WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik Akhir MRT Jakarta

Published September 12, 2026 · Updated September 12, 2026 · By Patricia Miller - wartanaya.com

Foto : Patricia Miller - wartanaya.com

MRT Jakarta Perluas Peran Stasiun Menjadi Penggerak Kawasan

Wartanaya.com – Peran MRT Jakarta kini diarahkan melampaui layanan perjalanan antarstasiun. PT MRT Jakarta (Perseroda) menempatkan area di sekitar jaringan kereta sebagai ruang ekonomi dan sosial yang dapat terus diaktifkan, sehingga stasiun tidak hanya berfungsi sebagai titik naik dan turun penumpang.

Pengembangan itu dijalankan melalui konsep transit-oriented development (TOD) serta placemaking. Dua pendekatan tersebut dipakai untuk membangun kawasan yang mudah diakses oleh pengguna angkutan umum, sekaligus memiliki kegiatan yang membuat masyarakat ingin datang, berinteraksi, dan kembali berkunjung.

Blok M menjadi salah satu kawasan yang telah dihidupkan melalui aktivitas tersebut. Selanjutnya, MRT Jakarta menyiapkan perluasan pengembangan ke Kota Tua dan Glodok. Rencana ini berkaitan dengan pembangunan jalur MRT menuju wilayah tersebut yang ditargetkan selesai pada penghujung 2029.

Kota Tua dan Glodok Tetap Menjaga Karakter Sejarah

Pengaktifan Kota Tua tidak dimaksudkan menghapus ciri historis kawasan. Sebaliknya, identitas yang telah melekat di wilayah itu akan dipertahankan sambil dipadukan dengan kegiatan perdagangan, komunitas, dan aktivitas publik lainnya.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R Samuel Ryan Pradipta Pranowo menyampaikan bahwa pengembangan kawasan perlu menghasilkan kehidupan ekonomi yang berkelanjutan, bukan sebatas proyek fisik di sekitar stasiun.

"Lalu kami juga mengembangkan bisnis TOD, area di sekitar stasiun, yang salah satunya Blok M tadi. Dan mudah-mudahan segera area Kota Tua, itu akan kami revitalisasi juga," ujar Samuel dalam paparannya bertajuk “Mengembangkan Kawasan sebagai Platform Kolaborasi dan Aktivasi” di Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Dalam rancangan Kota Tua dan Glodok, unsur warisan kawasan seperti nuansa Chinatown dan Little Amsterdam tetap menjadi bagian utama. Pengunjung diharapkan dapat menikmati karakter sejarah tersebut bersamaan dengan keberadaan tenant, kegiatan kreatif, serta ruang bagi komunitas lokal.

"Heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya," katanya.

Strategi Bisnis di Luar Perjalanan Kereta

Arah baru ini masuk dalam strategi Business Beyond Normal. MRT Jakarta berupaya memperbesar sumber pendapatan yang tidak bergantung hanya pada perjalanan penumpang. Ruang pertumbuhan tersebut mencakup pengembangan TOD, layanan ritel, produk digital, sektor pariwisata, penyelenggaraan acara, serta kerja sama dengan berbagai komunitas.

Sebelumnya, aktivitas bisnis MRT banyak terkonsentrasi di dalam lingkungan stasiun, termasuk penjualan tiket, media iklan, dan unit ritel. Kini, perusahaan melihat peluang yang lebih luas melalui ekosistem di luar area stasiun. Pendekatan ini juga mencakup kemitraan perjalanan first mile-last mile, pengelolaan tenant, pembayaran digital, layanan terkait wisata, aktivitas gaya hidup, hingga jasa konsultasi perkeretaapian.

Konsep first mile-last mile penting karena perjalanan pengguna angkutan umum tidak berhenti saat kereta tiba. Akses dari rumah atau tempat kerja menuju stasiun, serta perjalanan dari stasiun ke tujuan akhir, menentukan kenyamanan penggunaan transportasi publik. Karena itu, pengembangan kawasan yang terhubung dapat memperkuat pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Pertumbuhan usaha tersebut berlangsung di tengah peningkatan pendapatan perusahaan. Sepanjang 2025, PT MRT Jakarta membukukan pendapatan Rp1,5 triliun, atau sekitar 7% lebih tinggi daripada tahun sebelumnya. Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia menyatakan peningkatan jumlah pengguna MRT dan kontribusi bisnis non-tiket menjadi pendorong pertumbuhan itu.

Pada periode 2021 hingga 2025, pendapatan tiket atau farebox tumbuh rata-rata 50,4% setiap tahun. Sementara pertumbuhan rata-rata pendapatan perusahaan secara keseluruhan tercatat 2,3% per tahun. Pemasukan MRT Jakarta berasal dari tiket, subsidi pemerintah, serta pendapatan non-farebox.

Pengembangan kawasan memberi jalur tambahan bagi perusahaan untuk memperkuat penerimaan di luar layanan perjalanan. Namun, nilainya tidak hanya dinilai dari pendapatan langsung. Kawasan yang aktif juga berpotensi menciptakan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha, tenant, penyelenggara acara, serta komunitas yang memanfaatkan ruang publik.

Placemaking dan Arti “Ruang Ketiga”

Dalam penerapannya, placemaking bukan sekadar memperindah trotoar, menyediakan tempat duduk, atau membangun fasilitas baru. Pendekatan ini menekankan pembentukan ruang yang mempunyai identitas jelas, aktivitas yang beragam, dan keterhubungan dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Samuel menggambarkan placemaking sebagai cara menciptakan sekaligus mengelola “ruang ketiga”. Istilah ini merujuk pada tempat selain rumah dan kantor, tempat warga dapat berkumpul, melakukan kegiatan, atau menikmati waktu luang. Agar berfungsi baik, ruang tersebut perlu terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat dan memberi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat.

Keberhasilan sebuah kawasan tidak cukup diukur dari jumlah bangunan atau besarnya arus orang yang melintas. Kawasan perlu memiliki suasana dan kegiatan yang mendorong orang tinggal lebih lama. Ketika warga datang bukan semata-mata untuk melakukan transaksi, melainkan untuk bertemu, menghadiri acara, menikmati ruang, atau mengeksplorasi area sekitar, sebuah kawasan memiliki peluang lebih besar untuk hidup secara berkelanjutan.

Aktivitas ekonomi kreatif dan festival di Blok M memperlihatkan arah yang ingin dibangun MRT Jakarta. Dampak sebuah acara tidak terbatas pada transaksi di lokasi kegiatan, tetapi dapat menjalar ke kunjungan ke toko, tempat makan, layanan transportasi penghubung, dan usaha lain yang berada di sekitarnya.

Dengan jaringan MRT yang terus dikembangkan, stasiun diposisikan sebagai pintu masuk menuju pengalaman kawasan yang lebih lengkap. Kota Tua dan Glodok nantinya diharapkan dapat mempertahankan memori sejarahnya sambil memperoleh energi baru dari mobilitas publik, aktivitas komunitas, dan kegiatan ekonomi yang terhubung dengan transportasi massal.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik?

Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik matter?

Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.