan kebutuhan daya dipasok dari sumber energi rendah karbon.

Elektrifikasi industri berisiko sekadar memindahkan sumber emisi apabila sistem kelistrikan masih didominasi pembangkit berbahan bakar fosil, khususnya batu bara. Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan penguatan jaringan listrik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda transisi energi.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, menilai kelistrikan merupakan salah satu jalur terbesar untuk mempercepat dekarbonisasi. Menurutnya, peluang tersebut semakin terbuka seiring biaya sejumlah teknologi EBT yang makin kompetitif.

Bauran Energi Bersih Masih Perlu Ditingkatkan

Tantangan utamanya terletak pada komposisi pembangkitan listrik nasional. Porsi EBT dalam bauran listrik masih berada pada kisaran 16% hingga 17%, sedangkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara tetap menjadi sumber energi dominan.

Kondisi ini membuat Sektor Utilitas Listrik Kunci Percepatan transisi industri harus dibarengi perubahan yang terencana, dari pembangunan pembangkit bersih hingga kesiapan transmisi dan distribusi. Pasokan yang andal diperlukan agar industri dapat menggunakan listrik rendah emisi secara konsisten.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) memiliki peran penting untuk memetakan kebutuhan investasi, lokasi pembangkit, dan pembangunan jaringan. Keterbukaan perencanaan juga dibutuhkan agar investor serta pengembang memahami arah pengembangan sistem kelistrikan.

Peran Swasta dalam Infrastruktur Energi Terbarukan

Ketergantungan pada PLN dan pembangkit mandiri masih kuat. Di luar sistem PLN, izin penyediaan tenaga listrik terbatas untuk kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Situasi tersebut menuntut perencanaan yang lebih menyeluruh bagi pengembangan energi bersih.

“Saat ini RUPTL yang terbuka baru milik PLN, sementara wilayah lain sulit dilacak. Pengembangan EBT perlu investasi awal yang besar, sementara kemampuan finansial PLN terbatas, sehingga perlu membuka keterlibatan swasta,” ujar Deon dalam wawancara, Jumat (18/9).

Keterlibatan swasta penting karena proyek EBT memerlukan modal awal besar dan tersebar di berbagai wilayah. Tantangannya tidak berhenti pada pembangunan pembangkit, tetapi juga memastikan listrik yang dihasilkan dapat disalurkan secara andal kepada pengguna.

Deon menilai aturan dan model bisnis untuk transmisi serta distribusi listrik terbarukan masih belum memadai, terutama bagi proyek swasta. Skema kerja sama antarpelaku usaha perlu diperjelas seiring bertambahnya jumlah proyek dan meluasnya lokasi pengembangan EBT.

“Eksekusi pembangkit EBT swasta perlu diperbaiki karena jumlahnya menjadi semakin besar dan proyek EBT juga tersebar sehingga perlu diatur skema business to business,” kata Deon.

Komitmen Perusahaan dan Peluang Teknologi Bersih

Data Katadata ESG Insight (KESGI) pada 2026 menunjukkan 84,54% perusahaan sektor utilitas dan kelistrikan telah memiliki pengelolaan emisi. Sebanyak 14,06% perusahaan juga telah menjalankan strategi transisi iklim.

Namun, penilaian aspek lingkungan sektor ini masih berada pada rentang skor 50 hingga 60. PT Geothermal Energy Tbk memperoleh nilai tertinggi sebesar 66, diikuti PT Cikarang Listrindo Tbk dengan skor 62 dan PT Barito Renewables Energy Tbk dengan skor 60.

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dapat membantu memperluas pasokan listrik bersih dengan biaya kompetitif. Indonesia memiliki potensi PLTS hingga 3.300 gigawatt (GW) yang masih dapat dikembangkan. Untuk kebutuhan industri di luar jaringan PLN, pemanfaatan PLTS juga memerlukan baterai agar pasokan tetap stabil ketika produksi surya berubah mengikuti sinar matahari.

FAQ Sektor Utilitas dan Dekarbonisasi Industri

Mengapa sektor utilitas listrik penting bagi industri rendah emisi?

Karena listrik menjadi sumber energi utama bagi banyak proses produksi. Ketika listrik berasal dari EBT, industri dapat mengurangi emisi saat mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan teknologi berbasis listrik.

Apa hambatan utama pengembangan EBT untuk industri?

Hambatannya mencakup kebutuhan investasi awal yang besar, kesiapan transmisi dan distribusi, kepastian aturan bagi proyek swasta, serta kebutuhan baterai untuk menjaga keandalan pasokan dari energi surya.

Bagaimana Sektor Utilitas Listrik Kunci Percepatan transisi energi?

Percepatan dapat dilakukan melalui perencanaan kelistrikan yang terbuka, peningkatan porsi EBT, pembangunan jaringan yang memadai, dan model kerja sama yang memberi ruang bagi investasi swasta.

Related Reading